Teranyar

    Mogok Melajo Pertandingan: Cara Bobotoh Menghukum Persib! (Bagian 1)

    10 October 2017 16:15
    Menaruh sikap optimis terhadap klub kebanggaan tentu menjadi suatu keharusan bagi mereka, kami, saya, dan siapapun yang mencurahkan kecintaannya kepada klub tersebut. Menjadi seorangpenggemar sebuah klub bukan hanya soal menonton, menikmati, bersukacita saat menang, dan berdukaria saat meratapi kekalahan, lebih dari itu.

    Menjadi penggemar setia adalah soal rasa, yang menurut Soesilo Toer – adik Pramoedya Ananta Toer – dalam sebuah diskusi terbuka: tidak bisa diperdebatkan. Ya, rasa cinta terhadap klub kebanggan pun begitu, tidak bisa diperdebatkan.

    Ieu Rame Lur: Pemain Lazio Junior Berlatih Dengan Persija?

    Mau Tiket VIP Persib Gratis? Klik Di Sini...

    Rasa itu lahir dan terbang begitu saja dalam sanubari, tanpa sedikitpun embel-embel kepentingan di dalamnya, kecuali cinta. Terkadang kita, sebagai seorang penggemar setia, tidak tahu persis apa yang menggerakkan tubuh kita untuk sekadar menonton bahkan berteriak-teriak menyanyikan chant hingga melontarkan beragam umpatan (dalam situasi tertekan) saat menyaksikan sang kebanggaan berlaga.

    Filsafat Hegel, yang mengatakan bahwa realitas adalah anak kandung dari dialektika, barangkali dipatahkan oleh kenyataan di atas. Siapa yang menggerakkan kita, sebagai penggemar, yang notabene ‘ditugaskan’ hanya untuk sekadar membeli tiket dan lalu menonton, ikut-ikutanterbawa secara emosional saat menyaksikan kenyataan klub kebanggaan sedang terpuruk. Kita masih belum paham.

    Realitas tersebut adalah diskursus yang anomali bila kita sepakat dengan idelogi liberal yang mengatakan bahwa manusia adalah satu entitas yang bebas. Tapi kita, terkhusus masyarakat Indonesia, tentu tidak menyepakati itu. Kenyataan bahwa sifat ‘kedirian’ manusia yang harus selalu berhadap-hadapan dengan kepentingan masyarakat
    luas menjadi salah satu alasan.

    Setidaknya untuk meyakinkan diri bahwa kemenangan bukan hanya milik klub dan korporasinya semata.Konstitusi kita membahasakannya dengan istilah “hajat hidup orang banyak”. Setidaknya prinsip itu yang seharusnya dipegang teguh oleh setiap klub sepakbola.

    Kemenangan sebuah klub dalam suatu pertandingan seharusnya jangan dipahami sebagai pelepas hasrat ekonomi para pemain, korporasi, atau kepentingan politik identitas klub semata, tapi juga menyangkut hajat emosional orang banyak. Ungkapan emosional buah dari hasil pertandingan selalu mempengaruhi perilaku para penggemar. Setidaknya situasi tersebut harus diamini secara objektif oleh setiap klub sepakbola.

    Menghukum klub kebanggaan
    Situasi genting yang saat ini sedang dialami oleh Persib Bandung dan Bobotohnya adalah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi. Persib sebagai sebuah subyek ‘yang dicintai’ terkadang tidak mampu merangkul dengan baik apa yang diinginkan oleh penggemarnya.

    Kasus Umuh Muchtar yang malah memposisikan diri sebagai oposisi dari salah satu kelompok bobotoh yang melontarkan kritik tajam terhadap Persib adalah bukti ketidakmampuan klub untuk merangkul penggemarnya. Umuh sebagai representasi dari klub bukannya menjadikan kritik tersebut sebagai lecutan semangat, malah dianggap sebagai sikap yang subversif dari para penggemar.

    Bukan hal yang tidak mungkin bila kemudian beberapa kelompok Bobotoh menaruh mosi tidak percaya terhadap klub kebanggaannya.

    Pendekatan represif yang dilakukan Persib adalah ciri khas penguasa kapitalistik. Kenyataan bahwa Persib sedang merangkak menjadi klub professional menjadi pelengkap argumentasi tersebut. Penyelenggaraan pertandingan Persib Bandung justru dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi komoditas baru.

    Entah, apakah ini pengaruh dari ajaran neo-liberalisme yang menjadikan segalanya sebagai komoditas, atau hanya karena Persib tidak benar-benar professional. Rasa cinta ‘tak beralasan’ para Bobotoh hanya dijadikan lumbung padi yang empuk karena keuntungan penjualan tiket di stadion dan tingginya nilai rating di televisi selalu
    didapatkan pihak penyelenggara setiap Persib bertanding.

    Kenyataan tersebut seharusnya menjadi keuntungan bagi para Bobotoh untuk ‘menagih’ keseriusan Persib. Setidaknya menyadarkan sang klub kebanggaan bahwa kemenangan adalah “hajat hidup orang banyak”. Bagaimana? Akan coba saya jawab di akhir tulisan. (Bobotoh.id/Ricky N. Sas)

    (Bersambung ke Mogok Melajo Pertandingan: Cara Bobotoh Menghukum Persib! Bagian 2)

    Ditulis oleh Bobotoh anak bawang yang sedang melahap bangku perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebenarnya jarang berkicau di akun twitter @FFilhana.

    *Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya. Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Mau dapat tiket VIP gratis? Caranya mudah, silahkan kontak WA 089662541246 lalu klik di sini dan ikuti aturan mainnya, der ahhh.... Hatur nuhun ! (Isi Kode Reseller : RDK10)

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli