Teranyar

    BKKBN Kudu Melakukan Stratehi Berbeda

    29 January 2021 17:33
    Oleh karena itu metode komunikasi BKKBN juga harus berubah, harus berkarakter kekinian, penyampaian informasi gunakan media yang kekinian
    "......Jadi target 14% di 2024 bukan target enteng tapi kalau kerja serius, lapangan dikuasai, bekerja sama, berkolaborasi, saya kira penurunan stunting bisa dilakukan secara signifikan," 
    - Presiden Jokowi

    Kamis, 28 januari 2021 kemaren, Presiden Jokowi meméré arahan dalam rapat koordinasi nasional kemitraan program bangga kencana 2021 di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan. Sang Presiden mementa peranan berlebih dari BKKBN, tidak hanya sekadar mencatat jumlah anak dan jarak antar kelahiran pada keluarga di Indonesia.

    "Paling penting disosialisasikan adalah membangun ketahanan keluarga, membangun ketahanan keluarga secara utuh dalam berbagai bidang baik kesehatan ekonomi, pendidikan anak, dan kebahagiaan keluarga," jelasnya.

    "Mulai dari penanganan gizi, kualitas sanitasi, kualitas lingkungan, akses pendidikan, kesehatan, sampai terjaganya sumber pendapatan adalah pilar kesejahteraan dan ketahanan keluarga Indonesia," tambah Jokowi.

    Ceuk Jokowi BKKBN beserta seluruh jajaran pusat sampai ke desa kudu melakukan stratehi berbeda dalam melakukan pendampingan dan pemberdayaan, terutama kelompok generasi muda.

    "Semua punya gawai, gadget, semua punya HP dan sering melihat HP. Aktif di media sosial. Oleh karena itu metode komunikasi BKKBN juga harus berubah, harus berkarakter kekinian, penyampaian informasi gunakan media yang kekinian," katanya.

    Jokowi pun mengomomgkeun pasca BKKBN ditunjuk sebagey ketua pelaksana penanggulangan stunting. Pemerintah memiliki target bisa menurunkan angka stunting menjadi 14% pada 2024 mendatang.

    "Bukan angka mudah tapi saya meyakini kalau di lapangan dikelola dengan manajemen yang baik, angka ini bukan angka yang sulit," katanya. (Bobotoh.id/HR-Irfanbkkbn)