Teranyar

    Persib Ataoe Bati!

    9 August 2017 17:14
    "Ketika kalian menghitung untung rugi, maka dukungan kalian tak lagi murni." Mungkin ungkapan Alm. Mang Ayi hanya berlaku untuk Bobotoh saja, sehingga mencintai Persib seakan lumpuhkan logika.

    Patutnya kita harus mengecek tiap maksud dan loyalitas dari para petinggi PT. PBB, terlebih tiap langkah yang mereka tempuh selalu membuat kita mengelus dada dan beristighfar.

    Di sini penulis akan "menelanjangi" kekecewaan penulis terhadap manajemen, berharap mereka membaca dan intropeksi diri kekhawatiran kami terhadap persib, yang selama ini kami anggap jiwa raga kami!

    Sejak PT. PBB dibentuk, penulis sangat bersyukur sekali masih ada orang-orang yang peduli terhadap Persib. Di saat yang lain sulit menyelamatkan karena keterbatasan ilmu dan modal. Hadirlah sosok pak Umuh Muchtar dan M. Farhan, 2 sosok yang muncul ke permukaan mampu menghidupkan kembali asa sepakbola Bandung menjelang Liga Super Indonesia 2008.

    Pada saat itu tidak ada sponsor yang menempel di jersey Persib kecuali logo apparel dan patch ISL pertama itu. Namun sejak liga 2009 hingga sekarang, jersey Persib tidak pernah terlihat simple, hingga nyinyiran "jersey balap" pernah dilontarkan supporter lain.

    Tentu sebagai bobotoh kami tak peduli. Toh dengan begitu menjadikan Persib sebagai tim mandiri, tak pernah telat gaji, dan mengantarkannya menjadi juara kompetisi tertinggi pada 2014 dan 2015. Bangga? Jelas sangat!

    Ieu Ramé Lur: Resmi Ke BFC, Ini Komentar Pertama Spaso !

    Namun, sejak 2016 penulis merasa ada yang salah dari Persib. Mulai dari upaya menyingkirkan Djanur dengan 'menitipkannya' ke raksasa Italia, Intermilan. Hingga terperosotnya prestasi di awal kompetisi Indonesia Soccer Championship 2016.

    Beruntung di paruh kedua musim lalu Persib berhasil bangkit dan finish di posisi ke-5.

    Terlalu lama vakum dari kompetisi resmi sepertinya membuat manajemen "kejar setoran" di kompetisi 2017. Tidak main-main, pemain sekelas Michele Essien dan Carlton Cole berhasil didatangkan manajemen.

    Semua tercengang dan bangga menjadi bagian dari Persib. Bahkan politisi Teten Masduki yang "melicinkan" Essien bergabung ke Persib pun mengaku "sesepuh bobotoh", walau tak pernah terlihat duduk di bangku tribun!

    Paruh pertama kompetisi resmi Liga 1 pun berakhir. Hasil sangat tidak memuaskan diperoleh tim kebanggaan Jawa Barat itu.

    Menempati posisi ke- 14 dari 17 peserta bukanlah hasil yang pantas untuk Persib. Terlebih tagline Persib tahun ini adalah "Golden Era". NGERAKEUN MEUREUN!

    Pasti ada yang salah ketika tim lain mulai matang mempersiapkan tim menghadapi paruh kedua kompetisi, Persib seperti leha-leha hingga pertandingan pertama dimulai Persib belum memiliki pelatih kepala, apalagi pemain baru.

    Saha nu rek nyeleksi, sok?

    Reinaldo dari PSM yang digadang-gadang akan bergabung ke Persib pun akhirnya bergabung ke Persija. Melalui chatting whatsapp dengan salah seorang bobotoh, Reinaldo mengatakan, "Persib cuma 'speak' doang, tidak serius seperti Persija". Jawaban tersebut diberikan Reinaldo setelah bobotoh tersebut menanyakan mengapa justru memilih Persija bukan Persib.

    Beberapa hari sebelumnya Erivalto yang telah datang ke Indonesia akhirnya dibatalkan karena tidak menemui kata sepakat mengenai rekrutmen antara pihak "geng Bandung" dengan "geng Jakarta". Cie kubu kubuan....

    Bagai tak pernah belajar dari kasus meuli ucing jero karung seperti Dragicevic, Moses Sakyi, Belencoso, hingga Cole, Persib begitu mudah percaya terhadap agen, dengan tidak menyeleksi langsung pemain tersebut. Terkecuali Belencoso dan Cole yang memang memiliki reputasi baik sebelumnya.

    Maka muncul lah nama Mang Dosol (Ezechiel N'Douassel) hasil pemburuan oleh "Kit Man" sekali lagi oleh "Kit Man" ya bukan pelatih, eh caretaker sekalipun.

    Dengan menilai melalui video cuplikan gol, pastinya ditambah cocotan marketing seorang agen. Jelas ini abnormal, dalam perekrutan pemain asing yang baru bermain di Indonesia, Persib selalu kalah saing dengan Persija dan Arema FC. Bahkan dengan PSPS Pekanbaru sekalipun yang berhasil mendatangkan Konate dan Coulibaly diawal
    karirnya di Indonesia.

    Ada apa Persib ini? Apa karena mengejar ITAB yang semakin dikejar setoran dapur rumah tangga, apa karena memang tak mampu bersaing karena diurus oleh orang-orang yang lebih mengerti pasar ketimbang lapang sepakbola?

    Kemana Bobotoh yang berkarakter khas selalu bersuara sumbang ketika Persib tumbang seperti yang dilakukan ketika demo besar-besaran 2006 dan 2012 silam? Apa karena telah disumpal janji pribadi sehingga karakter dan ideologi tak lagi mampu diperjuangkan?

    Tengoklah video di youtube ketika Persib terpuruk tahun 2006, jika saja tak ada kebijakan PSSI, tentu Persib "Si Anak Emas" akan terdegradasi. Namun lihatlah kehangatan di antara manajemen dengan muka ikhlas mengurus Persib saat itu.

    Mengobrol dan merumuskan agar kompetisi 2007 berjalan lebih baik lagi. Karena itulah budaya sepakbola di Bandung yang dibangun dari hati ke hati namun sangat mudah dipatahkan masalah finansial.

    Untuk saat ini apa tidak bisa mengkombinasikan keduanya?

    Biarlah sepakbola ini diurus oleh orang-orang yang mengerti bola. Jika kalian para petinggi PT. PBB ingin meraup keuntungan dari kami sebagai bobotoh ya silahkan, apa dengan merchandising, tiket, rating, dan sponsorship tidak cukup?

    Tapi tolong jangan atur terlalu jauh mengenai urusan di lapangan, ada yang lebih mengerti tentang hal itu. Atau kalian berminat menjadi tim pelatih? Silahkan daftar mengambil lisensi pelatih ke AFC.

    Welcome to Bandung Mang Dosol, Pemain timnas Inggris pun tersingkir dari tim ini, buktikan kapasitasmu sebagai kapten timnas Chad! (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Hyuga adalah anggota kesebelasan Toho yang besok akan bertanding dengan Nankatsu

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi @gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli