UPDATE TENTANG PESAWAT NAAS MH-370 YANG MENGLEUNGIT TAHUN 2014 !

Laporan terbaru tentang pesawat naas MH-370 yang hilang pada 8 Maret 2014 lalu diungkapkan Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB). Mereka menyebutkan, pesawat Malaysia itu terjun ke laut dalam kondisi tidak terkontrol dan melalui hasil invetigasi ini tergambar detik-detik menghilangnnya pesawat tersebut.

Mereka juga menegaskan jika kondisi pesawat tidak dalam keadaan siap untuk melakukan landing. “Sayap mungkin dalam posisi tidak diperpanjang yang berarti pesawat tidak dikonfigurasi untuk mendarat atau landing di atas air,” kata Foley mengacu pada praktik mengembangkan sayap untuk memungkinkan pesawat melakukan perjalanan dengan aman pada kecepatan rendah dalam persiapan untuk mendarat seperti dikutip dari Reuters dan liputan6.com, Rabu (2/11/2016).

“Anda dapat menarik kesimpulan sendiri, apakah itu berarti pesawat dikontrol oleh seseorang atau tidak,” imbuhnya.

Ieu Rame Lur : Hadapi Myanmar, Timnas Erek Mencoret Satu Pemain !

Satelit komunikasi akhir dari pesawat menunjukkan bahwa burung besi itu konsisten dengan “ketinggian dan menurun dengan cepat” ketika menghilang atau dalam bahasa sehari-harinya dikenal dengan istilah death dive–gerakan menuju kematian dan kehancuran.

Hasil investigasi ATSB terdiri dari 28 halaman yang berisi detik-detik akhir dari penerbangan MH-370 dan simulasi tenggelam yang meyakinkan para ahli bahwa area pencarian saat ini adalah lokasi kecelakaan pesawat tersebut.

Pertanyaan apakah ada campur tangan manusia selama pesawat menurun itu sangat penting, karena jika itu terjadi maka puing-puing burung besi tersebut dapat menyebar di luar zona pencarian yang saat ini seluas 120 ribu kilometer persegi.

Otoritas berwenang berasumsi bahwa MH370 tidak memiliki ‘input’ ketika menurun secara tajam, hal ini berarti tidak adanya pilot atau pilot yang sadar saat itu. Mereka meyakini bahwa saat itu yang bekerja adalah auto-pilot dan pesawat berputar ketika kehabisan bahan bakar sebelum akhirnya jatuh.

Fugro, kelompok insinyur yang memimpin pencarian sebelumnya mencuatkan kemungkinan bahwa seseorang telah menyebabkan pesawat menurun dengan sengaja.

Jason Middleton, praktisi penerbangan di University of New South Wales mengatakan bahwa analisis sayap mengepak itu menjelaskan hal terbatas.

“Itu berarti bahwa pilot tidak waspada, terjaga, atau merencanakan pendaratan yang aman,” kata Middleton.

Lebih lanjut Middleton mengatakan bahwa simulasi tenggelam tidak membantu mendefinisikan area pencarian baru di Samudra Hindia. (.id/HL/liputan6.com)

 

Komentar

Helmi M. Permana

Orang Bandung, suka foto, suka bola, & suka musik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.