ITIKAF NGAJEMPUT LAILATUL QODAR DI ROMADHON!

Hanya dalam hitungan jam kita akan memasuki hari ke-10 terakhir dalam bulan Romadhon. Atau biasa umum menyebutnya sebagai ‘babak final’ bila diibaratkan sebagai pertandingan olah raga. Masyarakat Sunda bisa menyebut malam 10 terakhir sebagai malam ‘lilikuran’, di mana hari ke-21 disebut malam salikur, malam ke- 2 sebagai malam dua likur, ke tiga sebagai tilu likur dan seterusnya.

Pada 10 malam terahir ini kita seharusnya memaksimalkan kualitas dan intensitas ibadah di bulan Romadhon. Apalagi di 10 malam terakhir bulan romadhon ada satu malam yang dsebut dengan malam ‘lailatul qodar’.

IEU RAMÉ LUR: RUMPUT STADION GBLA KEUR DICÉBOR, IEU 3 FOTONA!

Untuk menyambut lailatul qodar, sangat dianjurkan oleh Nabi SAW adalah melakukan i’tikaf. I’tikaf artinya tinggal di masjid dengan niat tertentu dan dengan tata cara tertentu. Adapun masjid yang bisa kita gunakan adalah masjid yang biasa dipakai sholat Jum’at maupun tidak, seperti misalnya musholla.

I’tikaf ini dianjurkan dimulai pada malam 21 setelah magrib, lalu setelah subuh dianjurkan masuk ke dalam tenda atau ruang bersekat di sekitar area masjid/musholla.
Adapun rukun i’tikaf adalah sebagai berikut:
1. Niat.
2. Dilakukan di masjid, baik masjid untuk jumatan mauapun yang tidak digunakan untuk jumatan.
3. Menetap di masjid.

Sedangkan I’tikaf bisa batal bila
1. Hubungan biologis dan segala pengantarnya.
2. Keluar masjid tanpa kebutuhan yang dibenarkan.
3. Haid dan nifas.
4. Gila atau mabuk.

Adapun hal-hal ini yang diperbolehkan ketika i’tikaf

1. Keluar masjid karena kebutuhan mendesak, seperti: makan, buang hajat, dan hal lain yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.
2. Mengeluarkan sebagian anggota badan dari masjid.
3. Makan, minum, tidur, dan berbicara.
4. Wudhu di masjid.
5. Bermuamalah dan melakukan perbuatan (selain ibadah) di masjid, kecuali jual beli.
6. Menggunakan minyak rambut, parfum, dan semacamnya.
Hal-hal berikut menjadi makruh ketika i’tikaf

1. Menyibukkan diri dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, baik ucapan maupun perbuatan.
2. Tidak mau berbicara ketika i’tikaf (iktikaf), dengan anggapan itu merupakan bentuk ibadah. Perbuatan ini termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Sedangkan mandi ketika i’tikaf, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seperti ditulis dalam Islampos.com mengatakan bahwa hukum mandi ketika i’tikaf dibagi menjadi
tiga:

1. Wajib, yaitu mandi karena junub.
2. Boleh, yaitu mandi untuk menghilangkan bau badan dan kotoran yang melekat di badan.
3. Terlarang, yaitu mandi sebatas untuk mendinginkan badan.

Nah Bobotoh, sebelum Romadhon berakhir, mari kita sempatkan untuk mengintensifkan ibadah kita. Semoga Alloh memudahkan langkah kita. (Bobotoh.id/RCK)

 

[socialpoll id=”2361441″]


[socialpoll id=”2369476″]

Komentar

Ricky Nugraha

Bobotoh Persib, Pecinta Kucing, Kopi dan Fotografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.