Teranyar

    Febri Tolak Klub Thailand, Essien: 'Indonesia Sulit Diajak Maju'

    12 December 2020 14:31
    Sebelumnya, Febri Hariyadi disebut menolak tawaran tim Thailand. (Bobotoh.id/AH)
    Di Indonesia, yang diketahui oleh Essien, kompetisi berjenjang di Indonesia tidak ada, walaupun beberapa kali bisa menjadi juara dan finalis di level Asia Tenggara atau Asia.





    Tentang Febri Hariyadi Yang Menolak Klub Thailand
    MICHAEL ESSIEN : “INDONESIA SULIT DIAJAK MAJU”

    Menjelang berakhirnya FIFA World Cup Russia 2018 ini, mBah Coco tidak sengaja ketemu dengan mantan gelandang “badak” tim nasional Ghana di Piala Dunia 2006 di Jerman, 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brasil. Namanya, Michael Kojo Essien, julukan “the Bison”, yang sudah ancang-ancang gantung sepatu, setelah kontraknya habis, bersama Persib “Maung” Bandung, musim 2017 lalu.

    Pertemuan di JW Marriott hotel kawasan Kuningan, menjelang Essien pulang ke London, kebetulan Essien punya residence di kawasan Surrey, London Tenggara. Sebagai mantan kapten tim nasional Ghana, sebagai nominasi pemain terbaik Afrika, dan juga nominasi pemain terbaik dunia, sekaligus spesialis “kartu kuning” ini, menjelaskan bahwa sepak bola Indonesia, saat ini sulit diajak maju, atau bahkan tak pernah bisa lolos ke Piala Dunia, jika kondisi pembinaan dan organisasinya masih amburadul.

    Sebagai bagian dari “Benua Hitam”, Ghana dan Nigeria adalah gudangnya pemain berbakat. Setiap FIFA U-17 World Cup, selalu wakil Afrika, hanya sisakan dua negara, Ghana dan Nigeria. Keduanya, adalah langganan juara, runner up atau peringkat ke-3, sejak event ini digelar 1985. Artinya, menurut Michael Essien, pembinaan sepak bola di Ghana dan Nigeria bagus, dan berjenjang.

    Di Indonesia, yang diketahui oleh Essien, kompetisi berjenjang di Indonesia tidak ada, walaupun beberapa kali bisa menjadi juara dan finalis di level Asia Tenggara atau Asia. Namun, ketika masuk ke jenjang senior, mantan pemain yunior tidak ada lagi. “Ada dua hal yang harus dijalankan PSSI, jika ingin melangkah lebih jauh” tutur Essien.

    Yaitu, kompetisi usia muda, dan mental pemain muda harus diajarkan. “Di Ghana, pemain sudah tampil di yunior dan berkompetisi di level yunior, jika ada kesempatan, pasti semua pemain akan bermain dan pergi ke Eropa,” tambah Essien.

    Artinya, setiap pemain selain sudah ditempa wadah kompetisi, juga harus punya nyali ingin hidup dan bermain bola di Eropa. “Di Indonesia, komptisi tidak ada, dan nyali pemain tidak ada, ambisi bermain di Eropa juga tidak ada,” lanjutnya. Contohnya, Febri Hariyadi, sayap serang Persib Bandung, yang ogah bermain di Thailand, di masa pendemic Covid-19.

    mBah Coco, jadi teringat dengan sistem pembinaan Primavera di Italia 1993-94. Saat itu, Kurniawan Dwi Yulianto yang ditempa di Sampdoria, Italia, serta Bima sakti dicemplungi ke  Helsingborg IF, Swedia. Keduanya justru cepet-cepet ingin pulang kampung, hanya karena masalah “homesick” alias kangen (keluaraga dan makanan) dengan keadaaan di negerinya sendiri.

    “Saya habis mendapat gelar medali perunggu bersama Ghana, di Piala Dunia U-17 tahun 1999, di Selandia Baru, sudah berpikir hijrah ke Eropa. Waktu itu, bayangan saya, kalau tidak di Perancis ya Inggris,” cerita Essien, tentang tekad dan ambisinya. Pasalnya, jika tetap main di liga Ghana, siapa yang melihat dirinya. “Saya juga sudah berpikir ke Belgia, karena Belgia itu adalah gudang para pemain yang siap orbit dan dijual di Italia, Perancis, Jerman, Spanyol dan Inggris,” lanjutnya.


    mBah Coco bersama dengan Michael Essien.
    mBah Coco bersama dengan Michael Essien.


