Teranyar

    Nomofobia, Literasi Digital Pada Sepakbola Nasional!

    30 March 2018 17:23
    Sepakbola modern memiliki beragam aspek yang harus mendapat perhatian, tidak hanya masalah bagaimana menjadikan sepakbola sebagai sebuah industri. Lebih dari itu sepakbola memiliki masalah yang besar pada era milenial ini.

    Masyarakat generasi milenial yang cenderung sebagai medsos habits dan secara sadar atau tidak telah terjangkit virus NOMOPHOBIA. Virus nomofobi ini yaitu memiliki rasa takut untuk tidak memiliki akses dengan gadget tak terkecuali masyarakat sepakbola baik yang terlibat langsung maupun tidak secara langsung. Gadget atau gawai sudah menjadi menu wajib dalam kebutuhan hidup manusia.

    Ieu Rame Lur: Lawan SFC Masih Tanpa Gomez!

    Nomofobi merupakan fobi yang membuat kita memiliki sifat gelisah yang berlebihan. Hal tersebut timbul dari keinginan untuk melihat smartphone yang berlebihan.

    Semenit saja tidak melihat smartphone, kita akan merasa sangat khawatir. Efek ini tentunya sangat tidak bagus, karena kita akan lebih memusatkan perhatian pada smartphone/ Gadget kita. Phobia ini akan sangat mengganggu karena sangat merusak konsentrasi kita. Sumber (http://psiko-blogid.blogspot.co.id/2015/10/kecanduan-gadget-nomophobia.html?m=1)

    Kasus terbaru terjadi pada persepakbolaan nasional kita adalah ujaran kebencian yang dilakukan oleh pemain tim Persija Jakarta melalui unggahan di media sosial instastory instagram yang tengah viral baru-baru ini. Kasus ini menyulut reaksi keras dari kelompok supporter Viking Persib Club, yang akan membawa kasus ini melalui jalur hukum.

    Pasalnya dalam unggahan tersebut jelas ungkapan kebencian terlontar dari para pemain berlabel profesional bahkan timnas. Kasus ini bisa jadi merupakan dampak dari Nomofobi yang menjangkit pemain Persija yang melakukan ujaran kebencian (hate speech). Karena Sejatinya Smartphone diperuntukan bagi smart user.

    Rivalitas kedua supporter, The jakmania dan Viking adalah permasalahan sosial lama yang tak kunjung usai. munculnya upaya perdamaian dari kedua supporter yang tengah digagas oleh kedua belah pihak seolah kembali bias akibat ulah dari oknum pemain Persija tersebut.

    Ujaran kebencian yang biasa dilakukan di stadion saat mengumpat tim lawan dari tim kesayangannya saat bertanding, atau biasa dilakukan saat bentrok dengan kelompok supporter dari tim lawan kini memasuki wilayah digital. Ruang publik yang membentuk kelompok virtual, atau masyarakat cyber dengan media sosial sebagai platformnya.

    Di mana media sosial memungkinkan semua pengguna menjadi produsen informasi, menyajikan ruang terbuka untuk merespon informasi yang pada akhirnya dapat membangun komunitas virtual yang diwarnai diskusi di ruang maya.

    Menurut McGraw Hill Dictionary – Media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.

    Yang menjadi permasalahan utama dan mendapat sorotan di berbagai negara termasuk indonesia adalah masalah hate speech (Ujaran Kebencian) melalui media sosial. Wacana ujaran kebencian ini semakin serius manakala banyak kasus kekerasan yang terjadi akibat provokasi via media sosial.

    Dampak dari kasus hate speech yang dilakukan oleh oknum pemain Persija ini munculnya konflik horizontal dalam dunia nyata yang memasuki ruang publik digital. Yang secara sadar atau tidak menurut Soerjono Soekanto manusia kini hidup dalam dua alam yaitu masyarakat nyata dan masyarakat maya (cybercommunity).

    Pentingnya Literasi Digital menjadi treatment yang penting dalam kehidupan era milenial ini. Menurut Deakin University’s Graduate Learning Outcome 3 (DU GLO3), literasi digital adalah pemanfaatan teknologi untuk menemukan, menggunakan dan menyebarluaskan informasi dalam dunia digital.

    Literasi digital juga di definisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menganalisis, menilai, mengatur dan mengevaluasi informasi dengan menggunakan teknologi digital.

    Ini artinya mengetahui tentang berbagai teknologi dan memahami bagaimana menggunakannya, serta memiliki kesadaran dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Literasi digital memberdayakan individu untuk berkomunikasi dengan orang lain, bekerja lebih efektif, dan peningkatan produktivitas seseorang, terutama dengan orang-orang yang memiliki keterampilan dan tingkat kemampuan yang sama (Martin, 2008 dalam Soheila Mohammadyari & Harminder Singh, 2015).

    Mari jadilah masyarakat sepakbola Indonesia yang enerjik namun juga cerdas dalam menyebarluaskan dan menyerap informasi melalui teknologi informasi ini, sebab kemajuan teknologi tidak bisa di bendung dan akan memunculkan budaya baru, tentu ini akan bergantung kepada kita semua dalam menyikapi beragam informasi melalui kecepatan informasi saat ini.(Bobotoh.ID/RCK)

    Ditulis oleh Oki Achmad Ismail yang berselancar di dunia maya dengan akun Twitter & Instagram @okiais

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli