Teranyar

    Dianggap Terlalu 'Lila' Untuk Menahan Jokdri, Satgas Bisa Tercoreng

    7 March 2019 16:44
    Diperiksa untuk keempat kalinya dan sudah ditetapkan tersangka, kasus hukumnya masih belum naik menjadi terdakwa

    Prestasi kinerja Satgas Antimafia Bola terhadap praktik kotor pengaturan skor yang sudah menetapkan hampir 16 tersangka, memang patut diacungi jempol. Namun, khusus untuk kasus Joko Driyono, yang telah diperiksa untuk keempat kalinya dan sudah ditetapkan sebagai tersangka, kasus hukumnya masih dianggap terlalu lama untuk dijadikan terdakwa.

    Dikutip dari detiksport, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, merasa khawatir akan timbul preseden buruk terhadap kinerja Satgas Antimafia Bola. Menurutnya, meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 15 Februari 2019, hingga kini Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI itu belum ditahan alias masih bebas berkeliaran.

    “Prestasi Satgas bisa tercoreng karena dianggap tak serius,” ungkap Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Rabu (6/3/2019) kemaren.

    Tambah Neta, penyidik memang memiliki alasan obyektif dan subyektif untuk menahan atau tidak menahan seorang tersangka.

    Alasan obyektif itu ialah ancaman hukumannya kurang dari lima tahun, sebagaimana tertera dalam Pasal 21 ayat (4) Undang-Undang (UU) No 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

    Adapun alasan subyektifnya adalah tersangka bisa melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi perbuatannya, sebagaimana tertera dalam Pasal 21 ayat (1) KUHAP.

    “Rasa keadilan masyarakat bisa terusik,” cetusnya merujuk adagium "equality before the law" (kesetaraan di muka hukum).

    Lagi pula, katanya, proses hukum kasus Joko Driyono ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat sepak bola Indonesia dan dunia. (Bobotoh.id/HR)


    Ayo Dibeli