Teranyar

    Balaslah Loyalitas Bobotoh Dengan Keringat & Kerja Keras!

    31 July 2017 19:33
    Pagi di akhir pekan ini diwarnai cukup banyak drama tentang Bobotoh dan Persib Bandung. Satu pekan lalu, masih lekat dalam ingatan ketika Maung Bandung harus rela berbagi angka dengan sang rival, Macan Kemayoran.

    Maung Bandung yang terseok dari awal kompetisi tak berdaya menghadapi Sang Macan meski bermain di kandang sendiri dengan dukungan ribuan atau bahkan jutaan bobotoh yang hadir langsung di stadion dan di televisi. Dari pertandingan itu pula, Bobotoh Sa-alam Dunya berkabung, dan memang seharusnya begitu.

    Ieu Ramé Lur: Selain Tenis & Ngopi, Aji Santoso Akan Menyoo Burung!

    Ricko Andream seorang yatim piatu dan dikenal loyal terhadap Persib harus meregang nyawa beberapa hari setelah pertandingan. Berniat melindungi suporter Persija, The Jak atau yang dikira The Jak, Ricko malah dikira dari kelompok tersebut.

    Ricko dikeroyok kritis dan masuk ruang perawatan untuk beberapa hari sebelum akhirnya meninggalkan kita semua. Rest in Pride, Ricko! sing ditampi sagala kasaeanna, mugia dukungan ka Persib janten kahadean!

    Tujuh hari setelah itu, 29 juli tepatnya, Persib bermain di Tanah Papua menghadapi tuan rumah Perserui Serui. Boom! Hasilnya pun fantastis, Persib harus menelan kekalahan 2-1 dari tim tuan rumah.

    Tak ayal, kondisi ini pun membuat Persib terpuruk di posisi empat belas. Satu langkah lagi menuju zona play off dan beberapa langkah menuju degradasi!

    Melihat urutan di klasmen, saya jadi teringat cerita orang-orang bahwa setelah Persib juara di musim 1994/1995, Persib terjun bebas ke kasta dua. Kebetulan waktu itu saya masih berumur 5 tahun, saya ikut merasakan atmosfer kampung saya ketika Persib bermain di laga final kala itu.

    Namun sayang saya belum mengerti banyak tentang Persib dan apa yang terjadi setelah itu. Tentunya akan sangat menyedihkan jika ternyata kejadian itu terulang lagi. Semoga tidak pernah terjadi lagi!

    Rivalitas Persib-Persija, meninggalnya Ricko, posisi 14 di klasemen sementara, memaksa saya untuk memutar memori. Mencoba melihat kembali video dokumenter tentang almarhum Ayi Beutik, sang panglima Viking.

    Mencoba menyelami kecintaan sang panglima terhadap Persib, sampai almarhum memberi nama untuk anak pertamanya dengan nama Jayalah Persibku. Sebuah doa untuk Persib yang panglima sematkan melalui buah hatinya. Semoga kau tenang di sana, Panglima!

    Dari video tersebut juga saya belajar dan mengerti bahwa Persib bukanlah Jawa Barat. Persib lebih besar dari Jawa Barat, karena berbicara bobotoh, akan berbicara tentang mereka yang berada di luar Jawa Barat sana.

    Berbicara tentang Persib maka akan berbicara tentang rivalitas klasik Persib-Persija, tapi nyatanya kecintaan bobotoh pada Persib lebih besar dan lebih panas dari rivalitas tersebut. Persib bersama jutaan Bobotohnya adalah nama besar, kebanggaan, harga diri, bahkan hidup dan mati bagi sebagian lainnya.

    Persib main kandang atau tandang ada saja para pendukungnya di sana meskipun hanya segelintir. Persib kalah atau menang, nyatanya tribun di kandang Persib tidak pernah sepi dukungan dan nyanyian, meski terkadang terdengar makian.

    Sebesar itulah kecintaan kami para Bobotoh untuk Persib Bandung. Kami tidak peduli siapa yang bermain, pemain lokal jebolan tarkam atau marquee player yang berpengalaman di Benua Biru.

    Kami tidak peduli siapa yang melatih, pelatih lokal atau pelatih sekelas Pep Guardiola. Kami tidak peduli siapa yang menjadi manajer tim, kami tidak peduli putaran uang yang terjadi dengan adanya Persib dengan Bobotohnya. Kami hanya peduli Persib bermain bagus, menghibur, menang, dan kembali juara!

    Sejatinya hanya seperti itulah tuntutan para bobotoh. Mereka hanya ingin datang ke stadion, melihat jagoannya bermain bagus, menerkam lawan dengan buas, dan bertengger di papan atas, bahkan menjadi juara. Seperti itulah loyalitas, tidak pernah menuntut hal-hal berbau materiil, bersifat bisnis dan hal-hal profitable.

    Loyalitas hanya harus dibalas dengan keringat yang diperas, kerja keras, dan terus memupuk kebanggaan. Selamat berjuang di putaran dua nanti, Sib! Semoga tajimu tetap menakutkan lawan, dan terkammu mampu melumpuhkan siapa pun yang menghadang. JAYALAH PERSIBKU! (Bobotoh.id/RCK)


    Penulis adalah seorang Imam Maula Fikri, bobotoh asli Sukabumi yang berdomisili di tanah rival.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli