PERNAH EUREUP-EUREUP SAAT TIDUR? INILAH PENYEBABNYA!

Eureup-eurep atau ketindihan sepertinya pernah dialami oleh setiap orang. Saat eureup-eurep, kita akan merasa tidak bisa bergerak, berteriak, apalagi terbangun. Panik pun menyerang karena seolah akan mati. Kenapa bisa seperti itu? Inilah penyebab eureup-eurep saat tidur.

Ketindihan atau eureup-eurep (Bahasa Sunda) atau ‘dierep-erep’ (Bahasa Jawa) dalam bahasa medis disebut sebagai ‘sleep paralysis’ atau lumpuh saat tidur.

“Penyebabnya sebenarnya akibat kita kurang tidur secara ekstrem,” kata dr.Andreas Prasadja RPSGT, spesialis tidur. Ia menjelaskan, tahapan tidur yang normal terdiri dari tidur ringan, sedang, dalam, dan tidur mimpi. Tahapan tidur mimpi (REM) ini adalah yang terpenting bagi otak manusia.

Ieu rame lur: INI DIA BIAYA PENYELENGGARAAN TSC ! FANTASTIS LUR !

Kalau kita kurang tidur, tambah Andreas, misalnya 2-3 hari begadang, maka malam berikutnya kita akan tidur panjang. Ini adalah mekanisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan tidur. Istilahnya adalah REM rebound. Dan ketika kita kurang tidur ekstrem, bisa terjadi saat tidur kita langsung masuk ke tahap tidur mimpi. Dalam tahapan tidur ini, otot-otot berada dalam kondisi yang sangat lemah, ini adalah mekanisme alami supaya badan kita tidak bergerak-gerak mengikuti mimpi.

Secara garis besar, ada dua hal khas yang biasanya terjadi akibat kita langsung masuk ke tahap REM: halusinasi dan ketindihan. “Kalau ekstrem sekali kurang tidurnya, akan terjadi tumpang tindih gelombang otak terjaga dan mimpi. Jadi setengah sadar dan setengah mimpi. Karena setengah sadar ini biasanya akan terjadi halusinasi,” kata Andreas.

Jenis halusinasinya berbeda-beda sesuai dengan budaya, tapi menurut Andreas, hampir semuanya melihat sosok lain di kamar. “Kalau masyarakat kita biasanya melihat sosok hitam atau hantu, tapi kalau di budaya barat ada yang melihat alien, dan sebagainya,” katanya.

Sementara ketindihan, saat kita setengah tidur dan setengah mimpi, otak sebenarnya sudah keluar dari fase REM, tapi tubuh masih seperti lumpuh. Tidak bisa menggerakkan tubuh, bahkan untuk sekedar berteriak, tentu menimbulkan rasa panik. Ditambah lagi kita berhalusinasi melihat sosok lain di kamar tidur yang dikira hantu.

Yang perlu kita ketahui, lumpuh saat tidur atau ketindihan tidak membahayakan nyawa. “Kalau hanya terjadi sekali-sekali, luangkan waktu yang cukup untuk tidur,” kata Andreas. Tapi jika ketindihan sering dialami, ada baiknya kita pergi ke dokter. Bisa-bisa kita sedang dilanda kurang tidur parah.

“Padahal fase tidur REM itu sangat penting manfaatnya untuk otak, baik untuk kecerdasan, mental, dan emosional,” pungkas Andreas. (Bobotoh.id/RCK/Intisari-online.com)

 

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.