Teranyar

    Edy Rahmayadi, PSSI, Gomez & Persib Yang 'Kumaha Aing!'

    28 February 2018 19:42
    Pertama, saya ingin bahas dulu tentang isu ketum PSSI yang mencalonkan diri jadi Cagub di Sumatera Utara. Edy Rahmayadi seorang perwira aktif yang rela resign dari pengabdian di sepak bola hanya untuk sebuah pilkada. Yang menjadi masalah apakah beliau masih mempunyai visi misi untuk PSSI?

    Semenjak beliau menjabat belum terlihat perubahan yang cukup signifikan dari prestasi yang didapat timnas. Juga pengolahan sepak bola dari akar rumputnya. Belum jua rampung amanah jabatan yang ia emban, malah 'berselingkuh' untuk jabatan yang lebih aduhai?

    Ieu Rame Lur: Longsor Di Kuningan, Ketua Viking Jabodetabek Memere Bantuan!

    Apakah bisa fokus dengan merangkap jabatan? Bagi Saya jika dia mengatakan bahwa pemain Indonesia yang kini bemain di Liga Malaysia seperti pengkhianat negara, lalu apa bedanya dengan dengan dia yang rela untuk ambil cuti karena pilkada di tengah belum jelasnya jadwal liga musim ini? Yang Saya lihat dari beberapa klub hanya Persipura yang berani terang-terangan mengkritik tingkah laku sang ketum.

    Masih ingatkah dahulu kita saat Nurdin Halid dilengserkan? Kita sebagai suporter sepertinya agak gatal dan geram jika di kemudian hari seorang ketum PSSI seorang politisi lagi?

    Tapi yang terjadi saat ini malah dia yang mau masuk ke ranah politik. Sudah saatnya untuk seluruh elemen supporter dan klub tegas untuk mengatakan, "Jika ingin pilkada tinggalkan PSSI, PSSI gak bisa diginiin!".

    Dalam peribahasa Sunda mah 'moro julang ngaleupaskeun peusing'! Kerjaan yang ini belum rampung belum kelihatan hasilnya, sudah mau garap yang lain yang belum pasti.

    Seolah-olah memberikan kesan PSSI adalah sebuah batu loncatan, terlebih untuk mencari modal saja sepertinya. Sudah saatnya jika ingin jadi ketum, fokus saja di bidang olahraga.

    Janganlah rangkap rangkap jabatan, PSSI belum berbicara banyak, belum berprestasi, PR masih banyak. Karena jika ini dibiarkan sampai akhir proses pilkada, kita bisa lihat, jika dia terpilih PSSI bakal ditinggal dan jika dia gagal di pilkada akan kembali ke PSSI.

    Hidup itu pilihan bukannya mencari aman dengan cara mengambil cuti. Berikan saja jabatan pada orang yang seharusnya, orang yang mengerti bola. Saya yakin di luaran sana masih banyak orang yang lebih serius ingin mengurus PSSI daripada seorang Edy Rahmayadi.

    Oke selanjutnya berbicara tentang klub kesayangan kita Persib Bandung. Baru saja Abah Gomez curhat di iG STORY nya.

    Ketika ia meminta seorang striker, yang manejemen berikan adalah midfielder, ngeri bukan? Untuk seorang Gomez kita patut acungi jempol karena sepertinya hanya dia yang berani berbicara lepas di media sosial.

    Mungkin jika jabatan masih diemban pelatih lokal, ia akan diam dan nurut. Tapi ini Gomez, seorang pelatih yang sangat berpengalaman dalam bekerja menangani klub hebat.

    Mungkin jika ia bisa curhat lebih banyak, akan merasa aneh terkait sistem yang ada di Persib saat ini. Karena jabatan pelatih tidak bisa dikatakan merangkap jadi seorang menejer, pelatih kepala hanya bisa merekomendasi apa yang ia ingin dan menunggu persetujuan 'keluarga komisaris'.

    Wkwkwk, saya tidak bisa bayangkan jika ini terjadi pada Jurgen Klopp di Liverpool, hahaha.

    Sabar Abah Gomez, ini Persib yang katanya klub profesional dan besar, namun nyatanya terlihat amatir dengan sistem kekeluargaan yang masih ia pakai. Di mana semua elemen manajemen sepertinya bisa mengontrol dan ikut ambil andil dalam susunan skuad di tiap musim. Di mana sebuah klub di Indonesia yang kalo berbicara dengan awak media hampir semua komisaris punya hak untuk memberitakan tentang Persib.