    Afrika adalah gudang pemain yang siap di ekspor ke punjuru dunia, sama dengan Brasil, Argentina, Kolombia, Chile dan Uruguay. Namun, menurut Essien, sepak bola Indonesia ada potensi untuk bisa ekspor pemain. Hanya saja, sistem pembinaan, termasuk mental pemain, tidak pernah diurus secara serius. “Kalau sawahnya tidak diurus, bagaimana bisa memanen padi,” demikian tutur Essien berfilosofi, ibaratkan pemain dengan beras.

    Dari sisi mental pribadi, Michael Essien, pemain terbaik peringkat tiga Afrika 2005, 2006, 2008, 2009 serta runner up African Footballer of the Year 2007 ini, selalu dibawah bayang-bayang Samuel Eto’o dan Didier Drogba jaman itu, memberi wejangan kepada mBah Coco, bahwa jika ingin menjadi pemain sepak bola itu, sudah ditanamkan sejak dari kecil di lubuk hati yang paling dalam. “Saya bertekad dan bermimpi menjadi pemain bola profesional, dan saya ingin tahu sebanyak mungkin caranya menuju ke sana, “ kata Essien.

    Ketika ditanya tentang organisasi klub dan organisasi sepak bola Indonesia (PSSI), menurut Essien juga banyak yang masih suka ceroboh. Misalkan, dalam kontrak mengkontrak pemain, klub-klub di Indonesia, masih suka bermain di “bawah meja”. Secara administrasi, klub-klub di Indonesia, masih jauh dari profesional, sehingga menyulitkan pemain asing.

    “Hasilnya, klub bisa mengatur skor pertandingan, karena banyak pemain asing, yang sejak awal sudah dikontrak dan diajarkan untuk curang,” kata Essien, yang kini berusia 35 tahun (3 Desember 1982, di ibukota Ghana, Accra).

    Mengenai masa depan tim nasional Indonesia jika bisa lolos ke World Cup, lagi-lagi Michael Essien, yang juga terpilih sebagai  BBC African Footballer of the Year (2006), Ghana Player of the Year (2007) dan Chelsea Player of the Year (2006–07) menjelaskan. “Sulit sekali Indonesia bersaing di level internasional. Karena, kompetisi berjenjang tidak ada, mental pemain profesional tidak ada, dan tinggi postur pemain Indonesia tidak memadai berkomptisi dengan pemain Afrika atau Amerika latin,” kata Essien.

    Meksiko, Senegal, Ghana atau Nigeria yang kecil-kecil, selain sudah ada bakat, juga punya mental bertanding sebagai pemain profesional. Sehingga, lanjut Essien ketika bertanding dengan tim kasta tertinggi di Eropa, tidak pernah merasa minder dan takut. “Pemain Indonesia, tidak ada yang punya mental dan nyali seperti pemain Afrika atau Amerika Latin.

    mBah Coco, jadi ingat tentang Febri Hariyadi, pemain sayap Persib Bandung, dan tim nasional Indonesia. Simpang-siur tentang keberadaan sikap Febri, yang ogah bermain di klub, yang katanya hanya ebagai pemain pinjaman. Padahal, pelatih Persib Bandung, Robert Alberts justru mendukung.

    Bahkan, Yanto Basna, satu-satunya pemain dari didikan “super team’ SDA Uruguay, yang sudah bermain dengan tiga klub Thailand, yaitu Khon Kaen, Sukhothai dan PT Prachuap, punya sikap, bahwa untuk bermain di luar negeri, yang penting bukan bahasa. Melainkan, nyali bermain bola dengan siapa saja. Jadi, kalau mental bertanding dengan orang asing, adalah nomer satu. “Soal main di lapangan, gunakan insting,” tegasnya.

    Oleh sebab itu, Essien akhirnya menilai tentang sepak bola Indonesia, ke depannya seperti testimoninya. “Saya tidak dalam kapasitas menghina, tetapi faktanya rata-rata pemain Indonesia kecil-kecil. Seandainya banyak yang tinggi posturnya, justru bukan pemain bola. Aneh di Indonesia.”

    Itulah akhir dari komentar seorang legendaris dari “Benua Hitam” Afrika, yang sukses berlaga di “Benua Biru”, sebagai pemain profesional, dan sangat dihargai sebagai pemain berintelegensia tinggi di atas rata-rata pemain Eropa.

    ---
    Penulis: mBah Coco