Teranyar

    Mencintai Tanpa Melukai Yang Berbeda Pilihan!

    29 July 2017 15:56
    Sekali lagi sepakbola negeri ini berduka.
    Lagi sepakbola memakan korban jiwa.
    Siapa yang harus disalahkan bukan fokus utama saat ini.
    Tapi pelaku pengeroyokan memang pantas mendapat hukuman yang setimpal.

    Untuk apa?
    Walau yang pergi tak mungkin kembali, setidaknya ada sebuah efek jera atas sebuah kesalahan yg dilakukan. Juga sebagai pengerem pihak lain dalam mengartikan apa itu 'rivalitas'.

    Rivalitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti salah satunya adalah persaingan. Lalu bila kita mengartikan rivalitas sebagai persaingan mengapa kita harus saling bunuh?

    Ieu Ramé Lur: Melenoy ! Persib Menutup Putaran Pertama dengan Kekalahan

    Siapa yang bisa menerima bila sahabat,teman, rekan atau bahkan saudara kita harus kehilangan nyawa karena sesuatu yang kita anggap sebagai Rivalitas?

    Sudah pernah kita berteriak "darah dibalas darah", "nyawa dibalas nyawa", "biarkan permusuhan ini tetap abadi", juga ujaran penuh amarah lainnya.

    Bila permusuhan itu hanya sebatas adu kreativitas mari kita teruskan. Bila teror itu hanya 2x45 menit mari terus kita ciptakan neraka di dalam stadion. Mencintai kebanggaan tanpa harus melukai mereka yg berbeda pilihan itulah yang harus kita terapkan saat ini.

    Kepergian Ricko saya rasa adalah saat yang tepat untuk kita mulai menghilangkan kebencian terhadap mereka yang kita anggap rival, karena fokus kita adalah mendukung Persib bukan membenci mereka yang menyukai tim lain.

    Kenapa saat ini adalah waktu yang tepat?
    Minimal dari pihak bobotoh sendiri tidak ada dendam terhadap pihak lain atas kepergian Ricko. Walau memang ada rasa kesal dari saya pribadi juga terhadap semua keributan yang terjadi pada match Persib VS Persija pada pekan ke-16 Li9ga 1.

    Tapi kali ini beda halnya dengan saat kita kehilangan Rangga Cipta Nugraha atau saat meninggalnya M. Rovi. Caci maki mengalir begitu deras dahulu, walau ada beberapa pihak yg meneriakan kedamaian, hentikan rivalitas, perbatasan keras, dan lain sebagainya. Tapi suara mayoritas saat itu begitu deras, mereka yg mencaci saat itu begitu banyak.

    Tapi lihatlah timeline dan beranda-beranda kita hari ini, semua berisi duka cita, semua saling sapa, semua sama-sama mendoakan. Tulisan bukan berisi caci maki atau sumpah serapah, terlihat sedikit aneh memang bila kita lihat lagi. Tapi tak perlu lagi kita menulis usut tuntas atau kami yang balas, cukup sudah kita kehilangan teman kita dalam mendukung sepakbola.

    Saya rasa saat ini memang adalah saat yang tepat untuk mengakhiri rivalitas yang melenceng dari arti yang sebenarnya. Rivalitas memang harus tetap ada, tapi biarlah itu hanya sebatas adu kreativitas. Semua yg terlibat di lapangan juga harus menjunjung sportivitas dalam sebuah pertandingan, karena permasalahan di dalam lapangan tak sedikit yang berakhir dengan keributan di tribun.

    Bila hari ini masih ada kebencian dari pihak lain, mari tak perlu kita pedulikan itu. Mari kita tunjukan bahwa kita serius dalam hal mendukung kebanggaan tanpa harus melukai mereka yg berbeda pilihan. Ini bukan soal egoisnya kita hanya karena korban saat ini ada di pihak kita dan akibat kesalah pahaman dan salah tuduhan.

    Bila bukan kita yang memulai saat ini maka bukan tidak mungkin kedepannya kita akan menyaksikan kembali korban korban berjatuhan dalam mendukung kebanggaan.

    Atas nama sepakbola,
    Atas nama rasa cinta,
    Atas nama manusia,
    Mari bersama hentikan nyawa yang terbuang percuma dalam sepakbola,
    Jangan lagi ada korban atas sebuah kecintaan,
    Mari tetap persib,
    Mari makin persib,
    Tidak ada musuh di tribun,
    Tidak ada lawan dalam mendukung kebanggan,
    Selamat jalan Ricko Andrean semoga pengorbanan mu memisahkan pertikaian di tribun memuluskan jalan perdamaian!(Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Edwin Kurniawan.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli