Teranyar

    Damai: Mun Teu Ayeuna Rek Iraha Deui?

    30 July 2017 12:27
    Entah harus memulai dari mana, yang jelas saya ingin memulainya dari diri sendiri dengan pikiran saya sendiri. Saya melihat langsung terjadinya kekerasan terhadap supporter pada saat pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta, pada hari sabtu 22 Juli 2017 lalu.

    Pada saat itu saya menempati Tribun Timur bawah maka dengan jelas Saya berada di tengah stadion. Saat itu babak pertama usai dan di pada babak kedua sekitar menit 60 saya melihat di Tribun Utara ada perkelahian. Saat itu yang saya tahu itu Supporter Persija atau yang biasa di sebut The Jakmania. Tidak lama berselang, perkelahian
    terlihat kembali di Tribun Timur Atas dengan alasan yang sama.

    Ieu Ramé Lur: Selain Pengurangan Angka, Komdis Mendengda Persis 100 Juta!

    Setelah pertandingan, saya pulang ke rumah dan langsung melihat media sosial yang saya miliki. Saya sangat kaget Ketika mengetahui di media sosial apa terjadi di stadion dan luput dari pandangan saya. Terutama dengan kejadian yang menimpa Alm. Ricko Andrean, seorang anggota Viking Frontline.

    Saya sontak kaget, tidak menyangka, dan bercampur aduklah perasaan saya saat itu, dan sempat bertanya pada diri ini apa alasan memukuli pelaku memukuli Ricko?

    Hari demi hari saya melihat perkembangan media sosial. Belum sempat menjenguk karena bentrok dengan jam kerja saya. Sampai suatu ketika akun Viking Frontline memberitakan bila Ricko telah tiada.

    Saya kaget, jauh lebih dari yang saya perkirakan. Setelah almarhum tiada, saya langsung melihat kembali media sosial yang saya punya dan melihat beberapa akun Viking/Bobotoh maupun Jakmania. Pada saat itu. mungkin perasaan saya jauh lebih tenang saat melihat akun official Viking maupun Jakmania saling me-retweet.

    Pada saat itu juga saya langsung berpikiran inilah saatnya rivalitas ini yang sudah melewati batas harus diakhiri.Namun saya bertanya, bagaimana caranya?

    Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan saran saya untuk mengakhiri rivalitas tidak sehat ini. Bercontoh pada aksi aksi Bela Islam di Jakarta. Baik Aksi 411,212 maupun yang selanjutnya.

    Saya berfikir, apakah mungkin kita sebagai bobotoh membuat aksi damai dengan Jakmania dengan cara kita datang ke Jakarta? Mulai dari Gubernur, Walikota, Petinggi-petinggi fanbase bobotoh, bobotoh dari generasi sebelumnya sebelumnya sampai generasi saat ini untuk menggelar aksi damai Bobotoh dengan Jakmania.

    Saya akui inilah waktu yang tepat yang seharusnya dijadikan moment bersejarah damainya Bobotoh dan Jakmania. Tanpa harus menyalahkan PSSI, klub, dan fanbase kita harus bergerak!

    "Mun teu ayeuna rek iraha deui? Rek ngadagoan nyawa saha deui?”

    Lalu kenapa saya berharap aksi ini dimulai dari inisiatif bobotoh? Lalu kenapa harus di Jakarta?

    Pertama, Bobotoh yang dikenal mempunya sifat luas untuk memaafkan atau istilah Sunda-nya. 'gede hampura'. Kedua, kenapa di Jakarta? Kita hormati Jakarta sebagai ibu kota Indonesia yang sudah pasti menjadi pusat perhatian seluruh warga negara Indonesia.Bobotoh mah teu kudu gengsi, teu kudu sieun selama eta bener!

    Dan sebelum saya akhiri tulisan saya ini, mohon maaf apabila saya kurang sopan atau ada kata-kata yang menyinggung. Tulisan saya ini hanya pribadi saya yang ingin dan lebih tepatnya mengkhawatirkan nyawa yang Tuhan amanatkan. Saya juga ingin setiap pertandingan Persib saat kandang maupun tandang menyaksikannya dengan aman tanpa harus mengorbankan nyawa siapapun.

    Akhir kata semoga tulisan saya ini bermanfaat dan menjadi bahan renungan untuk kita semua. Saya hanya manusia yang mempunyai ruang lingkup yang sempit, dan dengann dimuatnya tulisan saya ini mudah-mudahan bisa menjadikan virus perdamaian untuk kita semua. Amin Ya Rabbal Alamiin.

    HIDUP PERSIB

    VIKING THE JAKMANIA BERSATULAH! (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis Rizhentia Permana yang menggunakan berakun Instagram/Twitter @mrnyoss.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli