Teranyar

    Republik Maung: Tiket, Panpel GBLA dan Premanisme

    12 June 2017 15:04
    Hari Sabtu pagi saya reservasi tiket online untuk nonton Persib vs Persiba. Reservasi berjalan  lancar dan masih banyak kuota yang belum terisi. Mungkin karena efek kecewanya Bobotoh terhadap beberapa hasil pertandingan Persib sebelumnya.

    Minggu pagi saya tukarkan di Stadion Siliwangi, dan sangat sepi sekali loket penukarannya, sampai-sampai ada yg menanyakan pembelian langsung, masih bisa dilayani di Graha Persib.

    Ieu Rame Lur: T-Team Batal Ngarekrut Makan Konate ! Kode ?

    Setelah adzan isya berkumandang, dengan menggunakan sepeda motor saya bergegas berangkat ke stadion. Ketika memasuki parkiran Stadion, taerlihat beberapa orang yang mencegat Bobotoh bermotor sambil mengacungkan tiket parkir. Masalahnya mereka mencegat Bobotoh dengan cara yang sangat tidak etis dan sangat memaksa!

    Tiket seharga lima ribu Perak tersebut saya ambil dengan terpaksa. Dengan perasaan jengkel, saya baru saya diperbolehkan masuk ke area parkiran stadion setelah membayar tiket parkir.

    Saya dapat tempat parkir didekat Mushola berjalan (salut sekali untuk hal ini), saya sempatkan sholat isya. Setelah selesai lalu masuk ke stadion.

    Saat di gerbang pemeriksaan tiket masuk, sudah banyak orang bertubuh besar sambil berteriak-teriak "tiketnya ambil! tiketnya ambil!"

    Saya kaget, lalu saya perlihatkan sama mereka penjaga tiket tersebut. Saya melihat gelagat mereka tidak akan mengembalikan tiket, maka saya paksa ambil kembali dengan setengah merebut.

    Di dalam ada 2 orang berseragam merah (dari Panpel kayaknya) sambil menenteng mesin barcode wireless meminta tiket saya dengan sopan utk discan barcode-nya. Dengan nada khawatir ia berbicara perlahan "Lain kali Bapak langsung gelangkan tiketnya di pergelangan tangan Bapak, biar tidak terjadi seperti barusan".

    Oh, ternyata pencegatan tiket dan pengambilan paksa tiket tersebut adalah modus para penjaga tiket agar menjual kembali tiketnya kepada mereka yang belum dapat tiket di luar stadion (tiket keriting?).

    Masuklah saya ke dalam stadion dengan perasaan mangkel gak karuan, dan sedikit terhibur melihat para pemain sedang melakukan pemanasan.

    Selebihnya di pertandingan, Bobotoh pencinta Persib pasti sudah tahu apa yang terjadi. Banyak botol mineral beterbangan (meniru drone) yang entah apa maksudnya mereka melempari para pemain lawan maupun Persib dengan botol tersebut.

    Saya pulang setelah gol satu-satunya tercipta di menit ke-87. Berikut paparan saya mengenai apa yang terjadi ketika Persib bermain di GBLA, semoga semakin membaik untuk ke depannya.

    Berikut beberapa catatan saya untuk Panpel:

    1. Perbanyak match steward/Polisi di antara penonton, bukan hanya di pinggir lapangan saja,

    2. Rapikan dan sterilkan area masuk stadion dari (maaf) pihak-pihak yg tidak berkompeten. Berikan HANYA kepada petugas Panpel saja kewenangan tersebut,

    3. Perbaiki sistem perparkiran, khususnya masalah ticketing seperti saya sebutkan di atas,

    4. Koordinasi intens dengan Tomas (tokoh masyarakat) setempat, Ormas dan stakeholder di dekat Stadion, biar tercipta sinergi yang 'ngeunaheun' bagi Bobotoh,

    5. Perbanyak lampu penerangan di luar stadion,

    6. Hatur Nuhun

    Untuk teknis permainan, mangga lah dinilai masing-masing we.

    Tulisan ini dibuat demi terciptanya dan tercapainya cita-cita kita semua akan tontonan yang nyaman, venue yang aman, dan penonton yang beretika. Cag! (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Yunus Fadly

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli