Teranyar

    Salah ti Mimiti

    30 October 2017 10:43
    Di awal musim dan hampir di setiap saat ketika manajer kita tercinta ditanya mengenai siapa pemain yang akan dibeli Persib musim ini. Sangat lantang sekali beliau menjawab.

    "Membeli pemain itu sepenuhnya kami percayakan pada pelatih, tugas kami hanya berusaha mendatangkan pemain yang diinginkan pelatih”. Kira-kira seperti itulah jawabnya.

    Ieu Rame Lur: Ponpes Darul Huda Juara Liga Santri!

    Mau Tiket VIP Persib Gratis? Klik Di Sini...

    Namun yang kita lihat ternyata tidak seperti itu. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, apakah benar duo marque player Persib itu adalah keinginan pelatih? Apakah benar Maitimo adalah jawaban pelatih atas kekurangan Persib saat itu?

    Sedikit janggal...

    Beberapa hal yang membuat itu janggal adalah bukti bahwa pelatih saat itu (Djanur) sangat selektif dalam menyeleksi seorang pemain yang akan masuk Persib. Terhitung sampai 9 pemain (koreksi jika salah) yang diseleksi tidak ada satu pun yang lolos kriteria yang diinginkan.

    Sampai satu saat di mana ketika disodorkan nama Essien yang berstatus marque player, lalu ditambah Cole. Dengan dengan hampangnya beliau berkata, “Dia kan statusnya marque player jadi sudah tidak diragukan kualitasnya dan tidak usah diseleksi lagi”.

    Bayangkan Lur bagaimana perasaan ke-sembilan pemain yang tidak lolos seleksi mendengar kabar bahwa Persib mengontrak pemain marque player TANPA SELEKSI. Ketika mereka lihat penampilan striker marque player yang pada awalnya diagung-agungkan oleh semua pihak, termasuk bobotoh selama setengah musim, kami yakin dalam hati mereka akan bilang “HAKAN TAH MARQUEE PLAYER”!

    Entah saat itu pelatih sedang pusing atau atmosfir euporia yang juga menjangkit bobotoh, yang jelas jika kita berpikir sehat Persib saat itu tengah membutuhkan playmaker dan striker untuk menutupi kekosongan posisi. Sedangkan yang datang adalah dua orang dengan posisi natural sebagai gelandang bertahan dan satu orang striker jangkung yang ternyata hese lumpat.Hal inilah yang kami sayangkan saat itu.

    Ada satu pemain yang sebenarnya masuk dalam kriteria Djanur yang katanya ada selevel di atas Konate (sori lupa namanya). Namun entah alasannya apa pemain tersebut memilih klub lain untuk berkarir.

    Tapi jigana kalo disodorkan kontrak dengan jumlah yang sama dengan yang disodorkan pada marquee player, rada aya peluang jang asup. Intinya menurut kami dengan harga yang sama sebenarnya Persib bisa mendapat pemain yang lebih baik dari yang ada. Jangan lupa saat itu pemain yang sekarang bersinar di Bali United masih menunggu
    kepastian dari Persib

    Kenapa kami mengungkit lagi hal ini? Karena memang jika diperhatikan dua posisi inilah yang menjadi akar masalah permainan monoton Persib musim ini. Karena tidak ada sang kreator lapangan tengah, maka Djanur memaksakan strategi mapay gawir mengandalkan kecepatan sayap.

    Namun juga karena strikernya seperti itu, maka seorang pemain bertahan greget maju ke depan untuk mencetak gol, ketika serangan balik sang pemain pun kelelahan dan hilang konsentrasi. Inilah yang disebut salah ti mimiti.

    Dejan Antonic baru-baru ini mengomentari Persib dengan kalimat, ”dari dulu saya bilang untuk membuat sebuah tim kuat itu membutuhkan waktu”. Jika kami boleh menebak isi hati kecil Djanur maka kurang lebih mungkin ia akan berkomentar: “Ceuk aing oge naon? Sok pikiran kumaha carana nyieun tim alus teu make playmaker!"

    Nasi sudah menjadi bubur, mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi Bobotoh. Untuk selalu berpikir sehat dalam membangun Persib yang lebih kuat, jangan sampai euforia mengalahkan akal sehat kita, sehingga diam saja ketika ada hal janggal yang terjadi pada Persib.

    Da percuma jika sekarang kita turun ke lapang nyarekan pamaen, demo ka PT. PBB, ngomentaran intagram pamaen jeung sajabana. Tidak akan ada perubahan karena memang sudah salah ti mimiti.

    Dan karena euforia, kita diam saja ketika kita tahu itu salah.

    Saya pesan pada manajemen untuk membiasakan sesuai apa yang dibicarakan dan apa yang dilaksanakan mun bis amah ulah waka loba ngomong lah. Lieur kami mendengarnya, Sudah tunjuk saja pelatih dan silahkan serahkan semuanya pada pelatih. Sisanya hanya permainan menunggu sampai tim itu jadi kuat.

    Juga untuk bobotoh mari kita kawal sama sama kebijakan managemen untuk musim depan. Jika ada yang janggal maka kita suarakan saat itu juga jangan sampai menunggu hal ini terulang lagi. (Bobotoh.id/Ricky N.Sas)

    Ditulis oleh Ilham Hakiki, Mahasiswa Metalurgi Semester 3 Universitas Jenderal A. Yani

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Mau dapat tiket VIP gratis? Caranya mudah, silahkan kontak WA 089662541246 lalu klik di sini dan ikuti aturan mainnya, der ahhh.... Hatur nuhun ! (Isi Kode Reseller : RDK10)

    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli