Teranyar

    Gedung Sate Supakat, Bangga Kencana Kudu Mengjadi Program Prioritas.

    27 October 2020 10:08
    BKKBN meneken nota kasepakatan bareng DP3AKB Buat akselerasi program Bangga Kencana
    Lima poin utama kasepakatan, diteken Nakoda BKKBN Jabar, Kusmana bareng Kadis Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, Poppy Sophia Bakur di kantor nya, Jalan Sumatera Nomor 50 Kota Bandung, Jumat siang, 23 Oktober 2020. Keur akselerasi program Bangga Kencana.

    Secara keseluruhan, kasepakatan secara heuseus bertumpu keur percepatan penanggulangan stunting, pelaksanaan program Kampung KB (Kampung Keluarga Berkualitas), pendataan kaluarga, jeung sinerji pencegahan perkawinan anak. Lima poin itu, yakni :

    Kahiji, dalam pelaksanakan program Bangga Kencana, BKKBN melakukan fasilitasi, koordinasi, jeung pendampingan dalam penyusunan dan penetapan program dalam dokumen perencanaan DP3AKB. Juga melakukan asistensi keur dukungan penguatan, pelaksanaan nya meliputi kelembagaan, SDM, dukungan pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta peningkatan operasional di tingkat lini lapangan.

    Serta sosialisasi dan pelaksanaan, pembinaan dan koordinasi kepada Pemkab dan Pemkot, monitoring, evaluasi, dan pengawasan sesuai kewenangan berdasar ketentuan peraturan perundang-undangan. Dan, Gedung Sate supakat menjadikan nya salah sahiji program prioritas pembangunan daerah sebagey bagian integral yang tertuang dalam dokumen perencanaan DP3AKB Jabar. Dan, ditindaklanjuti dengan memere dukungan pembiayaan.

    Kadua, soal percepatan penanggulangan stunting, BKKBN melakukan fasilitasi, koordinasi, dan pendampingan dalam penyusunan dan penetapan kegiatan-kegiatan prioritas. Dan, melakukan konvergensi atow persetujuan dalam perencanaan dan penganggaran program dan kegiatan keur ningkatkeun cakupan dan kualitas intervensi gizi prioritas via pengembangan kapasitas Pemkab dan Pemkot.

    Serta sepakat melakukan advokasi, kampanye, dan diseminasi terkait stunting melalui program 1000 hari pertama kehidupan dan berbagey upaya pencegahannya. Menyiapkan SDM yang dimiliki buat mengdukung jeung membiayai berbagey kegiatan prioritas, terutama meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi pada rumah tangga.

    Katilu, keur dukungan Kampung KB, BKKBN memfasilitatsi, mengdampingi, jeung mengbina masyarakat keur menyelenggarakan program Bangga Kencana dan sektor terkait. Timbal balik nya, DP3AKB memere dukungan SDM. Dan, bersama-sama melakukan koordinasi kepada Pemda kabupaten dan kota dalam pelaksanaan program Kampung KB di wilayahnya masing-masing.

    Kaopat, dalam melaksanakan pendataan keluarga, BKKBN melakukan sosialisasi Pendataan Keluarga 2020 di Jabar. Termasuk ngabina penyuluh KB dan/atow petugas lapangan dalam rangka pendataan keluarga. DP3AKB membantos penyiapan pendampingan dan/atow penyediaan sarana dan prasarana nu dibutuhkeun.

    Juga, memfasilitatsi penyiapan tenaga penyuluh KB atow petugas lapangan selama persiapan dan pelaksanaan pendataan keluarga di Jabar. Dan, bareng BKKBN, DP3AKB melakukan koordinasi ke Pemda kabupaten dan kota di Jabar sesuway kewenangannya. Untuk inih, Gedung Sate juga memfasilitatsi penyediaan data kependudukan.

    Kalima, keur upaya pencegahan perkawinan anak, keduanya supakat melakukan penyelarasan program dan kegiatan. Seperti sosialisasi ke pelajar dan mahasiswa soal dampak negatif perkawinan anak dan peningkatan kualitas rumaja dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga melalui Geber Cewina dan Genre.

    Dan, pembinaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja/Mahasiswa. Pembinaan dan sosialisasi keur masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, terkait peran pentingnya keluarga mencegah para rumaja terhindar dari nikah dini dan seks pranikah. Dengan terlebih dahulu melakukan pembinaan dan koordinasi kepada pemda kabupaten dan kota dan tenaga penggerak desa/kelurahan (TPD/K) serta jejaring binaan lainnya.

    Ceuk Poppy Shopia Bakur, Geber Cewina teh Gerakan Bersama Cegah Perkawinan Anak. Program ini didisen sebagey gerakan bersama pencegahan perkawinan anak yang melibatkan sinerjitas lintas sektoral dengan merangkul kabeh pihak.

    “Utamanya pimpinan daerah, instansi vertikal, lintas perangkat daerah yang serumpun urusannya, dan melibatkan seluruh jejaring binaan dinas dan seluruh organisasi kemasyarakatan maupun organisasi lainnya di Jawa Barat. Gerakan ini selaras dengan program Genre atow Generasi Berencana nu diusung BKKBN,” jelas Poppy.

    Soal Genre, Kusmana bilang adalah rumaja yang memiliki pengetahuan, bersikap, dan berprilaku sebagai rumaja nu menyiapkan perencanaan yang matang dalam kehidupan berkeluarga. Yang bertujuan keur mengedukasi dan memere informatsi yen BKKBN memiliki program dengan mengusung tagline 21-25 Keren.

    "Teglen ini menyokot pesan pentingnya menikah usia ideal keur laki-laki dan perempuan. Laki-laki kudu 25 taun dan perempuan kudu 21 taun. Dalam perspektif BKKBN, pernikahan usia ideal dengan sendirinya mengurangi resiko stunting yang juga menjadi bagian dari kesepakatan ini,” ungkap Kusmana.

    Kunaon kudu mengdorong program 21-25 Keren ? Program ini semata-mata keur menekan dan meminimalisasi berbagey dampak buruk nu di timbulkeun oleh pernikahan usia anak. Harapannya ortu sadar dan berpikir akan pentingnya hal ini. Ortu bisa memere pemahaman penting akan bahayanya anak ketika kudu menikah gancang.

    Kalow stunting, Kusmana bilang tak bisa dilepaskan dari dimensi kesehatan lainnya. Penyebab stunting bisa diklasifikasi dengan meno'ong penyebab langsung, meliputi nutrisi, air susu ibu, dan penyakit. Penyebab angtara, meliputi jarak anak, jumlah anak, dan umur ibu. Dan, penyebab tidak langsung, meliputi sanitasi, pendidikan, sosial-ekonomi, dan kemiskinan.

    Ceuk Kusmana lagih, perlu kawijakan nu mengatur (policy rules) keur mempercepat penurunan stunting. Kawijakan  inih mengatur mulai pranikah, kehamilan, hingga masa interval kelahiran. Pada fase pranikah, kawijakan mengatur mulay pendaftaran bimbingan kespro dan skrining kesehatan calon pengantin. (Bobotoh.id/HR - NJP)