Teranyar

    Mengguar Konflik Tak Berujung Di Tubuh Persib

    4 February 2018 21:06
    Beberapa halaman media online, dan timeline Bobotoh di twitter belakangan ini diramaikan oleh berita dan cuitan mengenai Persoalan yang sebenarnya kembali mencuat setelah beberapa tahun terakhir. Isu penggantian manajer yang dianggap mengintervensi Persib semakin santer.

    Legenda Persib pun ikut bersuara, membuat saya tertarik untuk menulis.

    Ieu Rame Lur: Yang Ngabuntut Bangkong Dari Kegagalan Persib Di Piala Presiden

    Persib sebagai tim besar di Indonesia yang memiliki bobotoh tersebar di penjuru dunia 'Bobotoh Saalam Dunya'. Menjadi 'seksi' di mata pihak dan kelompok manapun.

    Siapapun yang berkepentingan tak akan rela begitu saja melepas nama besar Persib. Berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan konsorsium yang beriorientasi profit, dan kepentingan politik yang selalu dimanfaatkan dalam setiap kontestasi kepala daerah di Jawa Barat. (Tak perlu dijabarkan satu persatu kepentingan tersebut karena substansinya tidak pada kelompok atau golongan).

    Tapi sejatinya Yang lebih memiliki kepentingan kepada PERSIB adalah jelas BOBOTOH, Ya BOBOTOH.

    Menurut Ramlan Surbakti (Ramlan Surbakti: 1992) Kelompok kepentingan adalah sejumlah orang yang memiliki kesamaan, sifat, sikap, kepercayaan, dan atau tujuan yang sepakat mengorganisasikan diriuntuk melindungi dan mencapai tujuan. Itulah BOBOTOH.

    Kepentingan Bobotoh hanya satu, Persib tampil ciamik dalam setiap pertandingan hingga Juara. 'Simpel'.

    Hanya saja kepentingan Bobotoh ini layaknya pasir pantai pantai yang terhempas oleh ombak dilautan yang selalu terpinggirkan. Terpinggirkan oleh manajemen yang berorientasi pada profit dan kepentingan lainnya. Biasanya musim kontestasi seperti ini, muncul kepentingan yang beraroma politik merasuki nama besar PERSIB.

    Seharusnya yang memiliki kepentingan besar terhadap PERSIB bahkan hingga mengurusi dapur manajemen adalah BOBOTOH. Bukan segelintir puhak yang hanya memanfaatkan nama besar PERSIB.

    Lihat bagaimana BARCELONA klub besar asal Cataluna Spanyol yang berdiri tahun 1899 ini bisa tumbuh besar bahkan mengungguli klub Eropa lainnya yang berbentuk Perseroan (PT). Pada tahun 2015 sebanyak 110.000 pemilik saham Barcelona hadir di Stadion Camp Nou untuk memilih presiden baru.

    Dalam momen itu Jose Maria Bertomeu mendapat 54.63 persen mengungguli Joan Laporta (30.03 %) Agusti Benedito (7.16) dan Toni Freixa (3.70). Bertomeu akan memimpin klub Katalan itu untuk enam tahun mendatang.(Sumber: http://kopkuninstitute.org/2016/09/26/digdayanya-klub- sepak-bola- koperasi-eropa/ )

    Momen semacam itu kalau di Indonesia mungkin namanya Rapat Anggota Tahunan (RAT). Yaitu forum tertinggi di perusahaan koperasi dimana anggota hadir untuk memilih pengurus baru.

    Hal itu juga yang terjadi di Barcelona, di mana para pemilik yang adalah para supporter memilih presiden baru untuk mengelola klub.

    Mungkinkah ini diterapkan PERSIB, lihat saja berapa banyak jumlah bobotoh, berapa uang yang terkumpul oleh bobotoh jika mereka menyumbang dalam bentuk perusahaan koperas, ada simpanan pokok dan ada simpanan wajib, selain itu kita juga mengamalkan apa yang sudah di cetuskan oleh Bapak Bangsa ini,Bung Hatta yang mendirikan KOPERASI.

    Pengelolaan klub di Indonesia dengan sistem manajemen seperti yang sekarang tidak heran jika rawan konflik karena masing-masing memiliki kepentingan seperti yang terjadi pada PERSIB.

    Kepentingan yang sejatinya dimiliki bobotoh mungkin tidak akan lagi tersapu ombak layaknya pasir di pantai. Mungkin BOBOTOH lah yang akan memegang kendali klub, sehingga kepentingan yang tulus dan murni ini dimiliki oleh jiwa-jiwa murni supporter Persib alias BOBOTOH. (Bobotoh.id/RCK. FOTO: AH)

    Ditulis oleh Oki Achmad Ismail, Bobotoh yang juga Dosen UNIKOM Bandung yang berakun twitter @okiais.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli