SIMPOSIUM TRAGEDI 1965 DITUTUP MEMÉRÉ 3 REKOMENDASI!

Secara resmi, Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965, melalui Pendekatan Kesejarahan” secara resmi ditutup pada Selasa petang kemarin (19/4/2016). Simposium Nasional yang diadakan di hotel Aryaduta Jakarta itu diprakarsai oleh oleh Dewan Pertimbangan Presiden, Komnas HAM, Forum Solidaritas Anak Bangsa (FSAB), serta didukung oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan.

Pada acara penutupan, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Sidarto Danusubroto, saat membacakan refleksi simposium, menyebut keterlibatan negara pada konflik kekerasan masa lalu.”Kami mengakui adanya konflik horizontal dan mengakui adanya keterlibatan negara,” ucapnya. Sidarto mengharapkan kebesaran jiwa dari berbagai pihak menyikapi kasus pelanggaran hak asasi manusia itu.

Ieu rame lur: IEU JERSEY 18 TIM PESERTA TSC 2016! TERMASUK PERSIB!

Dia berkata, Tragedi 1965 telah menimbulkan korban dalam skala besar. Korban, kata Sidharto, mencapai belasan ribu. Mereka disiksa, dipenjara tanpa alasan atau menjadi tahanan politik serta dirampas haknya sebagai warga negara.

Seperti diberitakan oleh CNNIndonesia.com, Sidharto kemudian menuturkan, rekomendasi simposium akan disusun oleh tim perumus. Rekomendasi itu, ucapnya, akan memuat tiga poin yakni rekonsiliasi, rehabilitasi dan kewajiban negara melindungi warga negaranya. “Saya harap simposium ini merekomendasikan rehabilitasi umum kepada korban HAM, supaya hak sipil mereka dipulihkan dan dikembalikan,” kata Sidarto.

Sementara di kesempatan terpisah, Ariel Heryanto, sosiolog Indonesia yang menjabat satu guru besar di School of Culture, History and Language, The Australian National University, Australia menyatakan bahwa “Peristiwa 1965 merupakan bukti gagalnya Negara mengelola masyarakat yang majemuk dan saling bertikai tidak sebatas ranah politik. Bukan sekedar gagal, apabila aparatnya tidak hanya mendiamkan kekerasan massal antarwarganya. Bila aparat ikut terlibat dalam konflik bersenjata itu, mereka telah melakukan kejahatan.

Usai refleksi penutupan, para peserta saling bersalaman. Tidak sedikit korban Tragedi 1965 menitikan air mata. (Bobotoh.id/RCK/Foto:wikipedia)

[socialpoll id=”2325282″]


 

[socialpoll id=”2352373″]

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.