Teranyar

    Persib: Profesionalitas, Filosofi Klub & Kesadaran Sejarah

    28 March 2018 19:17
    Sebagai salah satu klub tertua di Tanah Air, lahir tahun 1933, Persib Bandung memiliki sejarah, dan prestasi yang diperhitungkan. Tak lepas dari perkembangan Persib dari musim ke musim, dekade-ke dekade para Bobotoh bisa menilai bahwa Persib hadir sebagai bagian terpenting dalam pengembangan sepakbola Nasional.

    Selain distribusi pemain berkualitas ke Timnas, Persib hari ini menjadi pionir dan inspirator klub-klub lain dalam mengelola klub secara professional. Maka, kesadaran sejarah itu mesti ditanamkan dalam setiap elemen Persib baik itu supporter (sebagai mesin klub), manajemen, sampai ke pelatih dan pemain.

    Ieu Rame Lur: PSSI Akan Memere Tindakan Tegas Video Penghinaan!

    “History Never Bought” itu sebuah keniscayaan. Sindiran keras bagi klub yang mengandalkan uang untuk “membeli gelar”.

    Karena bicara PERSIB, bukan bicara klub sepakbola lebih dari itu; tradisi-budaya dan kecintaan tak ternilai. Filosofi Klub yang lahir menjadi Istilah dan muncul dari Bobotoh,”maen make hate”, menunjukan bahwa bukan hanya pemain, tapi manajemen, dan unsur-unsur yang ada di Persib harus mampu merepresentasikan istilah itu dalam segala hal.

    Contoh: Manajemen “make hate” masang harga tiket tong sangenahna!”

    Semua klub bertarung di pasar Industri, sepakbola Indonesia kini memiliki nilai komersial dan prestise. Pemain tak ubahnya pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaannya lalu dibayar atas hasil keringatnya.

    Pemain mesti berlegak-lenggok memasarkan sponsor klubnya. Namun, fakta tersebut tidak menghilangkan nilai “humanisme/kemanusiaan” semua perangkat klub di dalamnya.

    Sebagai contoh, di tahun 2006-2007 an, para petinggi AC MILAN berusaha memberikan inovasi terhadap klub dengan menghadirkan “AC MILAN Lab” yang fungsinya sebagai pusat rehabilitasi psikologi dan mental pemain. Hadirnya AC MILAN Lab terinspirasi dari kekalahan memalukan Ac Milan atas Liverpool di Final UCL 2005.

    Para pemain secara psikologi memerlukan penanganan khusus, apalagi berkiprah di klub yang memiliki tekanan kuat dari berbagai elemen. Sehari sebelum bermain ada check up untuk mental dan psikologi pemain. Selain nilai-nilai spiritualisme yang dikuatkan.

    Manajemen terlihat serius menjadikan Persib unggul dalam berbagai sisi. Seperti dikutip Bobotoh.id, terakhir Manajemen siap membuat Pusat Pelatihan/Training Camp di Gedebage.

    Kabar positif ini tentunya, menunjukan Persib siap mempertahankan sejarahnya bukan hanya untuk hari ini tapi untuk masa depan untuk anak-cucu kita.

    Infrastruktur dan Suprastruktur yang coba dibangun sebenarnya masih belum cukup. Apalagi persoalan integrasi antara Klub dan Supporter. Klub pun seharusnya memikirkan fans club atau supporter agar terjalin kerjasama yang apik, setidaknya fasilitas berupa bantuan pengembangan ekonomi.

    Agar untuk koreo pun supporter tidak mesti patungan. Selain itu, seharusnya para legenda (mantan pemain) diberikan jas dan tempat khusus di VIP. Ingat Sejarah!

    Para pemain sebagai para petarung di lapangan mesti memahami karakter Filosofi Klub. Pemain ketika masuk Persib darahnya biru, siap secara total memberikan segalanya.

    Dan para pemain berkapasitas pun banyak yang gagal ketika berkiprah di Persib. Hari ini, Persib dengan segala dinamikanya menghadapi Liga 1 harus segera siap.

    Keputusan pun harus diambil, apakah mengkombinasikan pemain muda-pemain tua. Atau memasang pemain tua, atau secara berani mengkomposisikan pemain muda secara dominan (meskipun kalah, bobotoh pasti maklum!).

    Meskipun pemain tua punya pengalaman, tapi ingat pemain muda punya masa depan. (Bobotoh.ID/RCK)

    Ditulis oleh Dilan Imam Adilan yang berakun Instagram @dilanimamadilan, tergabung sebagai pemain ke 12 PERSIB Bandung sejak lahir.


    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli