REPUBLIK MAUNG: HARUS BELAJAR KE INGGRIS!

Edwin Kurniawan

Sabtu 27 Agustus 2016 tepat sore itu di Bumi Parahyangan, yang katanya ‘big match’ mempertemukan dua kesebelasan dari Bandung dan Malang. Ya! Bandung bertemu dengan Arema Cronus untuk bermain di Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung.

Laga yang diharapkan publik akan memberikan kemenangan, ternyata hasil seri yang terjadi di sore itu. Pertandingan yang hampir gagal di gelar di Bandung itu memang ramai dibicarakan setelah berakhirnya pertandingan. Apalagi ada kreatifitas yang dibatasi, soal arogansi pihak keamanan, soal sulitnya mencari tiket, soal semangat dan suasana tribun, soal korban mobil baracuda aaah mungkin masih banyak lagi yang terjadi di sore itu.

IEU RAME LUR: ETIHAD STADIUM DI MATA BOBOTOH! INI FOTO-FOTONYAH!

Tapi ada satu hal yang mau ingin disorot dan dibahas, yaitu tentang seperti apa seharusnya pihak keamanan dalam mengamankan jalannya pertandingan.

Dimulai dengan dilarangnya kreativitas di Tribun Timur yang sudah merencanakan untuk mengibarkan 5000 buah bendera. Pada awalnya tidak ada masalah. Panpel pun sudah mengijinkan dan mengeluarkan izin tertulis. Tetapi setelah bendera tersusun rapih di kursi tribun, aparat memandang lain kreativitas teman-teman di Tribun Timur.

Para petugas keamanan memandang bendera kecil dan segagang kayu kecil itu sebagai hal yang berbahaya. Maka dengan alsan untuk keamananlah koreografi 5000 bendera tersebut dibatalkan!

Hal tersebut mengusik pertanyaan. Apakah persiapan yang sudah matang dan sudah ada izin tertulis dari pihak panpel bisa batal begitu saja hanya karena dinilai akan mengganggu jalannya kenyamanan dan sekali lagi adalah karena alasan keamanan?

Sepertinya pihak panpel dan keamanan tribun/stadion sepakbola negeri ini harus banyak belajar banyak ke luar negeri sana. Sebagai contoh contoh sepak bola di Inggris sana. Di negeri yang terkenal dengan hooliganismenya. Supporter mereka juga sering melakukan kerusuhan.

Perlu kita garisbawahi adalah bukan semua orang yangg masuk ke stadion di Inggris datang untuk tidak untuk membuat keributan. Tetapi cara pihak keamanan di dalam stadion sana menjaga tertibnya supporter saat pertandingan berlangsung yang harus kita contoh.

Stadion-stadion di Inggris adalah tidak memiliki punya pagar pembatas antara tribun penonton dengan lapangan. Jarak bangku penonton dengan lapangan tidak lebih dari 5 meter. Hal tersebut diberlakukan bukan karena penonton Liga Inggris pada baik dan tertib, tapi justru karena penontonnya bengal dan brutal!

Kenapa bisa? Penonton brutal kok tidak dikasih pagar pembatas? Untuk itu silahkan teman-teman mencari tahu kenapa FA menerapkan hal seperti itu. (Untuk hal ini redaksi Bobotoh.id pernah menurunkan tulisan tentang sepak bola di Inggris. bisa di-klik di sini, Red.)

Di sana pasukan keamanan pun tidak boleh secara terang-terangan hadir di dalam stadion. Mereka harus hadir tetapi dengan pakaian penyamaran. Hanya steward atau pengaman pertandingan di dalam stadion saja yang boleh terlihat aktif supporter.

Hal itu mungkin bisa diterapkan untuk pengamanan sepakbola di Indonesia. Karena secara tidak langsung berhadapan dengan orang berseragam akan menimbulkan ‘rasa’ yang berbeda pada setiap supporter.

Silahkan hukum supporter yang anarkis. Tetapi jangan pernah arogan atas alasan “demi sebuah keamanan”. Karena kehadiran petugas keamanan sejatinya adalah untuk mengamankan pertandingan. Bukan untuk membatasi kreatifitas atas sebuah alasan keamanan.

Sebagai warga negara kami para Bobotoh hanya berharap: Bersikaplah melindungi dan mengayomi, bukan menghakimi!

Luapan semangat Edwin Kurniawan yang berkhidmat di akun @ultras33bogor.
Foto: Pertandingan Manchester City vs West Ham United kiriman Riki Toriqul Mujib

Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan di rubrik Republik Maung ini dengan tidak mengurangi atau menambah esensinya.
Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA
Redaksi mengajak Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh@gmail.com

Komentar

Ricky Nugraha

Bobotoh Persib, Pecinta Kucing, Kopi dan Fotografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.