Teranyar

    Eks Pemain Sampdoria Kritisi Sepak Bola Indonesia, Kieu Cenah...

    17 April 2018 19:30
    Legenda sepakbola Indonesia yang pernah menimba ilmu di Sampdoria Primavera, Kurniawan Dwi Yulianto kritik tim-tim yang berlaga di Liga 1 musim 2018. Menurutnya, tim-tim tersebut kurang memberi kesempatan pada striker lokalnya.

    Bahkan, dirinya merasa beruntung jika pada zamannya, striker lokal masih dibutuhkan oleh banyak tim inti. Hanya saja saat ini, pria yang kerap disapa si kurus itu menganggap tim tim Liga 1 tidak ingin rugi untuk memainkan striker lokal. Ditambah, dari diri striker lokalnya tersebut terlihat tidak ingin bersaing dengan striker asing.

    Ieu Rame Lur: Gonzales Tinggalkan Madura Utd, Kieu Penjelasan Sang Manajer!

    Maka dari itu, tim tersebut lebih memilih striker asing karena memiliki daya juang yang tinggi ditambah kualitas diatas striker lokal.

    "Iya kan mungkin saya termasuk beruntung lah bermain di zaman yang pakai dua striker. Nah sekarang permasalahnnya kita engga mau kalah bersaing dan klub engga mau rugi mungkin kan, ambil asing yang lebih mempuni kan," kata Kurniawan kepada awak media belum lama ini.

    Dengan kejadian tersebut, pria asal Magelang itu juga menilai induk sepakbola Indonesia harus bekerja lebih giat agar striker-striker lokal selalu diberi kesempatan bermain. Apabila situasi tersebut terus dipertahankan dan tidak segera diubah, ia khawatir generasi berikutnya akan menolak menjadi penyerang.

    "Federasi harus berfikir bagaimana caranya pemain-pemain striker muda ini bisa main d senior. Misalkan usia mudanya di jam terbangnya udah tinggi, dan klub juga harus berani mainkan striker lokal, nanti ujung-ujungnya anak kecil males, 'ah main jadi striker' misalnya gitu," kata pria yang pernah bermain di PSPS Pekanbaru itu.

    Ia juga cukup menyayangkan akan sikap dari federasi dan tim Liga 1. Pasalnya striker Indonesia selalu berhasil membuktikan dalam kompetisi tingkat Asia Tenggara.

    Hanya saja, sosok striker di Indonesia mayoritas bertipikal Advanced Forward dan Deep-lying Forward yang memiliki kelebihan menggiring bola ditambah dengan kecepatannya. Oleh sebab itu, penyerang bertipikal Target Man dan Complete Forward tersisihkan.

    "Apalagi indonesia dari tahun ke tahun setiap event Asia Tenggara itu kan top skor , karena memang kelemahan di kita, striker tipikal berlari banyak lah tapi tipikal sebagai tembok kan jarang yah," kata pria berusia 41 tahun tersebut.

    Ia pun berharap dengan adanya kurikulum baru yang sudah dicanangkan PSSI akan menumbuhkan sosok striker yang diharapkan melengserkan pamor striker asing di Indonesia.

    "Mudah-mudahan dengan adanya Indonesia Way kurikulumnya bagus dan memunculkan striker tunggal," tutupnya.

    Kurikulum Way merupakan kurikulum baru dalam ilmu kepelatihan di Indonesia. Di bawah komando Direktur Teknik PSSI Danurwindo, langkah diambil untuk gaya sepak bola Spanyol tiki-taka dijadikan acuan utama. Hal ini pula menjadi satu dari beberapa alasan PSSI menunjuk Luis Milla Aspas menjadi pelatih tim nasional senior dan U-22. (Bobotoh.ID/FY)


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli