Teranyar

    Cerita Tentang Seberapa Penting Pemain Wanian di Persib: Kartu Merah, Ribut dengan Suporter

    22 February 2021 07:58
    Eks pemain Persib, Salim Alaydrus dalam acara NGOPER Persib Pisan presented by Supertalks. (Bobotoh.id/AH)
    Bagi sebuah tim sepak bola, tentunya sangat penting memiliki seorang atau bahkan beberapa pemain berbakat serta menjadi panutan bagi para pemain lainnya.

    Akan tetapi, tak hanya pemain yang memiliki pribadi yang baik, sebuah tim juga terkadang harus memiliki seorang pemain yang "berani". Berani tersebut dalam artian bahwa dirinya bisa menjadi pembeda serta pengacau strategi dan emosi dari lawan.

    Lantas, seberapa penting pemain "berani" atau wanian terhadap suatu tim sepak bola? NGOPER Persib Pisan presented by Supertalks membahasnya secara tuntas yang ditayangkan secara langsung di kanal Youtube Bobotoh TV, Jum'at (19/2/2021).

    Menghadirkan bintang tamu dua eks pemain Persib Bandung yakni Erik Setiawan dan Salim Alaydrus, NGOPER Persib Pisan kali ini meminta keduanya untuk memberikan pendapat tentang seberapa penting pemain wanian di Persib.

    Erik Setiawan, eks pemain Persib era 2000-an tersebut mengaku, ia merupakan salah satu pemain yang dicap bengal ataupun juga yang kerap disebut bad boy. Ia bahkan kerap terlibat keributan baik di luar maupun di dalam lapangan. Menurutnya, pemain wanian sendiri menjadi salah satu elemen penting di dalam tim.

    "Kalau dibandingkan lebih baik ribut dengan suporter atau dengan pemain lain, menurut Saya lebih baik ribut dengan suporter. Karena saya sudah pernah mengalami dan sudah biasa," tutur Erik.

    "Kalau dibandingkan dengan suporter, kan kita tidak pernah tahu apakah itu klub suporter kita atau bukan. Walaupun begitu saya juga pernah terlibat keributan dengan pemain lain. Saya ribut dengan suporter juga karena mereka terlalu berlebihan, terkadang ada juga yang sampai membawa-bawa orang tua, jadi itu kurang dewasa," sambung Erik.

    Disisi lain, Salim Alaydrus pun berbicara tak jauh berbeda. Menurutnya, pemain pemberani juga dibutuhkan sebuah tim di lapangan. Contohnya, adalah pada saat dirinya melakukan sebuah pelanggaran, yang disisi lain bisa menguntungkan untuk timnya sendiri.

    "Kalau akumulasi kartu saya pernah beberapa kali, kartu merah juga pernah. Tetapi untuk dendanya dibayar oleh manajemen klub, karena mungkin mereka juga paham karena kami di lapangan kan bukan untuk cari kartu, tapi memang murni karena situasi di lapangan," ujar Salim.

    "Bagi saya kalau memang kartu merah tersebut menguntungkan untuk tim, ya kenapa tidak. Tapi kalau semisal merugikan tim, kami pasti terkena teguran juga," pungkas Salim. (Bobotoh.id/RF)