Teranyar

    Agus Kusdinar : Djanur Sudah Habis (Bag.2)

    19 June 2017 10:21
    Pekan ke-11 Liga 1 Gojek laga tandang melawan Barito Putera selain mengalami kekalahan juga membuktikan permainan Persib tak kunjung ada perubahan, di sini mungkin kita harus berpikir realistis bahwa kejayaan Djanur sudah habis di tahun 2017, dimana peserta Liga kemampuannya hampir rata jika dilihat dari segi poin juga kualitas pemain dan pelatih sebagai ruh tim.

    Tahun 2014 bukan Tahun 2017, pelatih berkualitas Impor banyak yang menukangi tim peserta Liga 1, karena mengikuti kualitas pemain skuat di Liga 1 lebih baik dibandingkan skuat tim peserta Liga 2014, dan perlu dicatat format kompetisi ketika Persib juara berbeda dengan format kompetisi Liga 1 yang menggunakan format kompetisi penuh, yang berarti setiap laga adalah pinal.

    Perlu kita berpikir jernih dengan fakta yang ada bahwa Persib menjuarai 2 kali Liga Indonesia dengan format berbeda, dengan demikian Persib belum pernah menjuarai Liga dengan cara kompetisi penuh yang di perlukan konsisten dilapangan tiap pertandingan, karena setiap poin sangat berarti apalagi di Liga 1 setiap tim ingin tampil menjadi yang terbaik, terbukti dari transfer pemain dan pergantian pelatih dikarenakan kualitas pelatih kurang memuaskan.

    Keluar masuknya pemain juga pelatih sudah biasa dalam sepak bola profesional, karena kita mendukung tim bukan pelatih juga pemain, karena jika kualitas pemain atau pelatih buruk, dampaknya akan besar selain prestasi tim juga akan perginya beberapa sponsor.

    Manajemen harus jeli dan melihat fakta di lapangan, dan melihat keluhan bobotoh atas permainan Persib belakangan ini, tidak hanya mementingkan bisnis belaka, karena bisnis tanpa prestasi merupakan mimpi buruk bagi Persib untuk menunggu di gerbang kehancuran.

    Ieu Rame Lur : Aura kasih : Persib Nu Aing!

    Mungkin ada beberapa poin penting yang sekarang ini bisa di katakan Djanur sudah tidak bisa lagi menukangi Persib, dan habis massa kejayaannya :

    1. Mental sang pelatih yang belakangan ini terdampar ke titik nadir, karena kritikan, cacian lewat media sosial yang langsung di tunjukan kepada dirinya, dan disinyalir menjadi alergi kriktik.

    2. Minimnya strategi dalam meramu skuat saat ini yang di isi oleh pemain yang berkualitas

    3. Sering gagal dalam pergantian pemain

    4. Memaksakan pemain untuk bermain meskipun peforma pemain dalam kondisi buruk.

    5. Tidak bisa memangpaatkan regulasi

    6. Membuktikan tanpa di dampingi manajer, Persib tetap bermain tidak bagus ( butut )

    7. Permainan sampai pekan ke-11 tak kunjung ada perubahan

    8. Tidak bisa memanpaatkan / membuktikan kemampuannya sebagai pelatih yang di pertahankan manajemen.

    9. Banyaknya protes Bobotoh yang menginginkan Djanur untuk mundur, dengan alasan minimnya strategi yang diterapkan.

    Mungkin ini adalah sebuah resiko jika mengganti seorang pelatih di tengah kompetsi sedang berjalan, dengan alasan tim akan memulai langkah awal dari nol, tetapi manajemen perlu berspekulasi, memilih di antara dua pilihan mempertahankan Kuch Djanur yang tidak kunjung menemui perubahan, atau mengharapkan perubahan dengan mendatangkan pelatih baru.

    In Djanur Weh teras Mundur ti Persib mungkin menurut saya lebih baik daripada In Djanur We trust karena kejayaan Djanur sudah habis, dan Manajemen harus tegas tanpa harus melihat siapa dan sosok siapa, karena ini sepakbola profesional harus bersikap sama seperti halnya yang terjadi pada Kuch Dejan, jika seorang pelatih sudah tidak bisa menunjukan kualitasnya dengan PHP ( Pemutusan Hubungan Pelatih ).

    Djanur sudah habis,
    In Djanur Weh Teras Mundur,
    Tak perlu lagi ada yang di pertahankan,
    Sebelum In Persib Weh Teras Degradasi,
    Karena kami tak sanggup jika terjadi hal yang demikian.

    Hampura ah Kuch ulah pundung siga kamari, malum simkuring mah budak kamari, nu teu ngarti ku strategi, kulantaran Persib sieun di Degradasi.

    *Penulis bernama Agus Kusdinar, seorang Bonjopi nu lagi resep nulis di Bobotoh.id sanajan tulisana teu kaharti, kulantaran na pesbuk sok di bully.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkandengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli