Teranyar

    Jangan Sia-siakan Kepergian Mereka Yang Mendahului Kita!

    28 July 2017 20:20
    Entah harus memulai dari bagian mana saya menulis. Mengenai peristiwa memilukan, bahkan kalau boleh, izinkan saya menyebutnya sebuah tragedi. Tragedi di dunia sepakbola Indonesia, di ruang lingkup suporter dalam hal ini 'kebetulan' menimpa suporter pendukung klub PERSIB BANDUNG. Ya, dengan kata lain, suporter PERSIB adalah BOBOTOH. Bobotoh Persib Bandung.

    Tragedi yang menghentak, menampar atau bahkan ibarat sebuah 'shock therapy' yang luar biasa hebatnya. Seorang suporter berusaha melindungi dan menyelamatkan nyawa suporter 'rival'-nya. Tragisnya tapi malah dia yang menjadi korban, Ricko justru meregang nyawa di ruangan sebuah rumah sakit.

    Ieu Ramé Lur: Mengapung Jarak Jauh, Ini Kondisi Kebugaran Maung Bandung!

    Ya, seorang bobotoh bernama Ricko Andrean yang melindungi seorang suporter Jakmania yang ketahuan oleh bobotoh lain dan dijadikan bulan-bulanan banyak orang (oknum bobotoh).

    Okey, semua ini karena rivalitas yang sudah di luar batas, sudah barbar dan brutal. Melenceng jauh dari makna rivalitas yang sesungguhnya.

    Menurut KBBI, makna sebuah kata rivalitas adalah: perihal rival; pertentangan; permusuhan; persaingan. Permusuhan tanpa ada kata/tindakan berlebihan seperti menghilangkan nyawa.

    Tetapi, pada kenyataanya, banyak kejadian yang membuat kita miris, sedih, marah bahkan menebar ketakutan. Kejadian yang berakibat banyak korban di antara Bobotoh dan Jakmania, khususnya mereka yang di daerah-daerah di perbatasan, seperti Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Karawang (koreksi kalau saya salah). Saya ngga mau membahas soal itu, karena saya ngga mau ungkit lagi masa lalu yang kelam itu.

    Koreksi lagi jika saya salah: Ketua Viking, Heru Joko dan juga ketum Jakmania bung Ferry Indra Syarif jauh hari sudah memulai dan sedang dalam proses melakukan perdamaian. Seperti oase kesegaran di tengah padang pasir, permusuhan yang sudah bertahun-tahun mengakar kuat di antara kedua pihak.

    Bahkan bung FIS berkata "Rivalitas Jakmania dan Bobotoh sudah salah arah. Rivalitas tersebut seharusnya hanya terjadi di tribune dan bukan dengan kekerasan seperti ini," ujar Ferry kepada CNNIndonesia.com.

    Sebagai bobotoh 'yesterday afternoon boy', saya ngga kenal siapa itu almarhum tapi saya sangat terkejut sekaligus terharu dengan respon dari Jakmania atas peristiwa ini. Akun-akun personal sampai korwil bahkan akun pengurus pusat Jakmania dan akun official Persija pun mengucapkan belasungkawa dan duka cita mendalam kepada Ricko dan bobotoh.

    Dalam dua hari ini, linimasa timeline ngga seperti biasanya. Si Biru dan si Oren yang biasanya memanaskan timeline dengan twitwar-twitwar nya, berubah 180 derajat. Seperti teman lama yang sangat lama ngga bertemu, sekalinya bertegur sapa langsung akrab.

    Iya, saya juga sering twitwar dengan mereka. Iya, saya sering beradu pendapat dengan Jakmania. Tapi bersyukur, seingat saya, selama twitwar dengan mereka, twit/ucapan rasis ngga pernah terucap, cacian atau hinaan secara personal atau keluarga juga ngga saya lakukan, hanya sebatas meledek kepada klub dan pemain lawan, wajar bukan? Koreksi kalau saya salah atau lupa.

    Twitwar itu asyik kok. Twitwar akan bermanfaat, jika tidak menyangkut masalah pribadi, tetapi yang berkaitan dengan kepentingan umum, misalnya memperjuangkan etika akademik, meningkatkan mutu pendidikan, ekonomi dan lainnya. Sepanjang kita ahli di bidangnya, twitwar itu mengasah logika dan kepekaan. Jika kita bukan ahlinya, lebih enak jadi penonton, menikmati seni twitwar dan dapatkan ilmunya dari situ.

    Sebelum adanya twitwar antara Bobotoh dengan Jakmania, sudah banyak korban yang berimbas dari rivalitas atau permusuhan ini. Namun sekali lagi bukan pembenaran Permusuhan ini memang salah arah dan kebablasan. Kalau bukan dari diri masing-masing, sampai kapan permusuhan yang ngga sehat dan di luar batas kemanusiaan ini berakhir?

    Saya bukan anggota komunitas suporter seperti Viking, Bomber, The Bombs, Casuals, Ultras atau apapun itu. Tapi saya boleh kan berharap? Boleh kan bermimpi? Saya boleh meminta sudahi permusuhan ini?

    Kalimat “rival hanya 2X45 menit” benar-benar bisa terwujud nyata. Saling ledek klub adalah wajar, harus malah kalau saya bilang. Kenapa? Sebagai bumbu keseruan seorang suporter mendukung klub kebanggaannya. Benar kan saat kita mendukung klub kebanggaan, semua emosi akan keluar lepas. Entah itu jelas ketika menonton langsung di stadion, ketika di acara-acara nobar atau walaupun sekedar nonton di layar kaca.

    Amarah saat klub dicurangi wasit, maka akan spontan cacian wasit goblog! Tertawa saat pemain klub kebanggaan mencetak gol ke gawang lawan dan akhirnya meraih kemenangan. Tangis sedih saat menerima kenyataan klub kesayangan harus menderita kekalahan dari lawan. Dan macam-macam luapan emosi lainnya.

    Saya secara pribadi siap berdamai dengan Jakmania. Kenapa? Kita sama-sama anak negeri ini dan pastinya banyak yang seiman sebagai muslim. Lagi pula apa ada kewajiban setiap bobotoh harus bermusuhan dengan Jakmania? Atau sebaliknya?

    Jangan sia-siakan kepergian mereka yang sudah mendahului kita dengan terus melestarikan rivalitas negatif ini. Biarkan mereka tenang di sana, melihat perdamaian antara Bobotoh dengan Jakmania.

    Saling ledek adalah lumrah di semua aspek kehidupan, apalagi di dunia suporter. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, bagaimana lawan kita menanggapinya dan yang pasti harus ada pihak yang ada sebagai penengah, yang mengingatkan kalau suasana mulai memanas.

    Abaikan pihak-pihak yang ngga suka dengan proses perdamaian ini, entah dari sesama bobotoh dan jakmania atau suporter lain yang ngga suka dengan perdamaian.Buang dan bakar atribut bertuliskan nada provokasi, rasis dan hinaan di antara bobotoh dengan jakmania, hapus tulisan-tulisan provokasi di tembok-tembok yang bisa menyulut emosi dan mengganggu proses perdamaian ini.

    Jangan malu dan sungkan. Jangan malu dibilang lemah karena mau berdamai dengan (katanya) rival. Jangan sungkan mengajak atau memulai silaturahmi dengan mereka yang kita anggap musuh.

    Banyak saudara, banyak rejeki. Banyak kawan, ringan kaki melangkah kemanapun juga. Lebih mudah mencari 1000 musuh dibanding 1 kawan yang bisa jadi saudara!

    Mohon maaf kalau tulisan saya ini ngga bagus, saya ngga pandai menulis artikel. Banyak yang bilang saya jago twitwar. Baiklah, saya anggap sebagai kritik, tamparan sekaligus teguran agar saya berubah. Sebagai lebih banyak menyandang predikat bobotoh layar kaca, suporter sosmed atau twitter garis keras, biarlah...

    Saya berdoa Bobotoh dengan Jakmania bisa berdamai. Bisa beradu chants, saling adu kreatifitas koreo di satu stadion ketika PERSIB dan PERSIJA bertanding di Bandung dan Jakarta, masing-masing kubu merasa aman & nyaman mengenakan atribut klub di Bandung dan Jakarta. Saling betegur sapa ketika papasan di jalan, bukan lagi seperti yang sudah-sudah.

    Bukankah damai itu indah? Saya yang awam dunia per-suporter-an sangat sadar, perdamaian ini butuh waktu yang ngga sebentar dan proses yang cukup menyita banyak pikiran pihak-pihak terkait. Tapi kalau ngga dimulai dari sekarang, mau kapan lagi? Sampai ada korban lagi?

    Salam hormat dan respect setinggi-tingginya dari saya untuk semua Bobotoh dan Jakmania. Al Fatihah untuk semua mereka yang sudah mendahului kita karena permusuhan ini.Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ngacapruk dari saya. Jika ada yang salah, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

    Mari senantiasa perbaiki diri. Karena waktu, jam, menit, detik kapan kita meninggal tiada yang mengetahui selain ALLAH SWT.

    "Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Maha Mulia lagi Maha Pengampun” (QS 67: 1-2)

    "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."(QS 3 : 185)(Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Arief Gunawan. Pemilik akun riweuh dan bebelegugan @outsidersofblue

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli