KOMEN TER HARI INI…SHOHIEB AHMAD NASRUDDIN!

Bobotoh.ID kembali memilih siapa yang memberikan ‘komen ter… hari ini, Jum’at, (23/9/2016). Salah seorang terpilih setelah mengomentari sebuah postingan berita pada Fans Page Facebook BobotohID, yakni “REPUBLIK MAUNG: #PONJABARKACAU, SENTIMEN DANGKAL DAN POLITIS!”.

Siapakah dia? Bobotoh ini bernama Shohieb Ahmad Nasruddin. Ia berkomentar “mudah2an penyelenggaraan bagus teh henteu pas berlangsungna hungkul. sanggeusna ge pas bisi pemeriksaan dugaan korupsi dll moal aya.,” komentar Shohieb di boks komentar postingan terkait.

Ieu rame lur: NYANGHAREUPAN JADWAL PADAT, INI KATA DJAJANG !

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Beberapa hari yang lalu, dunia maya di kalangan pemerhati PON Jabar 2016 diramaikan dengan tagar #PONJabarKacau. Apalagi di kalangan para pendukung provinsi DKI Jakarta yang notabene merasa “didzalimi” oleh pergelaran PON Jabar 2016.

Bahkan sekaliber menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, ikut-ikutan berkomentar tanpa data dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan dengan memprovokasi melalui akun twitter-nya yang mengatakan, “Curang di Tanah Legenda.” namun apakah demikian?

Tak ada yang salah ketika Jawa Barat berambisi untuk menjadi juara umum di Pekan Olahraga Nasional XIX 2016 dengan memilih tagline #JabarKahiji sebagai pemicu semangat para kontingen.Begitu pula dengan sang juara bertahan DKI Jakarta dengan jargon #DKIjaya atau Jateng dengan #JatengGayeng. Namun bukan berarti Jabar harus melakukan segala cara agar menjadi “Kahiji” di Tanah Legenda.

Apabila membandingkan PON Jabar dengan dua kali pergelaran PON sebelumnya, yaitu PON Kaltim 2008 dan PON Riau 2012, tentu kita akan tahu siapa yang lebih baik dalam menyelenggarakan PON. Tanpa harus membayar orang-orang di pinggir jalan dan menggiringnya masuk kedalam stadion untuk meramaikan “Opening Ceremony PON”.

PB PON Jawa Barat malah kewalahan dengan antusiasnya warga dan Jabar yang ingin menyaksikan pergelaran 4 tahunan itu. Sosialisasi PB PON berhasil bukan? Kacau kah?

Oke kita bahas satu per satu permasalahan yang terjadi di PON Jabar akhir-akhir ini. Agar kita tahu bahwa jempol tangan orang-orang jahil terhadap Jawa Barat berhasil mempermalukan tuan rumah dengan penilaian yang sangat dangkal dan subjektif, bahkan sangat bermuatan politis.

Pertandingan Sepakbola antara Jawa Barat Melawan DKI Jakarta di Stadion Pakansari Bogor diwarnai kericuhan antar supporter, Jakmania yang mendukung kontingen Sepakbola DKI Jakarta. Mereka membuat onar dengan melakukan penyerangan dan pelemparan terhadap pendukung tuan rumah Jawa Barat yang didukung oleh elemen masyarakat Bogor, pendukung Persikabo, dan .

Kacau kah? Iya, Siapa yang membuat kekacauan? Tentu perusuh yang aparat pukul mundur keluar stadion!

19 September 2016, terjadi perkelahian antara tim Polo Air Jawa Barat dengan Tim Polo Air Sumsel hingga menyebabkan penonton ikut tersulut emosi. Personel TNI yang ikut mendukung Jawa Barat ikut berkelahi dengan kontingen dari DKI Jakarta. Padahal dari keterangan saksi, sejak awal Kontingen Polo Air DKI Jakarta yang turut mendukung tim Polo Air Sumsel memprovokasi supporter lain.

Sejak saat itu, video perkelahian tersebar dimana-mana sehingga tagar #PONjabarKacau pun digaungkan terus menerus oleh para pendukung DKI Jakarta, padahal pendukung provinsi lain tetap stay cool and keep watching.

Ingin rasanya mengatakan kepada mereka, “Kalau gak ada di TKP ga usah komen”. Tapi ah sudahlah, kita bukan mereka. Akhirnya tim polo air DKI Jakarta berhasil mendapatkan emas cabang polo air, selebritis ‘kekacauan’?

Pada pertandingan cabang wushu dan judo pun terjadi walkout sebelum pertandingan dimulai, sehingga otomatis Jawa Barat memenangkan pertandingan tanpa harus mengeluarkan keringat. Namun apakah kontingen Jabar bangga dengan hasil itu? Sebagai pribadi yang dibentuk memiliki mental petarung tentu tidak, apalagi para kontingen telah sejak lama mempersiapkan pertandingan itu.

Alangkah eloknya, jika sejak awal para kontingen yang memilih walkout memberikan protes terhadap penyelenggara, tentu penyelenggara pun bukan orang sembarangan dalamkegiatan olahraga ini, sehingga dapat diambil jalan keluar tanpa harus walkout. Justru jika walkout malah mempecundangi diri mereka sendiri dan membuat perayaan PON menjadi terlihat kacau.

Yang terakhir, sangat disayangkan komentar lucu dari pemangku kepentingan Olahraga di negara ini Yth. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang mengatakan, “Curang di Tanah Legenda.” Seakan menyudutkan tuan rumah Jabar melakukan kecurangan.

Saya ingin sedikit memberikan masukan kepada Bapak, ini tugas Bapak dalam melakukan pembinaan baik terhadap para atlet maupun terhadap para wasit. Keburukan kegiatan PON adalah hasil buruk bapak sebagai seorang menteri yang seharusnya mengawasi PB PON dalam penyelenggaraan.

Sudah sewajarnya jika bapak memberikan kepercayaan terhadap para stakeholder bahwa kegiatan PON berjalan dengan baik, Bukan malah melemahkan semangat para atlet Jawa Barat dan penyelenggara. Hari ini genap 2 tahun tanpa ada liga sepakbola yang profesional, Bapak Sehat? Silahkan Berkaca!

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan tentu Jabar tidaklah sempurna untuk ngampihan para kontingen, namun kami juga bukanlah tuan rumah yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk tamu. Tanpa adanya PON di Jawa Barat, Jawa Barat akan tetap besar. Tanpa harus curang, Jawa Barat akan tetap Kahiji di hati kami.

“(Jabar) Besar karena cacian, Pujian Adalah Racun.” – Adjat Sudrajat.

Fahmi Mauluddien terlahir dan besar sebagai warga Jawa Barat, yang berkesempatan menjadi relawan PON XIX 2016 Bidang upacara ber-akun media sosial @fahmiamet

Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh@gmail.com.

Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan di rubrik Republik Maung ini dengan tidak mengurangi atau menambah esensinya.

Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi. (Bobotoh.id/RF)

Komentar

Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.