Teranyar

    Inikah Yang Dimaksud Mang Ayi Sebagai Muara?

    2 August 2017 15:43
    Sesudah kejadian Ricko Andrean meninggal karena pengeroyokan, terjadi perubahan yang luar biasa. Bobotoh yang masih memiliki hati nurani dan akal sehat mulai melakukan introspeksi dan memikirkan jalan keluar yang terbaik.

    Ini dilakukan agar tidak ada Ricko-Ricko yang lain karena ini sudah menyangkut kemanusiaan. Meminjam kata bung Iwan Fals, "jika kau menghancurkan kemanusiaan, aku akan melawanmu karena aku manusia".

    Ieu Ramé Lur: Pengelola Berharap Sidolig Seperti Lodaya !

    Bahkan ketua umum The Jakmania, Bung Ferry sudah bertemu dengan pentolan-pentolan viking seperti Mang Yana Umar, serta Herru Djoko. Semoga saja beliau-beliau bisa bertemu untuk membicarakan perdamaian antara kedua belah pihak agar tidak terjadi korban selanjutnya akibat rivalitas tidak sehat ini.

    Semua sedang mengkampanyekan perdamaian. Ada aksi 1000 Lilin Untuk Ricko di Stadion Patriot Candrabhaga yang dihadiri oleh Viking dan The Jak.

    Terlintas di pikiran saya untuk membuka video dokumenter tentang sang panglima Alm Mang Ayi Beutik. Saya mereview banyak dokumenter mulai dari saat menurunkan Risnandar di Stadion Siliwangi hingga lainnya.

    Saya mereview untuk mengenang dan mengobati rasa rindu kepada Almarhum serta mencari sedikit demi sedikit sejarah asal muasal 'permusuhan' ini yang belum saya tahu dan pahami.

    Bagian yang menarik dari tumpukan dokumenter itu adalah saat Alm. Mang Ayi Beutik bersama Mang Yana diwawancara oleh TV One melalui telepon. Saat itu bis Persib dilempari di Jakarta dan terpaksa 'putar balik' demi keselamatan pemain.

    Sat wawancara itu, Alm mang Ayi Beutik ditanya oleh host TV One lebih kurang seperti ini : "Bagaimana solusi untuk mendamaikan permusuhan ini kang Aep?" Saat itu Almarhum mengenalkan diri kepada sang host sebagai Aep Dadang, bukan Ayi Beutik.

    "Biarkanlah saja seperti air mengalir, nanti juga ada muaranya. Ini Indonesia, sepak bola Indonesia baru sampai segini Mbak/ Nanti juga ada muaranya," jawaban Mang Ayi Saat itu.

    Berulang kali saya melihat cuplikan wawancara itu. Berulangkali saya menyimak pada kata-kata yang diucapkan Mang Ayi sebagai muara. Muara perdamaian?

    Wow ini luar biasa! Almarhum memang sosok panutan bagi Bobotoh. Beliau bukan hanya tegas tapi beliau juga cerdas dan sosok yang berani mengambil resiko untuk tim yang dibanggakannya, Persib Bandung. Semoga amal-amal beliau selama hidup diterima di sisi-Nya. Jasa-jasa beliau semoga menjadi ladang amal beliau di sana.

    Keluarga Beutik, Teh Mia, Ade Usab Perning dan A Jayalah Persibku semoga sehat selalu diberi ketabahan, diberi kesehatan. diberi rezeki yang berlimpah. Ammiin al Fatihah. (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Lingga Pratama

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli