Teranyar

    Beda Perlakuan Antara Paris, Palestina, Juga Rohingya !

    14 September 2017 17:17
    Sepak bola adalah simbol persatuan, demikian kurang lebih semangat yang ditularkan di Stadion Wembley pada laga persahabatan antara Inggris dan Perancis, Selasa (17/11/2015) silam. 

    Semangat itu lahir akibat insiden penembakan dan pengeboman di Paris - salah satunya terjadi di luar Stade de France saat pertandingan timnas Perancis melawan Jerman beradu, pada Jumat (13/11/2015). Akibatnya 129 jiwa tewas akibat insiden itu.

    Ieu Rame Lur: Gagal Tandang Ke Borneo, Ini Kata Herjos !

    Mau Tiket VIP Persib Gratis? Klik Di Sini...

    Stadion Wembley dihiasi bendera Prancis, bahkan di beberapa bagian warna bendera Prancis menjadi dekorasi. Aksi di Stadion Wembley hanyalah segelintir dari sejumlah momen solidaritas pada laga-laga sepak bola yang terjadi pada Selasa malam itu

    Pada sejumlah pertandingan lain, "one minute silence" juga dilakukan sebelum laga untuk mengenang insiden Paris. Adakah tindakan UEFA dan FIFA saat itu? Tidak ada.

    Berbeda dengan saat suporter Celtic mengibarkan bendera Palestina pada saat Celtic menghadapi Hapoel Be'er Sheva bulan Agustus 2016 di Glasgow, Skotlandia. UEFA menghukum Celtic akibat suporter Celtic (yang mayoritas beragama Kristen Katolik) mendukung gerakan kemerdekaan Palestina.

    Di Indonesia, Komdis menjatuhkan sanksi pada Persija Jakarta usai The Jakmania membentangkan spanduk yang bertuliskan ‘Jangan Ganggu Ulama Kami Menyampaikan Kebenaran’. Spanduk yang dianggap bernada SARA itu dipasang di Stadion Patriot Candrabhaga pada saat Persija menjamu PS. TNI pada putaran I Liga 1, 8/6/2017.

    Komdis PSSI menjatuhkan sanksi pada Sriwijaya FC. Sanksi dijatuhkan karena suporter SFC membuat koreo bendera Palestina stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang, 8/6/2017.

    Kali ini Persib yang mendapat giliran sanksi sebesar Rp. 50 juta. Sanksi dijatuhkan Kamis, 14/9/2017 setelah Komdis PSSI menganggap Bobotoh membawa unsur-unsur SARA yang dilarang merujuk pada 'Law of The Game' FIFA.

    Pertanyaannya yang lahir adalah: kenapa Ulama, Palestina dan Rohingya dianggap bernuansa SARA? Padahal jelas aksi Pray For Paris juga memiliki semangat yang sama? Dan dilakukan oleh mayoritas warga dunia yang beragama sama dengan korban di Paris?

    Tentu ini hanya lentik pikiran dan opini yang terinspirasi juga celoteh di linimasa Twitter maupun Facebook. Mengapa Pray For Paris dilegalisasi FIFA sedang Palestina dan Rohingya dianggap ilegal? Ada yang bisa bantu jawab? (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Ricky N. Sastramihardja, Redaktur Pelaksana Bobotoh.ID. Pecinta kucing dan penggemar kopi robusta yang juga suka menonton sepak bola.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Mau dapat tiket VIP gratis? Caranya mudah, mangga klik disini lalu ikuti aturan mainnya, der ahhh.... Hatur nuhun ! (Isi Kode Reseller : RDK09)

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli