Teranyar

    Tinjauan Pramusim II : Pentingnya Kedalaman Skuad

    20 November 2017 22:35
    Setelah sebelumnya membahas tentang kiblat PERSIB di Tinjauan Pramusim I: Persib Ngiblat Ke Mana? Tinjauan pramusim berlanjut ka bagian II.

    Di dieu saya akan mencoba mengupas pentingnya kedalaman skuad dengan membandingkan skuad PERSIB 2014 dengan 2017. Skuad juara dengan skuad anu kahayangna mah juara!


    Ieu Rame Lur: Tinjauan Pramusim I: Persib Ngiblat Ke Mana?

    Pada musim 2014, PERSIB diisi oleh 21 pemain yang terdiri dari 3 orang kiper (Made, Sahar dan M. Natshir); 7 orang pemain bertahan (Supardi, Toncip, Jasuk, M. Agung, Jupe, Abdul Rahman dan Vlado); 6 orang pemain tengah (Atep, Firman, M. Ridwan, Taufik, Mas Har dan Konate) serta 5 orang pemain depan (Tantan, Sigit, Ferdinand, Rudiana dan Coulibaly).

    Kedalaman skuad musim 2014 lebih baik dari musim 2017. Naha?

    Kita bedah lebih dalam. PERSIB musim eta biasa menggunakan formasi andalan 4-4-2 atau 4-4-1-1 dan 4-5-1.



    Dari ilustrasi di atas, Bobotoh bisa menilai bahwa komposisi skuad PERSIB harita leuwih berimbang. Artinya kedalaman skuad harita oge mumpuni untuk mengarungi musim yang padat hingga JUARA pada akhir musim.

    Di lini kiper, harita Made mendominasi, tapi ketika Made off karena cidera, Sahar tampil sama baiknya. Harita Deden masih anak bawang.

    Di lini belakang, ketika Vlado/Jupe cedera atau terkena akumulasi, Abdul Rahman tampil juga sama baiknya. Postur yang sama tinggi serta berbadan besar, membuat lini pertahanan PERSIB sulit ditembus. Begitu juga di kedua bek sayap. Supardi-Toncip memiliki pelapis Jasuk-Agung yang sama baiknya.

    Bergeser ke tengah, Mas Har-Taufik sebagai DMF dan Konate-Firman mantap berbagi peran di engine room Persib. Di sayap Ridwan-Atep bisa diisi posisinya oleh striker anu hobina lulumpatan Tantan-Ferdinand.

    Lini serang harita memang terlihat minimalis, tapi nyatanya Tantan-Ferdinand-Coulibaly mempu menjawab tantangan.

    Sebagai catatan, Agung dan Jasuk di lini belakang termasuk utilitiy player anu bisa oge digeser berganti sisi atau bahkan menjadi bek tengah bila diperlukan. Konate di tengah juga punya peran free role anu bebas berkreasi dan bergerak di lapangan. Tantan-Ferdinand oge termasuk utility player anu bisa bermain di sayap.

    Bandingkan dengan musim 2017 di mana PERSIB sesak dengan 28 pemain terdiri dari 3 orang kiper (Made, M. Natshir dan Imam); 8 orang pemain bertahan (Supardi, Toncip, Jasuk, Jupe, Vlado, Wildansyah, Purwaka dan Henhen); 13 orang pemain tengah (Atep, Mas Har, Kim, Essien, Dado, Zola, Basith, Bow, Shohei, Maitimo, Agung, Puja dan Billy) serta 4 orang pemain depan (Tantan, SVD, Angga dan Cole yang digantikan N'Douassel).



    Dari ilustrasi di atas, dan juga hasil akhir musim ini, bobotoh bisa menilai bahwa komposisi skuad PERSIB terlalu gembung dan tidak berimbang. Di lini kiper, Deden mulai bersemi menggeser Made, Imam mah cukup duduk manis sabari ngemil kuaci.

    Di lini belakang, ketika Vlado/Jupe cedera atau terkena akumulasi, Wildan anu posisi aslina bek sayap diplot jadi bek tengah. Postur Wildan ieu seringkali menjadi titik lemah di lini belakang. Purwaka muncul di paruh kedua sebagai pelapis bek tengah.

    Di bek sayap, Henhen semakin matang di posisinya, terutama ketika Supardi hajian. Ketika kembali Supardi seringkali bergeser posisi bek kiri bergantian dengan Toncip. Di posisi ini Jasuk harus rela menemani Imam ngopi kuaci.

    Bergeser ke tengah, sumpek Mas Har-Essien-Maitimo-Dado posisi aslinya sebagai DMF dan Zola ngan hiji-hijina pemain dengan posisi murni AMF. PERSIB tak lagi punya engine room anu meded.

    Di sayap Bow-Atep bergantian dengan Tantan-Shohei lulumpatan mapay gawir. Billy adalah senjata rahasia di sektor ini. Basith, Agung, Puja mulungan kuaci sesa Imam & Jasuk.

    Lini serang Cole yang nyaris euweuh fungsina. SVD cedera panjang. Maitimo dipaksakan jadi ST. Hasilna nya kitu tea. PERSIB buntu.

    Paruh musim PERSIB mendatangkan N'Douassel dengan ekspektasi tinggi. Lumayan, N'Douassel ieu utilitiy player anu bisa oge bergerak di sisi bila diperlukan. AMF bertipe playmaker mah angger lapur.

    Dari komparasi di atas, saya tekankan kedalaman skuad SANGAT PENTING untuk mengarungi liga yang panjang oge jarak tempuh pertandingan kandang-tandang di Indonesia yang berjauhan. Faktor usia, cedera, akumulasi kartu, kelelahan serta panggilan timnas tentunya akan mengganggu komposisi skuad dalam bertanding.

    Bila diimbangi dengan komposisi skuad serta kualitas skuad yang baik, hartina kedalaman skuad oge baik. Tentunya hal itu tidaklah menjadi masalah.

    Pilih mana kedalaman skuad atau kedalaman fulus?? Sok atuh, SIB, geura bebenah, gera milih pelatih, gera neangan skuad anu sesuai kahayang pelatih (lain nu lain). Geura karantina pemain jang pramusim. Bisi beuki loba anu mengundurkan diri. Kalau si dia yang mundur kumaha nya??? Mangga diemutan. (Bobotoh.id/Ricky N.Sas)


    Ditulis Oleh Riky Arisandi, ayah dari Muhammad Yashvir Arisandi dan Nazneen Yasheera Arisandi

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

    Ayo Dibeli