Teranyar

    Tanpa Gelar Itu Kami Tetap Terbaik!

    18 February 2018 18:04
    Gelaran Piala Presiden yang berakhir tadi malam (Sabtu, 17/2/2018), seperti Milea yang sedang merindukan Dilan. Dengan menulis bait demi bait nostalgia kisah tentang mereka hingga tengah malam, penulis pun begitu.

    Tak ada rasa iri pada Persija karena berhasil menjuarai gelaran pra musim ini, mengapa? Karena jauh sebelum hari ini, kami mampu membungkam mereka yang sedang berpesta malam tadi dengan perayaan kecil 'Piala Kayu' di tempat yang sama, Stadion Utama Gelora Bung Karno-Senayan Jakarta.

    Ieu Rame Lur: Ini Kata Fisioterapis Persib Usai Mengiluan Football Medicine Course

    Harus diakui, tim kalian lebih siap dan lebih baik dari tim kami. Sepakbola bukan Soal satu atau dua pemain. Marco Simic tak akan jadi pahlawan JIKA Persija kalah 4-3 meskipun mencetak 2 gol.

    Banyak peran termasuk Supporter.

    Bak Milea bertemu Dilan ditengah jalan setelah 10 tahun tak berjumpa, BOBOTOH kembali menjadi supporter terbaik gelaran Piala Presiden 2018. Sulit dipercaya, batin sulit menerima, malu.

    Bagaimana tidak, belum sebulan dari hari ini nama besar BOBOTOH benar-benar tercoreng oleh sikap "bobotoh tanpa sumbu a.k.a bobotol" yang mudah sekali meledak emosinya dengan melempar botol ke dalam lapangan. Alih-alih ingin semua orang percaya bahwa yang dikatakan sebuah media online adalah hoax, hal itu justru menjadi bumerang dan kenyataan yang benar-benar nyata bahwa di pertandingan terakhir banyak pelemparan yang ke dalam lapangan.

    Baik agar lebih imbang, sebagai bobotoh, penulis akan mencoba meluruskan bahwa yang ditulis oleh media tersebut adalah HOAX 100% karena wartawan tersebut mengatakan bahwa bobotoh melempar botol ke arah pemain PSMS Medan. Kenyataannya pelemparan botol hanyalah sikap tidak terpuji dalam meluapkan emosi karena melihat permainan Persib.

    Tak ada keinginan untuk menyerang pemain PSMS Medan.

    Sehari setelah pertandingan melawan PSM Makassar bobotoh benar-benar menjadi 'public enemy' yang di-cap sebagai supporter urakan yang tidak bisa menerima hasil di lapangan. Media elektronik dan media sosial kompak menyerang Bobotoh. Tapi kami akui jika memang kami salah dan tidak dewasa menghadapi persoalan di lapangan.

    Kembali ke masalah titel, entah apa penilaian yang dijadikan landasan panitia penyelenggara memilih kembali Bobotoh sebagai Supporter Terbaik, no logic, unfair. Dari sisi penjualan tiket kah? Atau dari koreografi kah? Atau dari militansi kah?

    Jika dari koreografi yang dibuat teman-teman Viking saya rasa okelah bisa diterima, namun ketika kita bicara "terbaik" haruslah objektif dalam berbagai aspek, baik teknis (penjualan tiket, kontribusi kepada klub dll) maupun non teknis (sikap di tribun dll).

    Saya rasa kejadian memalukan tempo hari silam masih sangat membekas di ingatan insan pencinta sepakbola tanah air terutama Persib haters, yes!

    Haters will be hate! Kalo gak gitu gak makan!

    Banyak spekulasi bermunculan yang mungkin saja menciptakan iklim kurang baik di tubuh bobotoh itu sendiri. Namun pandangan penulis mengkerucut kepada satu kemungkinan, jika memang ini adalah bagian dari panggung politik orang yang sedang berkuasa dalam memandang pilkada Jawa Barat 2018 ini benar-benar keterlaluan.

    Ini bukan sekedar titel "terbaik" namun lebih dari itu ada penilaian yang seharusnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan, bagaimanapun Bobotoh dan Persib adalah hal yang tidak dapat dipisahkan.

    Terakhir penulis membaca bahwa kang Yana Umar akan menyumbangkan seluruh hasil dari penobatan "Supporter Terbaik" ke yayasan yatim piatu, big respect. Namun, kembali lagi, karena ini menyangkut harga diri Bobotoh, sebaiknya #TolakSupporterTerbaik.

    Penulis sangat setuju uang tersebut disumbangkan, tetapi harus dibuat sikap dan pernyataan resmi dari pentolan Bobotoh jika titel itu diberikan kepada yang berhak, Baik Sameton Bali atau Bonek, penulis rasa itu jauh lebih terhormat.

    Ke depannya, jangan karena "hai" setitik rusak move on 10 tahun, jangan karena bobotol saeutik rusak BOBOTOH sa-stadion, artinya mari kita semua saling menjaga diri dan teman-teman satu tribun agar lebih bisa menjaga emosi.

    Pukulan telak juga untuk panpel yang tidak mampu mengantisipasi banyaknya botol yang masuk ke dalam tribun.

    Bagi kami tanpa titel "supporter terbaik" kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk tim kami.

    Kami tidak butuh titel itu meskipun diberikan kepada kami setiap pertandingan.

    Terakhir, Mengutip cuitan dari kang Ardy Nurhadi Shufy di twitter, yang mengatakan bahwa: "Indikator Bobotoh jadi suporter terbaik adalah sabar terhadap segala cobaan yang menghampiri; sabar ketika diuji klub sendiri. Terbaik." (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Fahmi Mauluddien, Bobotoh bukan Bobotol yang biasa berselancar di akun media sosial @fahmiamet

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli