Teranyar

    Mengenal Sosok Mang Entis, Mang Ohim, dan Marhamah

    12 January 2018 11:16
    Ini dia Mang Entis, bobotoh sejati yang belum pernah nonton PERSIB ke stadion. Meskipun begitu, Mang Entis selalu melihatnya di tipi. Bagi Mang Entis, kecintaan terhadap Persib tidak akan pernah bisa dibendung oleh jarak antara tipi dan stadion. Mang Entis menganggapnya seperti LDR-an (Long Distance Relationship), cinta jarak jauh yang hanya bisa berhubungan melalui Tipi.

    Mang Entis bukan tidak ingin datang ke stadion saat Persib bertanding. Cuman dia minder, karena di stadion banyak yang mencintai Persib, takut cemburu sama suporter yang lain. Tetapi jika Mang Entis nonton di rumahnya, hanya dia yang mencintai Persib seorang. Istrinya tidak terlalu suka bola, tetapi lebih suka belanja. Anaknya juga masih kecil, lebih mencintai orang tuanya dibanding mencintai Persib, karena anak mang Entis adalah anak yang shaleh. Jadi dengan kondisi dirumahnya, Mang Entis merasa tidak mempunyai saingan untuk mencintai Persib.

    Kecintan kepada Persib sudah lama tumbuh dalam diri Mang Entis. Kecintaan itu lahir dari budaya dikeluarganya yang mencintai Persib juga, Ayah, paman dan kakek mang Entis juga mencintai Persib. Semacam kecintaan yang menjadi turun temurun. Pernah suatu kali Mang Entis berfikir, kalau saja dirinya dilahirkan di Kota Manchaster, apakah dirinya akan menjadi bobotoh Persib seperti sekarang. Mungkin akan mencintai klub Manchaster United atau City. Maka mang Entis jadi merasa Salut kepada orang yang bukan dari Jawa Barat tapi mencintai Persib. Perlu perasaan yang hebat untuk bisa mencintai sesuatu diluar kebiasaan lingkungannya. Tapi itu tidak perlu banyak dipikirkan, karena dirinya mensyukuri terlahir di Kota Bandung, sehinga menjadi Bobotoh.

    Istri Mang Entis bernama Marhamah. Dia suka cemburu juga kepada Persib, karena Persib terkadang mengalihkan perhatian suaminya dari dirinya. Istrinya hanya ditanggapi seperlunya jika Mang Entis sedang nonton pertandingan Persib. Bagi marhamah, serasa mang entis sudah melakukan poligami, karena merasa cintanya sudah dibagi dua oleh Mang Entis. Walaupun suaminya bersikap demikan, Marhamah yang sarjana Jurusan Bimbingan Konseling, mengerti psikologis suaminya yang mencintai Persib. Terkadang Marhamahlah yang menjadi tempat curhat suaminya ketika Persib kalah. Mang Entis meminta hatinya disembuhkan dari rasa kecewa melalui bimbingan konseling kepada istrinya.

    Marhamah yang bukan asli Bandung, tetapi dari Bekasi, mengerti betul kalau resiko menikah dengan orang Bandung adalah bersaing dengan Persib. Bahkan sebagian perempuan dari Bandung pun sering merasa kesulitan jika harus bersaing dengan Persib. Marhamah kadang juga merasa takut, kenapa suaminya mencintai Persib, padahal isinya laki-laki semua, sampai-sampai menyimpan foto pemain di HP. Tapi dia jadi tidak terlalu khawatir lagi setelah tahu bahwa ternyata semua laki-laki yang suka bola melakukan itu. Dikiranya Mang Entis menyimpang dari fitrahya sebagai lelaki, padahal tidak.

    Mang Entis dan Marhamah mempunyai anak yang baru berusia lima bulan bernama Umfi. Mang Entis sering menyarankan kepada Marhamah mencari baju Persib untuk bayi. Karena dengan begitu, Mang Entis sedang mengajari anaknya untuk kompak mengikuti jejak Abahnya mencintai Persib juga. Namun Marhamah belum mengikuti saran suaminya itu, karena lebih memilih baju yang lucu versi dirinya. Mang Entis menyadari, bahwa untuk urusan fshion anak, seorang ibu lebih berkuasa dibanding Ayahnya.

    Mang Entis mempunyai sahabat bernama Mang Ohim. Ohim juga sama-sama mencintai Persib. Merasa ada teman senasib, Mang Entis dan Mang Ohim menjadi semakin dekat dalam urusan Pepersiban. Mereka berdua sering curhat berdua mengenai Persib di waktu-waktu santai sambil menyeduh kopi hitam dan merkokok Djarcok. Mereka merasa dengan membicarakan Persib seperti melakukan olahraga sambil santai. Terkadang sampai lupa waktu dan di suruh pulang oleh Istri yang harus dicintainya juga. Kalau sudah disuruh pulang oleh istrinya, Mang Entis dan Mang Ohim tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka berdua mengakui kesaktian yang dimiliki oleh seorang perempuan, waktu kecil mereka disuruh pulang oleh ibu, sudah besar mereka disuruh pulang oleh istri. Betul-betul menjadi suami yang taat.

    Kisah lebih jauh mengenai Mang Entis nanti akan diungkapkan pada cerita-cerita yang dibuat per-judul, sesuai tema dari keinginan penulisnya. Mudah-mudahan hikayat seorang bobotoh ini dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Ya minimalnya, pembaca jadi cape untuk membaca, dan merepotkan karena harus memikirkan isinya. Dengan begitu Ayah, Ibu, dan Guru SD kita tidak merasa sia-sia telah mengajarkan kita membaca. Maaf guru PAUD tidak kesebut, karena sudah diwakili oleh guru SD. Selamat membaca dan menunggu sambungannya. Hatur Nuhun


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli