Teranyar

    Ceuk Mang Otang, SSK Adalah Impestasi Future. Keur Masa Depan !

    7 October 2020 22:06
    Kami berharap SSK ini bisa ningkatkeun pemahaman siswa terhadap masalah-masalah kependudukan di sekitarnya
    Rabu, 6 Oktober 2020, nakhoda BKKBN Jawa Barat, Kusmana didampingi para pejabat ahli madya dan Forum Generasi Berencana (Genre) Jawa Barat, mengjambani sekaligus menetapkan SMPN 1 Cilengkrang, Kabupaten Bandung sebagai Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).

    Sekolah ini akan mengintegrasikan pendidikan kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga ke dalam beberapa mata pelajaran atow muatan lokal, heuseus kependudukan. Lulusan nya, diharapkan lebih siaga menghadapi dinamika kependudukan.

    Karena medannya memang masih begini, karena Pandemi Covid 19 yang membikin kurang ajar dan menyieun riweuh, peresmian SSK perdana ini berlangsung tampa dihadiri para siswa. Namun, Kusmana mengaku bersyukur bisa mengembangkan SSK di salah satu sekolah terluar di Kabupaten Bandung ini. 

    “Kami berharap SSK ini bisa ningkatkeun pemahaman siswa terhadap masalah-masalah kependudukan di sekitarnya. Kesadaran ini diharapkan mendorong peran aktif siswa dalam upaya pendewasaan usia perkawinan. Semoga kesiagaan rumaja ini mangpu memutus rantai angka pernikahan muda nu masih tinggi,” ungkap Kusmana.

    Kusmana lantas ngureykeun alasan pentingnya penundaan usia kawin keur para rumaja. Tentunya, lebih dari sekadar kesiapan ekonomi, pernikahan itu berkaitan erat dengan kematangan organ-organ reproduksi. Dan, kematangan ini pun berkaitan erat dengan kesehatan calon ibu dan bayi ketika kelak melahirkan.

    Pria yang selalu gumbira dan menggumbirakan ini bilang, kalau Allah SWT menciptakan manusia dengan sempurna dan penuh perencanaan. Artinya semua telah diatur, kapan untuk difungsikan optimal. Sebagey contoh, lebar tulang panggul perempuan itu akan mencapai ukuran ideal selebar 10 sentimeter pada usia 20-21 tahun. Dan, ukuran lebar kepala bayi baru lahir berada pada rentang 9,6-9,8 sentimeter.

    "Artinya, ketika seorang perempuan melahirkan pada usia kurang dari 20 taun, maka ada potensi kecacatan pada kepala bayi akibat penyempitan pada tulang panggul. Dan, ini berbahaya,” tegas Kusmana.

    Ceuk Kusmana, jauh sebelum proses kelahiran, kawin ngora juga sangat beresiko terjadinya kanker mulut rahim atow kanker serviks. Ini akibat hubungan seksual terlalu dini. Menurutnya, mulut rahim perempuan usia kurang dari 18 taun masih pada fase ektropion alias proses termuka menuju matang. Inilah yang kemudian memicu kanker mulut rahim pada 15-20 taun kemudian.

    “Karena itu, BKKBN menekankan usia minimal perempuan menikah idealnya pada 21 tahun yang dinilai sudah siap secara biologis. Perempuan menikah usia di atas 21 tahun Insyaallah nikahnya sudah aman, tidak akan terjadi kanker mulut rahim,” katanya.

    Gerakan Sapujagat

    Kepala Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung, Muhammad Hairun meraos bersyukur bisa mengembangkan SSK di wilayah binaannya. Hairun yakin penetapan sebuah sekolah menjadi SSK mangpu mengdongkrak usia kawin di Kabupaten Bandung yang masih berkutat di angka 18 taun.  

    Dengan angka 3,7 juta jiwa, Kabupaten Bandung hanya kalah dari Kabupaten Bogor. Mangkanya, penundaan usia perkawinan menjadi sangat penting keur menekan laju pertumbuhan penduduk yang saat ini berada pada angka 1,49 persen.

    Hairun mengaku khawatir menenjo tingginya angka perkawinan anak di Kabupaten Bandung. Ini tertenjo dari jumlah permohonan dispensasi usia menikah di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung. Setiap tahunnya bisa mengcapey 200-300 orang.

    “Ini hanya yang mengajukan dispensasi. Artinya mereka yang menikah di bawah usia 19 tahun. Jumlahnya tentu jauh lebih banyak. Angka ini patut menjadi perhatosan, mengingat 80 persen perkawinan biasanya langsung hamil pada taun kahiji,” tambah Hairun nu mengawali karirnya sebagey petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) ini.

    Malahan belum lama ini, Kabupaten Bandung meluncurkan Gerakan Sapujagat atau Sabilulungan Pendewasaan Usia Kawin Terjaga Keluarga Sehat. Gerakan ini mengjadi semacam gugus tugas keur menekan angka kawin muda. Melalui gerakan ini, ikhtiar pendewasaan usia perkawinan bukan semata tanggung jawab DP2KBP3A, melainkan semua pemangku kepentingan di Kabupaten Bandung.

    Langkah kongkritnya diwujudkan dengan dikeluarkannya Instruksi Bupati Bandung, tentang Pembentukan dan Pembinaan PIK-R di setiap kecamatan, desa, jeung sekolah. Dengan instruksi ini, pendewasaan usia perkawinan bisa dilakukan secara massif di berbagey tingkatan dan jalur. Selain itu, juga tengah digodok peraturan bupati (Perbup) tentang pencegahan kawin usia anak.

    “Dalam perspektif lebih makro, saat ini kami sedang menyusun Gren disen Pembangunan Kependudukan (GDPK). Kami menggandeng Unpad dan Koalisi Kependudukan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan yang tinggi, kami memeunteun adanya GDPK dan peta jalan (roadmap) mengjadi sebuah keniscayaan,” paparnya.

    Sementara itu, Kepala SMPN 1 Cilengkrang, Otang Rosyid meraos tersanjung sekolahnya terpilih menjadi SSK perdana di Kabupaten Bandung. Peunteun Otang, SSK sangat bagus keur mengdorong pemahaman, sekaligus kesadaran siswa tentang kependudukan dan permasalahannya. Jadi, siswa bisa merencanakan masa depannya dengan lebih baik.

    “Bagi kami, SSK adalag investasi masa depan. Hatur nuhun kepada BKKBN Jabar dan DP2KBP3A Kabupaten Bandung yang telah memilih sekolah kami menjadi SSK. Semoga berjalan lancar dan bermanfaat untuk seluruh masyarakat Kabupaten Bandung dan Jawa Barat,” ungkap Otang.

    Selain Kepala DP2KBP3A, Kepala SMPN 1 Cilengkrang, juga turut hadir Camat Cilengkrang, Kepala SMPN 2 Cilengkrang, dan perwakilan guru dari dua sekolah tersebut. Jadi, kita satuju apa yang dikatakan Otang Rosyid kalow SSK adalah ingpestasi keur future. Keur masa depan ! (Bobotoh.id/HR - FT ; irfanbkkbn)

    Ayo Dibeli