Teranyar

    Ceuk Yana : Tong Hawatir, KB Pria Juga Bisa Jadi Pilihan. Dan tetap Joss !

    10 November 2020 08:49
    Karena laki-laki juga membogaan tanggung jawab yang sama keur membangun keluarga berkualitas dengan cara turut mengendalikan kelahiran.
    KB pria? Tentu terdengar asing bagi kita masyarakat awam, karena kita lebih akrab mengdangu KB wanita. Apa sebabnya? Ada banyak faktor yang lebih kompleks ketika mengomongkeun tentang kontrasepsi pria. Tak hanya ilmiah, tapi juga faktor sosial. Apa pun jawabannya, keputusan memakey kontrasepsi kudu dipilih dengan bijak. Keur mereka yang aktif secara seksual.

    Dan, Senin, 9 November 2020, dalam rangka peringatan Hari Vasektomi Sedunia di Rumah Sakit Kebonjati. Rumah sakit yang didirikan perkumpulan masyarakat Tionghoa pada 1943 ini merupakan satu-satunya rumah sakit swasta di Kota Bandung yang melayani vasektomi. Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana menyerukan para pria kudu lebih berperan dalam program Bangga Kencana. Dengan menjadi peserta KB pria.

    Tentu, ini bukan seruan basa-basi. Yana sendiri sudah terlebih dahulu mencontohkan dengan menjalani vasektomi alias metode operasi pria (MOP). Waktu dulu nikah, Yana merencanakan menunda membogaan anak selama satahun. Sesuai rencana, setahun kemudian istri hamil.

    "Alhamdulillah kami dikaruniai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Jeda anak pertama dengan kedua 13 bulan. Setelah itu, istri langsung menjadi peserta KB. Sayangnya, istri ternyata nggak cocok dengan semua kontrasepsi. Ada yang jadi jerawatan atau apalah. Oleh karena itu, setelah anak kedua, saya melakukan operasi vasektomi. Saya melakukannya dengan sukarela,” ungkap Yana.

    Yana meraos bersyukur menjadi bagian dari para pria sejati ini, berperan aktif keur masa depan bangsa dan masa depan keluarga. Juga menjadi motivator keur mengajak para pria lain untuk menjadi peserta program keluarga berencana. Karena laki-laki juga membogaan tanggung jawab yang sama keur membangun keluarga berkualitas dengan cara turut mengendalikan kelahiran.

    Ceuk Yana, para keluarga bisa merencanakan kehidupan masa depan keluarganya dengan memere pendidikan nu alus, menjaga kesehatan, serta memere ruang kreativitas dan inovasi berkembang dengan baik. Pembangunan SDM saat ini lebih berorirentasi pada pengendalian pertumbuhan penduduk untuk menjaga kualitas dan struktur penduduk seimbang.

    “Program Bangga Kencana menuntut peran kaum pria, baik dalam konteks sebagey kepala rumah tangga maupun sebagey pengarah masa depan keluarga heuseusnya. Serta pengarah masa depan bangsa pada umumnya. Program KB bukan hanya tanggung jawab kaum ibu. Karena itu, para pria pun harus berpartisipasi di dalamnya, melalui kontrasepsi mantap atau vasektomi secara sukarela,” tegas Yana.

    Sementara nakoda BKKBN Jawa Barat, Kusmana mengaku sangat bangga kepada Yana Mulyana. Keperpihakannya pada program Bangga Kencana tidak saja ditunjukkan melalui kebijakan Pemkot Bandung. Lebih dari itu, Yana menjadi role model bagi pimpinan daerah lainnya dengan menjadi peserta KB pria.

    Secara heuseus Kusmana melaporkan tentang rebranding yang dilakukan BKKBN. Perubahan akronim KKBPK (kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga) menjadi Bangga Kencana menyandak pesan penting terkait pengarusutamaan pembangunan keluarga. Yang sebelumnya identik dengan kontrasepsi, dengan perubahan tersebut, berharap cara pandang masyarakat terhadap program juga berubah.

    "Program KB itu bukan kontrasepsi. KB itu merencanakan dari awal. Belum banyak yang menyadari secara hakiki pembangunan keluarga. Yang menjadi entry point karena tidak ada satu keluarga pun yang tidak memiliki rencana," jelas pria yang selalu gumbira dan menggumbirakan banyak orang ini. 

    "Kini saatnya bersama-sama merencanakan keluarga berkualitas. Caranya dengan melaksanakan delapan fungsi keluarga. Bila delapan fungsi ini diimplementasikan dalam keluarga, maka akan terwujud keluarga berkualitas,” sambung Kusmana. 

    Kepala DPPKB Kota Bandung, Andri Darusman menambahkan jeung menjelaskeun, yen pihaknya melayani tujuh peserta MOP. Jumlah inih hampir setengah dari target yang dibebankan kepada Kota Bandung sebanyak 15 orang sepanjang tahun 2020. Ini semuanya gegara Covid-19 yang bikin riweuh, sehingga lambatnya capaian vasektomi yang sempat menghentikan sejumlah layanan kesehatan, termasuk pelayanan kontrasepsi.

    “Tadinya hari ini ada delapan yang siap dilayani. Satu orang mengundurkan diri karena menderita darah tinggi. Sesuai ketentuan, penderita darah tinggi tidak bisa diberikan tindakan operasi. Kami menargetkan sisa target dapat terlampaui sampai akhir tahun ini. Secara keseluruhan, kesertaan KB di Kota Bandung berkisar pada angka 70 persen,” terang Andri.

    Kegiatan tersebut diisi penyerahan penghargaan atas capaian 100 persen Kota Bandung dalam kegiatan pelayanan serentak satu juta akseptor dalam rangka peringatan ke-27 Hari Keluarga Nasional dan Hari Kontrasepsi Sedunia belum lama ini. Juga turut diserahkan perlengkapan dan bingkisan bagi anggota kelompok motivator KB pria. Hadir juga dalam kegiatan ini Kepala Staf Komando Distrik Militer (Kasdim) 0616/BS Letkol TNI Yudha Setiawan, dan tuan rumah Direktur Rumah Sakit Kebonjati Junandi Suryautama.

    Jadi tong hawatir, pria tetap 'joss' meski menggunakan kontrasepsi. Karena metode perencanaan keluarga pria sedikit berbeda dengan wanita. Karena tidak mempengaruhi keseimbangan hormon atow metabolisme. (Bobotoh.id/HR - NJP)