Teranyar

    Bukan Sekadar Mengriung Di Situ Cileutik. Nih Hasilnya, Kespro Penting Keur Cegah Stunting !

    21 October 2020 14:41
    Ceuk Kusmana perlu sebuah kebijakan nu mengatur (policy rules) keur mempercepat penurunan stunting. Kebijakan ini mengatur mulai pranikah, kehamilan, hingga masa interval kelahiran
    Selasa, 20 Oktober 2020, di bawah rindang pepohonan kawasan ekowisata Situ Cileutik yang rencananya bakal dikembangkan mengjadi kampung keluarga berkualitas (Kampung KB), di Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Nakoda BKKBN Jabar, Kusmana meméré ingformatsi dan bekal kepada puluhan kader pos KB dan sub pos KB, kader pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub PPKBD yang berada di lini lapangan program Bangga Kencana, soal pentingnya kesehatan reproduksi alias kespro.

    Dengan rumus jitu komunikasi, ingformatsi, dan edukatsi, Kusmana mengcarioskeun yén kespro merupakan awal dari pangwangunan keluarga berkualitas. Termasuk di dalamnya pencegahan anak tumbuh pendek dan kerdil atow stunting.

    "Mungkin, kita akan kesulitan menyampaikan materi kespro kepada masyarakat karena kita bukan tenaga medis. Tapi, bukan berarti kudu mundur. Ada tilu gambaran yang mudah jeung sederhana keur menyampaikan resiko-resiko kesehatan reproduksi," tutur pria yang selalu gumbira dan menggumbirakan bayak orang ini.

    Kahiji, kaitannya kespro dengan penundaan usia kawin keur rumaja. Lain sekadar kesiapan ekonomi, pernikahan berkaitan erat jeung kematangan organ-organ reproduksi. Kematangan ini berhubungan dengan kesehatan calon ibu dan bayi ketika kelak melahirkan.

    Kadua, kawin ngora juga sangat berisiko terjadinya kanker mulut rahim atau kanker serviks. Hal ini terjadi akibat hubungan seksual terlalu dini. Menurutnya, mulut rahim perempuan usia kurang dari 18 tahun masih pada fase ektropion alias proses termuka menuju matang. Inilah yang kemudian memicu kanker mulut rahim pada 15-20 tahun kemudian.

    Katilu, persalinan usia kurang dari 20 tahun berkaitan erat dengan stunting. Pendarahan dan kecatatan pada kepala bayi sangat berisiko melahirkan bayi stunting. Kepala bayi yang mengecil dengan sendirinya mempersempit volume otak dan menganggu pertumbuhan organ lain secara optimal. Karena itu, Kusmana menilai upaya pencegahan stunting terbaik adalag melalui pendewasaan usia perkawinan.

    “Semangat 21-25 Keren yang diluncurkan Pak Gubernur dan Bu Cinta sangat efektif untuk mencegah stunting. Rumaja Jabar didorong untuk menikah pada usia ideal, 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Ini sangat sejalan dengan konsep pencegahan stunting yang diajukan BKKBN kepada Bapak Presiden,” papar Kusmana.

    Dari ketiganya, BKKBN memeunteun penyebab langsung “hanya” menyumbang 30 prosen terjadinya stunting. Itu pun beririsan dengan penyebab angtara. Sementara penyebab tidak langsung dan penyebab angtara mengjadi penyebab 70 prosen terjadinya stunting. Hueseus penyebab teu langsung, penanganan stunting bisa dilakukan seperti yang sudah berjalan selama ini via kamenterian dan lembaga terkait.

    Tegas Kusmana perlu sebuah kebijakan nu mengatur (policy rules) keur mempercepat penurunan stunting. Kebijakan ini mengatur mulai pranikah, kehamilan, hingga masa interval kelahiran. Pada fase pranikah, kebijakan mengatur mulai pendaftaran bimbingan kespro dan skrining kesehatan calon pengantin secara daring paling lambat tiga bulan sebelum nikah.

    “Dalam waktu tilu bulan dijamin tidak ada yang gagal nikah. Bagi yang belum memenuhi syarat hamil, nikah tetap bisa dilaksanakan tetapi KB dulu. Jika semua sudah dilakukan diberikan tanda kelulusan yang diserahkan ke KUA,” papar Kusmana.

    Koordinator Sub Bidang Kesehatan Repduksi BKKBN Jabar, Arif Rifqi Zaidan pun menambahkan, selama ini pihaknya aktif meméré layanan pameriksaan inspeksi visual asam asetat atau IVA test keur melakukan deteksi dini kanker serviks. Metode tes ini dipilih keur mengbantos menyelamatkan perempuan dari kanker mulut rahim. Selain relatif mudah dilakukan, hasilnya bisa diperoleh leuwih cepat.

    “Kami mémeré layanan pemeriksaan IVA test di Kota Banjar kepada 100 perempuan. Dalam pelaksanaannya, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Banjar menggandeng Klinik Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) Muhammadiyah Kota Banjar. Klinik ini menjadi mitra BKKBN dan DPPKB Kota Banjar dalam pelayanan kontrasepsi dalam rangka peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia beberapa waktu lalu,” terang Zaidan, begitu jentré. 

    Pria yang menggilai sapedah ini, mengomongkeun sosialisasi kespro kepada para petugas lini lapangan, merupakan rangkaian dari kegiatan BKKBN Jabar untuk terus meméré penyadaran kepada masyarakat, tentang pentingnya kesehatan reproduksi bagi pangwangunan keluarga secara berkesinambungan. Karena mereka ujung tombak KIE kespro maupun program Bangga Kencana kepada keluarga sasaran.

    Ucapan hatur nuhun datang ti Kepala DPPKB Kota Banjar, Saifuddin, kalau dukungan BKKBN yang selama ini aktif mengawal dan meméré fasilitasi program Bangga Kencana di Kota Banjar, sangat warbiyasah. Peran aktif BKKBN, berhasil menyieun Kota Banjar sebagéy salah satu daerah dengan kinerja Bangga Kencana terhade di Jabar. Keren inih program....! 

    “Upaya-upaya diseminasi atow penyebaran dan advokasi yang dilakukan langsung kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya turut mengdorong peran serta lintas sektor terhadap program Bangga Kencana ini. Saat ini, seluruh desa dan kelurahan di Kota Banjar sudah mengalokasikan dana heuseus keur program Bangga Kencana. Jumlahnya bervariasi bergantung kesiapan dan prioritas wilayah yang bersangkutan,” terang Saifuddin.

    Di tingkat Pemerintah Kota, Saifuddin mengungkapkan, Kota Banjar mengalokasikan dana heuseus dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk program Bangga Kencana. Termasuk di dalamnya adalah peruntukkan untuk ingsentif keur para kader lini lapangan dan pengelola kampung KB. (Bobotoh.id/HR - NJP)