    Yang menjadi boomerang ketika pernyataan komisaris dan tim pelatih tidak sama. Sudah mah bobotohnya baperan ngeliat di medsos, para elit Persib saling berbeda statemen, ya jadi rame. Seperti yang terjadi kemarin kemarin lah ya.

    Jika kita berkaca pada klub 'tetangga' yang kemarin juara dan sedang onfire, saya melihat yang banyak berbicara ke media itu cuma dua. Kalau enggak Gede Widiade, ya Stefano Cugura.

    Bandingkan dengan tim 'keluarga' Persib U33. Dari Gomez cs yang memang mempunyai hak untuk berbicara di media karena dia bekerja langsung di lapangan kita juga sering temukan 'kuch 'Umuh, 'kuch' Zainuri, 'kuch' Kuswara dan 'kuch' Teddi yang sering memberikan statemen yang merupakan ranah taktis yakni pekerjaan seorang pelatih. Memang sepertinya sulit untuk Persib jika ingin maju seperti klub di Eropah sana jika terus-terusan seperti ini, tidak mengubah adat.

    Memang sih jasa orang-orang ini tuh sangat sangat berharga. Tapi dengan apa yang terjadi sekarang dengan nama besar Persib, klub ini tidak lain hanyalah sebuah klub dagelan.

    Saya belum pernah dengar komisaris di klub tetangga berbicara di media tentang klub. Bahkan ketua Ferry Paulus sudah tak saya lihat banyak statemen di Persija setelah Gede Widiade yang mengambil alih.

    Jangan anggap remeh hal seperti ini. Justru dengan semakin sedikit orang-orang yang mempunyai hak untuk berbicara ke media tentang tim, setidaknya akam meminimalisir timbulnya kegaduhan dalam pemberitaan di media. Semua akurat, faktual dan sama.

    Tapi karena Persib tim hasil rembukan beberapa kepala yang katanya cinta terhadap Persib, jadinya seolah-olah bebas. Ia mau bicara kapan pun di mana pun alias kumaha aing.

    Jangankan di sebuah klub sepakbola, dalam pekerjaan apapun kan sudah ada aturannya walaupun semuanya ahli dalam bidang itu. Tapi tetap ada satu yang ditunjuk menjadi leader untuk mensingkronkan kepala-kepala yang beda tadi agar terjadinya mufakat.

    Karena di Persib terlalu banyak bos dan pemegang sahamnya jadi ya seperti ini, klub kaya tapi bingung duitnya yang banyak ini mau dibawa kemana, dipakai untuk apa.

    Jika ingin membeli pemain si A nunggu persetujuan bos-bos yang lain, riweuh dan memakan waktu. Jika yang ini setuju yang ini tidak, tim lain sudah membentuk tim, tim Persib baru mendatangkan pelatih.

    Saya yakin penunjukan Gomez sebagai pelatih ada bos-bos lain yang kurang setuju. Terlihat dari sulitnya Gomez, tidak hanya tentang pemain yang ia harapkan untuk datang karena uang dan wewenang sebagai manajer bukan ia yang emban.

    Untuk menikmati fasilitas latihan yang memadai saja, sulit direalisasikan. Padahal kan tidak sekompleks permasalahan membeli pemain yang terganjal aturan slot kuota.

    Persib memang sudah berubah menjadi tim mapan dan maju, tapi jika terus seperti ini, Persib akan stuck dan tak akan bisa berbicara banyak. Mungkin sering-seringnya terpuruk karena tidak jelasnya arah cita-cita sepakbola yang bagaimana dan seperti apa .

    Tim lain akan menyusul dengan manajemen yang sama matang finansial yang sama sehatnya. Bahkan bahkan kita sepertinya akan disalip jika terus stuck hanya sebatas maju dan memiliki finansial yang sehat saja.

    Intinya sebuah klub itu tetaplah prestasi, gelar dan pembinaan bakat muda. Bukan marketing dan sensasi yang dibanyakin, apalagi di jadikan alat politik untukmenaikan pamor.

    Jika gelar prestasi sudah bermunculan, lonjakan dari sisi marketing akan ikut naik, mana ada sih klub yang banyak prestasi sepi penggemar?

    Persib puasa gelar belasan tahun pun bobotoh malah makin banyak dan mengakar tumbuh dari berbagai macam latar belakang keluarga, etnis, karir, status sosial dan lain lain. Apalagi jika berjaya dengan prestasi bukan berjaya dengan sensasi dan menjadi raja berita di tiap musim. (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Angga Alterego, Bobotoh yang biasa berselancar di Twitter dengan akun @prfromaga

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli