Teranyar

    Tinjauan Pramusim I: Persib Ngiblat Ke Mana?

    18 November 2017 17:56
    Tinjauan pramusim bagian I ini dimimitian ku komentar Carlton Cole mengenai kondisi internal Persib. khususnya peran WHU yang dilansir di sebuah portal sepakbola. Simpang siur fungsi manager-pelatih menyeruak.

    Banyak rekan saya yang bertanya, "naon beda pelatih dan manager dalam sepakbola? kan sarua kitu-kitu keneh pagaweanna mah?"

    Ieu Rame Lur: Mangprang Malam: Nuhun Maitimo, Sinyal Vlado, Beli Saham Persib

    Saya pun menjawab "beda ateuh !"

    Sajorelat ingatan saya melayang pada gim Football Manager. Football manager, bukan Football Coach. Obrolan pun berlanjut
    diselingi secangkir kopi haneut buatan istri.

    Dari sana saya mencari berbagai literatur dan menemukan bahwa berdasarkan linguistik (tata bahasa) aya 2 kiblat soal pelatih dan manager ieu. Kiblat ke Inggris dan kiblat ke Amerika.

    Versi pertama, British English. Secara harfiah kurang leuwih intina manager teh nyaeta seseorang yang memiliki otoritas penuh dalam mengatur klub. Mulai urusan harga tiket, sponsor, penjualan pernak-pernik, pembangunan fasilitas, pengawasan taktik, pormasi dan prestasi di lapangan.

    Berdasarkan kamus yang sama, pelatih memiliki makna sebagai guru, instruktur, dan penasihat. Tugasnanya jelas hanya fokus mempersiapkan tim. Cukup mempersiapkan!  Pemilihan taktikal, formasi dan starting 11 mah balik deui ka manager.

    Contoh versi ieu nu jelas mah aya di sosok Sir Alex Ferguson selaku manager di Manchester United. Dalam bukunya Leading, Sir Alex tugasna edun pisan.

    Ti mulai milih, nego jeung ngontrak pemain, taktik jeung strategi, ngurus pemain bocah siga Becks jeung Giggs. Oge senior nu hareuras siga Keane jeung Smichel. Nepi ka urusan catering jeung ketebalan rumput stadion Old Trafford.

    "Ketika kamu menjadi manajer, sangat penting untuk peduli terhadap detail, tapi penting juga untukmu mengetahui jika tidak akan ada cukup waktu dalam satu hari untuk mengecek semuanya,"

    Saat Sir Alex riweuh urusan managerial, urusan taktik dihandle ku pelatih, sebut saja Archie Knox, Brian Kidd, Steve McClaren, Jimmy Ryan, Carlos Queiroz, Walter Smith sampai Mike Phelan. Eta otak taktikal MU na mah.

    Sir Alex cukup menentukan pemain mana yang paling siap diturunkan berdasarkan laporan ti pelatih. Sir Alex beserta staff kepelatihannya tentu juga memiliki sertifikasi sesuai prasyarat liga.

    Versi kadua nyaeta American English, manajer bertanggung jawab untuk hal-hal yang lebih bersifat dukungan administratif, mengatur administrasi, persiapan kesebelasan di luar lapangan sampai ka masalah perekrutan pemain dan material untuk tim.

    Sementara pelatih sebagai orang yang memiliki peran kreatif dan kepemimpinan. Nyaeta figur anu tugasna memberikan porsi latihan, meracik strategi, dan memberikan instruksi di lapangan tanpa diintervensi oleh tim balik layar yang kurang menguasaimateri di atas lapangan.

    Contoh versi ieu Mauricio Pochettino jaman di Southampton jeung Paulo Di Canio jaman di Sunderland. Mereka leuwih milih disebut 'Head Coach' daripada manager.

    Mereka berdua tidak terlibat dalam pemilihan pemain ti awal. Tugasna ge "ngan saukur" ngurusan latihan pemain jeung taktikal tim di lapangan.

    Selain dari sisi linguistik, terdapat pula kiblat manager- pelatih dalam sisi terminologi (istilah). Versi pertama merujuk pada kiblat secara linguistik versi Inggris yang sudah dibahas di atas.

    Kiblat sisi terminologi ieu dipake hanya di English Premier League (EPL) hungkul. Versi kedua terminologi ieu ayana di Eropa salian ti Inggris jeung Britania Raya.

    Dalam versi kedua ini tidak dikenal istilah manager. Istilah anu dipake nyaeta Director of football atau gampang na mah direktur teknik yang memiliki tugas sebagai media komunikasi pihak manajemen dan tim kepelatihan. Direktur teknik ieu anu jadi jembatan terutama soal pembelian jeung penjualan pemain.

    Contoh versi kedua terminologi ieu misalna di Barcelona. Ernesto Valverde selaku pelatih, menta fasilitas latihan jeung pemain ka Robert Fernandez selaku direktur teknik untuk kemudian diteruskan ke Ernesto Valverde selaku presiden klub.

    Pengecualian istilah versi ieu aya di Manchester City ayeuna. Meskipun maen di EPL, Manchester CIty oge ngabogaan direktur teknik salian ti manager.

    Sama seperti di tubuh Barca, di City, Pep Guardiola sebagai manager menta fasilitas latihan jeung pemain ka Txiki Begiristain selaku direktur teknik untuk kemudian diteruskan ka Syekh Mansour selaku pemilik.

    Apakah Fernandez jeung Txiki selaku direktur teknik boga sertifikasi kepelatihan? Tentu tidak! Nu boga mah Valverde jeung Pep.

    Pernahkah Fernandez jeung Txiki selaku direktur teknik milih pemain untuk direkrut, ngatur starting 11, ngatur strategi pas bertanding? Mustahil! Da teknikal mah gawe na pelatih.

    Tah ayeuna ari Persib kiblatna kamana? Dari laman resmi Persib, dalam struktur organisasi hingga saat ini (18/11/2017), Umuh Mukhtar menjabat manager dan (calon profesor) Emral Abus sebagai pelatih kepala.

    Tidak ada istilah direktur teknik. Direktur teknik terakhir PERSIB nyaeta Jovo Cukovic tahun 2011 dan Abah Indra Tohir Tahun 2012. Pelaksanaan tupoksi na kumaha?

    Struktur organisasi nyatanya tidak menjawab pertanyaan di atas. Persib kiblatna kamana? Teu jelas!

    Kalau Persib berkiblat ke British, peran WHU saat ini sudah benar. Beliau ngurus pemilihan pemain, pelatih, fasilitas sampai ka urusan bonus jeung denda.

    Peran pelatih Emral dan para asisten sudah benar oge. Cicing weh di bench. Merekomendasikan menu latihan bersama para asisten pelatih,merekomendasikan starting line up dan taktik di lapangan hingga rekomendasi pergantian pemain.

    Sebatas rekomendasi hungkul. Da nu menentukan mah tugas manager. Kesalahan taktikal atau pemilihan pemain pun bukan kesalahan pelatih, melainkan manager yang memiliki otoritas penuh anu geus saya bahas diluhur.

    Dari aspek sertifikasi kepelatihan, apakah WHU punya sertifikasi? Mangga dijawab nyalira.

    Lain halnya ketika berkiblat ke American. Emral (dan dulu Djanur) seharusnya merekomendasikan pemain yang diinginkan, memilih menu dan porsi latihan hingga strategi di lapangan. Intina mah lebih berani dalam menjalankan tupoksinya sebagai pelatih tanpa intervensi dari siapapun.

    Manager atau seharusnya mah direktur teknik, fungsina menjembatani kahayang pelatih ka manajemen. Lebih kepada urusan duit dan fasilitas. Cukup sakitu. Kesalahan milih pemain, taktikal hingga teknis di lapangan murni tanggung jawab pelatih.

    Terakhir, terkait dengan komentar Cole, saya jadi bertanya sakali deui. Persib ngiblat kamana? Ada yang bisa jawab? (Bobotoh.id/Ricky N.Sas)

    Ditulis Oleh Riky Arisandi,  ayah dari Muhammad Yashvir Arisandi dan Nazneen Yasheera Arisandi

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli