Teranyar

    11 Pemain Asing Terbaik Persib! (Bagean 1)

    3 August 2017 15:41
    Era Liga Indonesia sejak musim pertamanya di tahun 1994/1995 membuka lebar keran bagi pemain asing untuk bermain di Indonesia. Tujuannya untuk mentransformasi ilmu dan kemampuan para pemain asing (yang dirasa) lebih baik dari pemain lokal.

    Efek dari program ini adalah agar terjadi percepatan terhadap upgrade skill para pemain Indonesia nantinya. Hampir semua tim melakukan opsi mengontrak para pemain asing. Beberapa sukses, walaupun banyak juga yang harus gigit jari karena kemampuan pemain asing ternyata tidak lebih baik dari pemain lokal.

    Ieu Ramé Lur: Tak Hadir Di Acara Jumpa Suporter, Ini Alasan Ketum Jakmania !

    Generasi pemain asing pertama yang singgah di era Liga Indonesia adalah generasi Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, Darryl Sinerine, LucianoLeandro, Dejan Gluscevic, Olinga Atangana, Dejan Antonic , Maboang Kessack dan lain-lain. Kedatangan mereka menjadi tonggak awal era industri baru sepakbola di Liga Indonesia.

    Saya mencoba menyusun sebelas nama pemain asing terbaik yang pernah membela Persib. Berikut sebelas pemain asing terbaik Persib :

    1. Sintawecchai ‘Kosin’ Hattairatanakool
    Didatangkan dari Osotappa FC Thailand pada tahun 2006. Statusnya saat itu adalah penjaga gawang timnas U-23 Thailand. Kemampuan membaca bola Kosin di atas rata-rata kiper seusianya. Mampu memberikan rasa aman kepada pemain bertahan ketika bermain. Sempat pulang ke Thailand selama dua musim, kerinduan bobotoh akhirnya terobati.

    Kosin kembali ke Bandung pada musim 2009/2010 dengan status pinjaman. Lagi-lagi bermain sangat baik, sayangnya dia harus kembali pulang ke Thailand karena status pinjamannya telah habis. Jika ditanya siapa penjaga gawang asing terbaik yang pernah membela Persib, Sintawecchai Hattairatanakool adalah jawabannya.

    2. Patricio Jimenez
    Pato Jimenez, seorang bek stylish asal Chile. Bek yang lebih mengandalkan visi dalam bermain ketimbang otot. Seorang bek dengan kemampuan membaca permainan yang mumpuni. Sangat tenang ketika mengomandoi lini belakang.

    Saking tenangnya dia pernah dimaki habis-habisan oleh Tema Mursadat pada satu pertandingan. Saat itu Jimenez memberikan bola back pass kepada Tema padahal jarak dengan penyerang lawan amat sangat dekat.

    Pertukaran posisi dengan Suwitha Patha di area DM dan CB ketika pertandingan adalah salah satu permutasi terbaik yang pernah dimainkan Persib. Jangan lupakan juga penalti menutup mata Jimenez ketika melawan Persijap!

    3. Claudio Lizama
    Badboy from Bandung. Begitulah tulisan tentang Lizama di cover sebuah album kompilasi Viking Persib club. Dengan postur yang tidak terlalu tinggi, Lizama mampu menjadi komando lini belakang Persib.

    Bersama Alejandro Tobar dan Rodrigo Sanhueza, Lizama bergabung di putaran kedua Liga IX tahun 2003. Anting di telinga kiri, bermain dengan rock ‘n roll di antara el capitano Dadang Hidayat dan Suwandi H.S di lini belakang, orang yang selalu berada di garis depan ketika terjadi keributan, dan salah satu anggota penyelamat play
    off degradasi di Solo. Once badboy still badboy, Senor...

    4. Julio Lopez
    Didatangkan secara kontroversial dari PSIS Semarang ketika dia sedang menjadi pahlawan di Semarang. Lopez bisa menjadi tandem yang sangat baik untuk Alejandro Tobar di skuat Persib LI X tahun 2004. Lopez bertindak sebagai pemain yang sangat diharapkan ketika bola sedang berada di kakinya.

    Bobotoh seakan selalu berharap ada hal gaib yang bisa dilakukan Lopez ketika dia sedang 'menggoreng' bola. Hanya pemain bagus yang bisa membuat penonton beranjak dari duduknya ketika bola berada di kakinya. Dan Lopez di musim itu bisa melakukan hal ini.

    Sayangnya dia hanya bertahan di Bandung setengah musim dengan produksi tujuh gol selama membela Persib. Lopez lalu menghilang dengan kabar yang tidak pernah orang tahu kebenarannya sampai saat ini. Datang dengan kontroversial, pergi dengan kontroversial juga.

    5. Redouane Barkoui
    Datang ke Bandung di tahun 2006, melakukan debut di Siliwangi melawan Arema, mencetak gol, lalu berlari ke pagar pembatas tribun timur sambil bertelanjang dada. Itulah awal perkenalan Barkoui, pria asal Maroko kepada publik sepakbola Bandung.

    Di musim pertamanya Barkoui hanya mencetak lima gol. Di musim keduanya Barkoui bangkit dengan mencetak 10 gol di Liga. Bersama Zaenal Arif dan Bekamenga, Persib di musim ini adalah salah satu skuad dengan komposisi penyerang yang paling produktif. Bertahan selama dua musim di Bandung, si Goyang Jaipong inipun akhirnya
    meninggalkan Bandung.

    6. Alejandro Tobar
    Classic number 10, trequartista, pembagi bola terbaik di kota ini tahun 2003-2004. Bermain di Persib selama satu setengah musim, Tobar merupakan salah satu orang yang paling krusial ketika menyelamatkan Persib dari ancaman degradasi di tahun 2003.

    Setelah Adjat Sudrajat, Tobar-lah representasi orang yang layak menggunakan nomor 10. 15 gol berhasil dibuat selama dia berada di Bandung. Setelah Tobar hengkang, belum ada lagi pemain yang benar- benar sukses menggunakan nomor punggung 10.

    Playmaker, trequartista, the number 10 enhanche. Without him, football would be nowhere as spectacular. Fantasistas, Tobar, we salute you! Bersambung Ke Bagean 2! (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Ase Abdul Hadi Bobotoh dari Banjaran Kabupaten Bandung

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli