Teranyar

    Republik Maung :Memahami & Menanti Sebuah Momentum Kebangkitan !

    10 June 2017 10:35
    Liga 1 Gojek Traveloka 2017 memang baru memasuki pekan ke-10, namun bagi tim sekelas PERSIB hasil 3 kali menang, 4 kali seri dan 2 kali kalah merupakan hasil yang mengecewakan. Sempat berada di peringkat kedua klasemen Liga 1, kini PERSIB terjun bebas di peringkat ke-14 (dengan menyisakan 1 pertandingan melawan PERSIBA minggu besok). Dampaknya, Kondisi internal PERSIB semakin tertekan, terjadinya pitch invasion hingga Coach Djanur (dipaksa) mundur. Kisruh dalam tim hingga bongkar pasang pelatih bukan hanya terjadi di tubuh PERSIB. Ganasnya Liga 1 telah memakan banyak korban. Tercatat Alfredo Vera (Persipura), Hans-Peter Schaller (Bali United), Timo Scheunemann (Persiba), Laurent Hatton (PS. TNI) dipecat atau mundur dari tim yang dilatihnya.

    Dukungan supporter yang besar terhadap sebuah tim tak jarang diartikan sebagai dua mata pisau. Di satu sisi dukungan tersebut adalah suntikan moral (dan finansial) bagi sebuah tim. Menjadi pemain ke- 12 yang selalu mengiringi setiap pertandingan tim. Atau di sisi lain menjadi tekanan yang luar biasa besar bagi sebuah tim untuk memperoleh prestasi. Tak jarang sebuah tim (pemain, manajemen hingga pelatih) gagal, mengalami tekanan yang berlebihan dalam menyikapi dukungan supporter tersebut hingga akhrnya kehilangan momentum.

    Sulit mendefinisikan momentum secara ilmiah, namun yang jelas momentum berarti sebuah kemampuan dan kekuatan yang tidak terlihat, hanya bisa dirasakan, dan sebenarnya lebih bersifat psikologis atau mental dibandingkan aspek teknis. Momentum merefleksikan penampilan kesebelasan, pemain, pelatih, bahkan penonton.

    Dalam ilmu psikologis, momentum lebih berupa rasa percaya diri atau sebaliknya minder. Contohnya adalah ketika di pagi hari kita sudah kesal dengan kemacetan di Kota Bandung, maka sampai malam pun biasanya kita akan merasa kesal atau cenderung bad mood. Hal ini terjadi karena dalam periode waktu yang lebih panjang, akan memberikan dampak buruk bagi kondisi mental kita. Jika seseorang konsisten memiliki tingkat mental yang negatif, maka ia akan lebih sedih, lebih mudah sakit, dan berumur lebih pendek. Begitupun sebaliknya. Hingga pada akhirnya mental akan memengaruhi fisik.

    Contoh nyata mental mempengaruhi fisik misalnya seorang striker yang berhasil mencetak beberapa gol beruntun akan lebih percaya diri dan cenderung bisa terus mencetak gol. Usai mencetak hattrick saat ujicoba lawan UNI pada Februari 2013, Serginho tampil ganas dengan mengemas 21 gol dalam semusim. Begitu juga dengan kiper. Kiper yang melakukan penyelamatan besar di awal laga, cenderung akan melakukan banyak penyelamatan lagi sampai laga selesai. Emosi mereka yang percaya diri terkadang melampaui batas kemampuan fisik. Tanya Deden dan Bli Made soal ini.

    Ieu Rame Lur : Sholat Berjamaah, Cara Herrie Atasi Mental Tim!

    Kadang sebuah kesebelasan, seorang pemain, seorang manajer, staf pelatih, atau suporter pun, mendapatkan momentum buruk ataupun momentum baik. Contoh momentum baik adalah ketika PERSIB berhasil comeback dari Arema FC pada Semifinal Indonesia Super League (ISL), 4 november 2014. Tertinggal 1-0 dari gol Beto, secara heroik PERSIB mampu menyamakan kedudukan melalui gol Vlado untuk kemudian menang melalui perpanjangan waktu dengan gol Lord Atep dan Konate.

    Gol Vlado adalah momentum kebangkitan PERSIB kala itu hingga akhirnya rentetan momentum baik tersebut terbawa ke partai Final melawan Persipura. Melalui adu penalti, PERSIB kembali merasakan “momentum magis” juara liga (setelah 19 tahun puasa). Di musim itu, PERSIB memang dikenal sebagai tim tangguh dengan kekuatan mental yang luar biasa. Sering tertinggal pada babak pertama, PERSIB bangkit dan membaikan keadaan secara dramatis pada penghujung babak kedua. 41 persen gol Persib tercipta pada periode 15 menit terakhir pertandingan termasuk di semifinal saat melawan Arema, gol Vlado tercipta di menit ke-83.

    Bagi tim sekelas PERSIB, rasa percaya diri dan mental yang kuat juga akan tumbuh atau tenggelam jika mengalami rentetan hal baik maupun hal buruk. Oleh karena itu, idealnya PERSIB (pemain, pelatih, manajer hingga suporter) melakukan evaluasi dan perubahan. Perubahan tersebut akan meningkatkan kemungkinan perubahan momentum meskipun tidak menjamin 100 persen.

    Kini PERSIB seolah kehilangan (dan sedang mencari) momentum tersebut. Adalah tugas kita para BOBOTOH untuk terus mendukung dan memberikan suntikan moral bagi pemain, pelatih, hingga manajemen PERSIB. Jangan biarkan momentum buruk berkepanjangan. Kita bangkitkan kepercayaan diri para pemain. Kita bangkitkan MAUNG dari tidurnya. Kita sambut momentum kebangkitan PERSIB. Pitch Invasion adalah anarki meski menyuarakan isi hati. Kembang api adalah sanksi. Jangan biarkan omong kosong stadion kosong.

    Inilah saatnya membuktikan kecintaan kita pada PERSIB. Dapatkan momentum itu. Kembalilah mengaum. Bangkit. Prung geura tarung. We are stay behind you…. Semoga Allah SWT meridhoi… Wilujeng shaum….

    *Penulis adalah seorang bobotoh bernama Riky Arisandi, ayah yang mewariskan kecintaanya pada PERSIB ke Muhammad Yashvir Arisandi dan Nazneen Yasheera Arisandi.

    -----------------------------------------------------------------------------------------------------

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkandengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli