Teranyar

    Bisakah Persib Bandung Mengugat PSSI & LIB Kepada AFC & FIFA?

    8 October 2018 19:59

    Bagian 1 Dari 2 Bagian Tulisan

    Bisakah Persib Bandung mengugat PSSI dan PT. Liga Indonesia Baru atau bahkan melaporkan PSSI dan PT. Liga Indonesia Baru kepada AFC dan FIFA karena tidak mampu mengelola bahkan sering kali gagal dalam menyelenggarakan pertandingan yang baik?

    Ketidakmampuan PT. Liga Indonesia menghadirkan perangkat wasit yang benar-benar adil sesuai dengan laws of the game untuk memimpin semua pertandingan-pertandingan baik di liga 1, liga 2, dan liga 3 selama ini, adalah salah satu sumber permasalahan yang timbul selama ini.

    Ieu Rame Lur:

    Krisis Penyerang, Ronggo Siap Mengwaler Kepercayaan Gomez!

    Vikbor Kaltim Tetap Akan Memere Dukungan Pada Persib Bandung!

    Sudah banyak kasus pertandingan yang bangsa Indonesia ini ketahui melalui berita online maupun surat kabar konvensional. Bahkan pertandingan live di televisi pun tidak luput dari kejadian kejadian di mana pertandingan yang sedang berlangsung diwarnai kericuhan yang disebabkan oleh kurang cermatnya hakim garis untuk menentukan kondisi offside maupun on side, pembiaran terhadap pelanggaran, tidak tepatnya pemberian kartu. Justru menjadi awal terjadinya bibit-bibit permasalahan yang menimbulkan kericuhan. baik bagi para pemain, official, bahkan sampai para pendukung kedua tim yang sedang bertanding.

    Tidak adil rasanya ketika pihak PT. Liga Indonesia Baru menuntut kepada peserta liga untuk menjungjung tinggi sportifitas dan fair play, menambah infrastruktur lapangan dan sebagainya namun di sisi lain mereka tidak memenuhi kewajibannya untuk menghadirkan wasit yang benar benar profesional seperti layaknya wasit yang ada dibelahan dunia lainnya.

    Ieu Rame Lur:

    TPF Sudah Sesuai Prosedur!

    Tidak Meraos Terbebani Walau Maung Sedang Cingked!

    Apabila perangkat wasit mampu menjalankan tugasnya sesuai dengan laws of the game dalam memimpin pertandingan, rasanya pemain pun akan menerima dan menghormati semua keputusan wasit.
    Namun karena adanya rasa ketidak percayaan terhadap keprofesionalan wasit membuat hampir semua keputusannya akan diprotes oleh semua pihak dilapangan, keputusan yang tepat pun seringkali di protes.

    Lihatlah bagaimana kejelian wasit liga inggris terhadap situasi offside yang kadang terjadi sangat tipis, kemampuan mereka untuk berdebat dengan pemain tentang keputusan yang dibuatnya, sampai kemampuan mereka meredam tensi pertandingan. Sehingga membuat pertandingan sepakbola berlangsung dengan baik.

    Menonton pertandingan sepakbola di luar negeri khususnya Eropa sungguh sangat menghibur. Namun apalah daya, kemampuan sumber daya kita belum mampu (atau belum mau) mengikuti perkembangan industri sepakbola di sana.

    Di sana, suatu pertandingan sebakbola didukung dengan berbagai macam teknologi serta kemampuan pihak televisi sebagai pihak peliput yang menyiarkan langsung pertandingan tersebut dengan demikian menarik yang bisa meminimalisir terjadinya kontroversi sekaligus tayangan yang yang enak ditonton.

    Headset yang dipakai oleh wasit memudahkan bagi mereka untuk berkoordinasi di antara perangkat pertandingan.Teknologi garis gawang yang terhubung dengan jam tangan yang dipakai wasit menghilangkan sah atau tidaknya sebuah gol.

    Apalagi jika kita menyebut penyelenggaraan Piala Dunia 2018 kemarin di Rusia yang menggunakan bantuan Video Assistant Referee yang diharapakan akan membantu wasit dalam memutuskan suatu kejadian dalam pertandingan.

    Tayangan ulang atau replay yang terjadi di televisi sangat membantu penonton di rumah untuk menilai suatu kejadian.

    Bandingkan dengan tayangan langsung di televisi Republik kita yang tercinta ini. Selain daripada tampilan maupun angle yang terbatas, ditambah pula dengan mengecilnya tampilan dikarenakan adanya iklan yang tayang selama pertandingan.

    Komposisi sorotan kamera terhadap penonton juga terlalu banyak dan sering.

    Siaran pertandingan Liga 1 Indonesia hanya bisa dinikmati melalui antenna UHF atau menjadi pelanggan televisi berbayar. Karena yang melalui antenna parabola akan diacak.

    Tidak semua masyakat di wilayah Indonesia bisa menyaksikan Liga Indonesia. Bagi mereka yang berada mengandalkan antenna parabola karena wilayahnya tidak terjangkau sinyal UHF, pilihannya hanya satu. Yaitu ikut berlangganan TV berbayar.

    Jangankan di pedalaman kalimantan atau papua. Di Jawa Barat sendiri yang notabene dekat dengan Jakarta, masih ada daerah yang belum terjangkau sinyal UHF. Sehingga mengandalkan antenna parabola untuk mendapatkan siaran televisi. (Bobotoh.id/RCK. Foto: AH)


    Ditulis oleh Uus Syarief

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Ayo Dibeli