Teranyar

    Silahkan Berbisnis, Tuntutan Bobotoh Hanya Juara !

    20 November 2017 20:08
    Mungkin Carlton Cole tidak tahu sejarah Umuh muchtar dengan Persib itu seperti apa. Saya coba pilih sisi tengah.

    Di tengah kegamangan seluruh klub di Indonesia yang harus lepas menyusu kepada APBD, mungkin sosok Umuh muchtarlah yang pontang-panting banting tulang untuk menyelamatkan muka dan nama Persib. Hingga kemudian ia dipertemukan dengan pengusaha yang bernama Glen Sugita. Tak ada yang salah dengan keduanya.

    Ieu Rame Lur: UMK Kota Bandung Naik Rp. 200 Ribu!

    Terbukti di tangan Pak Glen, Persib bisa menjadi satu-satunya tim yang mapan secara finansial. Tak ada tunggakan gaji ataupun berita negatif  untuk hal ini.

    Dengan kekuatan sister company, pak Glen sedikit demi sedikit mulai meraih profit dari investasinya ini. Karena Bobotoh punya daya beli (baca: daya konsumsi, red.) jauh lebih tinggi dari suporter manapun di Indonesia.

    Kalau sudah ngomongin Persib, Sudahlah enggak bisa dijelasin. Namun yang masih kurang di Persaib yakni struktur sebuah klub sepakbola. Karena jika ingin berjalan profesional, jelas dengan apa yang di sebutkan Cole sebagai player liasion.

    Persib hari ini, entah siapa yang mempunyai mandat tertinggi untuk menentukan pemain yang akan direkrut dan yang akan dimainkan. Semuanya belum jelas, ditambah di bench selalu ada saja orang-orang yang tak ada hubungannya dengan teknik permainan.

    Sudah tahulah kita. Pak Zainuri, Pak Kuswara. Mungkin untuk Umuh muchtar sendiri karena statusnya manajer dan di peraturan, manajer dan pelatih boleh berada di bench tidak menjadi masalah. Namun untuk yang dua tadi kenapa harus ada di bench? Apa kurang nikmat duduk di VVIP apa bagaimana?

    Makanya semuanya berimbas ke ranah prestasi. Okelah di tahun 2014 kita juara, namun itu juga karena ada beberapa faktor 'lucky' keberuntungan.

    Karena jika dilihat di papan klasemen Persib, kalau tidak salah, hanya bercokol di posisi 4. Memang dalam sejarahnya Persib belum pernah bisa menjadi Jawara jika liga ditentukan oleh sistem poin penuh.

    2014 kita juara? Namun apa yang terjadi, kembali gelap di musim berikutnya. Mulai kontrak per pemain rata-rata hanya 1 musim. Lalu tidak adanya prospek jangka panjang. Bahkan pelatih Djanur diganti Dejan yang sebelumnya melatih tiom sekota, Pelita Bandung Raya.

    Saat saya fikir itu akan menjadi prospek jangka panjang pertama. Namun ternyata di tengah jalan di-cut. Dengan digantikannya Djanur, Persib memulai lagi liga dengan sensasi yang begitu gila di awal musim. Namun di tengah jalan di-cut juga.

    Memang dalihnya tim tidak sesuai ekspektasi. Sekarang pertanyaannya, di mana ada sebuah kesuksesan tanpa progres tanpa proses?

    Bullshit ,jika manajemen tak tahu dengan itu. Pemilik Persib hari ini seorang pebisnis, pasti dia tahu akan hal ini. Namun untuk urusan sepakbola, kepengurusan tim, terlihat masih amatir.

    Hampir satu dekade PT. PBB berdiri, lalu apa perubahan yang paling mendasar? Adakah filosofi permainan yang dianut tim yang saling sinkron antara level junior hingga senior? Hingga ke tahap perekrutan malah seperti membeli baju distroan?

    Contoh pada kasus Cole dan saya komparasikan dengan Erik Week yang gagal masuk. Bobotoh yang mengikuti Persib pasti tahu maksud saya.

    Statement Cole tentang Persib dan sepakbola Indonesia tidak ada salahnya. Malah justru federasi sebagai induk tertinggi sepakbola harus mempunyai aturan yang lebih selektif untuk tim yang ingin disebut profesional.

    Jangan hanya dilihat dari aspek finansial saja yang jadi kelayakan. Tapi kepengurusan struktur tim juga harus sesuai dan jangan menabrak masing-masing job desk di tim itu sendiri,

    Karena hal ini juga akan berimbas kepada Timnas yang berkualitas di masa mendatang tentunya. Karena semua pemain sudah mendapat bekal yang cukup di akademi masing-masing.

    Jika mengacu pada statemen Cole tentang kurangnya edukasi sepakbola , memang butuh proses untuk menjadi liga yang baik dan dapat untuk menyamai klub-klub yang berada di Liga Inggris.

    Khusus untuk Persib seharunya lebih malu dan segera berevolusi segera berbenah. Karena jika tahun ke tahun tetap memaksakan sistem seperti ini, jangankan gelar juara, saya lebih khawatir bobotoh akan melakukan hal tak terduga untuk PT.PBB/manajemen. Misalnya mencabut mandat dan membuat mosi tidak percaya. Karena bagaimanapun Persib tanpa bobotoh adalah nothing.

    Jadi buat Pak Glen, mohon dijaga aset yang sangat penting untuk ladang bisnis bapak. Kami tidak memepermasalahkan jika bapak mengeruk keuntungan yang besar dari Persib. namun semuanya harus fair.

    Tuntutan bobotoh hanya prestasi yang gemilang semata. Enggak ada tuntutan Persib harus membeli pemain dunia tiap tahun. Tuntutan dasar bobotoh hanya juara, juara, dan juara.

    Sebetulnya masih banyak yang saya mau sampaikan, namun cukup di lain waktu dan itupun kalau ada kesempatan. Sekarang lebih baik sama sama tutup buku untuk musim yang sangat menguras air mata, tenaga, bahkan nyawa. (Bobotoh.id/Ricky N.Sas)

    Ditulis Oleh Angga Alterego.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli