Teranyar

    Cari Dukungan untuk Jabar 1, Iwan Bule Sudah Menghina Sepakbola Nasional

    29 December 2020 14:12
    Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. (Foto: PSSI)
    Bagi mBah Coco, Iwan Bule sudah melecehkan dan menghina permainan sepakbola, yang sudah menjadi super industri, dan budaya moderen dibanyak negara.






    Ketika Mencari Dukungan Untuk Jabar 1

    IWAN BULE SUDAH MENGHINA SEPAKBOLA NASIONAL


    Luar biasa sekali manuver-manuver Ketua Umum PSSI, Iwan Bule. Walaupun beritanya sudah kadaluwarsa. Namun, ketika diunggah kembali, bahwa orang nomer satu di “kursi panas” sepakbola nasional. Judul beritanya, Incar Pilgub 2023, M. Iriawan Mulai Cari Dukungan di Jabar, edisi 17 Oktober 2020, dari IDN Times. Menurut mBah Coco, adalah penghinaan terhadap sepakbola nasional.

    Marwah permainan sepakbola, sudah menjadi super industri. Hampir 112 negara anggota FIFA, jika ingin bertemu dengan presidennya Gianni Infantino, harus “waiting list”. Termasuk, jika Jokowi ingin bertemu atau telepon, harus sabar menunggu.

    Bicara kekayaan, FIFA punya kekayaan selain uang ribuan trilyunan, juga punya kekayaan yang tak bisa ditandingi oleh event apa pun di bumi ini. Piala Dunia yang berlangsung empat tahun sekali, adalah event paling glamour sejagat raya. Disaksikan tujuh (7) miliar penduduk dunia. Pagelaran dibawahnya, Olimpiade, wadah multi event, hanya disaksikan empat (4) miliar.

    Mana ada event di luar World Cup, bisa menghasilkan Rp 3000 triliyun, setiap empat tahun sekali?

    Dibelahan dunia lain, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), justru sangat memalukan. Presidennya, masih punya keinginan, sebagai gubernur provinsi. Bahkan, ambisinya sejak awal, ngotot dengan menghalalkan segala caranya, untuk bisa menjadi orang nomer satu di “kursi panas”, ternyata hanya untuk ambisi, yang seolah-olah lebih tinggi derajatnya, yaitu Gubernur Jawa Barat.

    Dari 112 negara anggota FIFA, satu-satunya ketua umumnya berlatar belakang polisi, hanya dari Indonesia. Padahal, dari sononya, tugas polisi itu di seluruh dunia, menjadi pengatur lalu lintas, siskamling. Kalau dipaksakan ngurus bola, dipastikan gagal. Polisi kok bal-balan, to nggeng !!!

    Bagi mBah Coco, Iwan Bule sudah melecehkan dan menghina permainan sepakbola, yang sudah menjadi super industri, dan budaya moderen dibanyak negara. Ternyata, hanya sekadar dijadikan, batu loncatan. Menurut menilaian mBah Coco selama ini, Iwan Bule tak punya leadership, pelit, tak punya jaringan pebisnis, dan pengetahuan sepakbolanya “zero”. Nggak mungkin banget, PSSI dipimpin oleh sosok yang “kosong” semuanya.

    Saran mBah Coco, besok-besok para pemilik suara, saatnya memilih orang-orang kapabel di sepakbola, untuk menjadi pengurus bola di republik “mbelgedes” ini.

    mBah Coco, jadi teringat cerita pendek dari negeri jauh di Afrika Utara. Ada negara namanya Aljazair. Negara “benua hitam” yang pertama kalinya, lolos ke Piala Dunia tahun 1982. Dua bintangnya Lakhdar Belloumi dan Rabah Madjer, mempermalukan Jerman Barat dan Austria. Hingga kedua negara ini, bermain “sandiwara” untuk membuang Aljazair dari penyisihan grup.

    Semenjak Presiden CAF – federasi sepakbola Afrika, dan presiden sepakbola Aljazair, Mohamed Raouraoua, dipenjara, akibat menerima uang suap bareng-bareng dengan Presiden FIFA, Sepp Blatter, dan presiden UEFA Michael Platini, untuk memilih Qatar sebagai tuan rumah World Cup 2022.

    Maka, ketua umum PSSI-nya Aljazair ini dicopot, dan tidak diperbolehkan berada di lingkungan sepakbola seumur hidup. Setelah itu, sepakbola Aljazair semakin moderen dalam membangun bolanya.

    Nama Kheiredine Zetchi di Aljazair, lebih dikenal sebagai pemilik klub Paradou AC yang didirikan tahun 1994. Paradou AC, selama 15 tahun terakhir ini, punya reputasi mencetak pemain dari segala penjuru dunia, yang dibangun dengan cara-cara yang unik, antik dan nggak banyak diikuti oleh klub-klub elit dunia.

    Paradou AC melahirkan kombinasi taktik antara total fottball, tiki-taka dan asli budaya dan sosial anak-anak dari belahan Afrika. Sebagai pengusaha, Kheiredine, pelan-pelan mampu menelorkan pemain berbakat dari penjuru negeri Aljazair, berkarakter nyeleneh.

    Untuk mencetak pemain sekaliber Zinedine Zidane, atau Youri Djorkaeff atau Karim Benzema di negerinya sendiri, membutuhkan sosok Kheiredine Zetchi. Selain sebagai pengusaha ternama, yang dikenal sangat gila bola. Maka, tahun 2017 saat pemilihan ketua umum PSSI-nya Aljazair namanya melejit sendirian, sampai hari ini.

    Sebagai kiblat dan referensi, menurut mBah Coco, saatnya para pemilik voter tobat untuk menjual diri, hanya sekadar dapat uang saku, diarahkan memilih manusia-manusia kosong, dan tak punya apa-apa dalam memimpin sepakbola nasional.

    Banyak pemilik klub di negeri “plekutus” ini, yang sejatinya bisa ditunjuk menjadi Ketua Umum PSSI yang baru, untuk segera mencopot Iwan Bule dan kawan-kawan, yang gagal. Para anggota EXCO yang sudah lebih dari dua periode pun, harus mundur, karena selama 20 tahun terkahir, juga gagal dan tak punya prestasi apa-apa.

    Saatnya ganti pengurus PSSI, karena Iwan Bule sudah menghina jabatannya di sepakbola nasional. Bijimane?

    (Bobotoh.id/RF)