GÉGÉL JUBLEG, CARA SENIMAN GARUT NYINGSIEUNAN PENJAJAH!

Bobotoh mungkin masih merasa asing mendengar seni Gégél Jubleg. Tentu saja karena kesenian yang berasal dari Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut ini sempat tenggelam sebelum akhirnya dibangkitkan lagi pada tahun 2011 yang lalu.

Seni Gégél Jubleg merupakan atraksi multiseni yang lahir pada masa penjajahan, di mana menurut sejarahnya, diciptakan oleh Bah Ukri pada masa sebelum kemerdekaan. Menurut Gun Gun Nugraha, seorang penggerak seni karuhun di Kecamatan Cisewu, seni ini pada mulanya dimaksudkan untuk menakuti-nakuti penjajah pada masa itu.

“Jubleg saja yang begitu berat dan keras sanggup diangkat dengan digigit, apalagi kalau yang digigitnya manusia. Penjajah kan jadi takut,” kata Gun Gun seperti diberitakan dalam Infogarut.co.id.

IEU RAMÉ LUR: 63% BAJU YANG DIBELI ONLINE DIBALIKKEUN DEUI KE PEDAGANG!

Jubleg atau ‘lisung’ atau lesung dalam bahasa Indonesia adalah perangkat yang biasanya terbuat dari batu yang beratnya bisa mencapai 25 kg. Jubleg ini digunakan untuk menumbuk beras atau jagung untuk dijadikan tepung dengan menggunakan ‘halu’ atau alu sebagai penumbuknya.

Perkembangan seni Gégél Jubleg timbul tenggelam. Pernah menapaki masa kejayaan pada 1990-an, namun kemudian lenyap bersamaan dengan sejumlah jenis seni tradisi Sunda lainnya.

Baru pada 2011-an, seni Gégél Jubleg kembali tampil mewarnai jagat kesenian tradisional di Garut. Kendati kesempatan pementasannya masih sangat terbatas dalam event- event tertentu. (Bobotoh.ID/RCK. Foto:InfoGarut.co.id)

[socialpoll id=”2333295″]


[socialpoll id=”2363241″]

Komentar

Ricky Nugraha

Bobotoh Persib, Pecinta Kucing, Kopi dan Fotografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.