Teranyar

    Gonjang-ganjing di Pusaran Persis Solo (Jilid 1)

    25 March 2021 17:31
    Gelagat Erick Thohir mendapatkan Persis Solo, patah arah dan menemui jalan buntu, saat menghadapi Vijay. Sepuluh hari kemudian, 21 September 2019, Erick Thohir, seolah-olah ingin menengok Stadion Manahan, Solo yang akan siap-siap diresmikan Presiden RI Ir. Joko Widodo, dalam rangka digunakan untuk FIFA U-20 World Cup 2021.

    ERICK THOHIR DOYAN MELANGGAR ETIKA BISNIS

    “Pak Jokowi yang mau ambil Persis Solo, jadi silahkan dijual saja,” demikian kata Erick Thohir, kepada Vijaya Fitriyasa, pemilik 70% saham Persis Solo, di Hotel The Westin, Kuningan, Jakarta Selatan, 11 September 2019, sekitar pukul lima sore. Saat itu, pertemuan Erick Thohir dan Vijay, panggilan akrabnya, difasilitasi Prasetyo Edi Marsudi, Ketua DPRD DKI Jakarta.

    Vijay dengan santai menjawab, “Jika memang benar-benar Pak Jokowi yang mau membeli Persis Solo, biarkan saya yang menghadap sendiri ke Pak Jokowi. Dan, kalau Pak Jokowi yang mau membeli, maka saya putuskan tidak saya jual, tapi mau saya kasih semua saham saya ke Pak Jokowi,” demikian jawab Vijaya Fitriyasa, mantan aktivis BEM ITB di jaman menurunkan Soeharto.

    Pertemuan Erick dan Vijay bareng Pras, panggilan akrabnya Praseyo Edi Marsudi, terekam dalam CCTV mBah Coco sore itu.

    Gelagat Erick Thohir mendapatkan Persis Solo, patah arah dan menemui jalan buntu, saat menghadapi Vijay. Sepuluh hari kemudian, 21 September 2019, Erick Thohir, seolah-olah ingin menengok Stadion Manahan, Solo yang akan siap-siap diresmikan Presiden RI Ir. Joko Widodo, dalam rangka digunakan untuk FIFA U-20 World Cup 2021.

    Hanya saja, dari pantauan CCTV mBah Coco, hari itu, Erick Thohir menghadap Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo. Salah satunya, meminta bantuan, agar bisa membujuk pemilik lama Persis Solo, Sigit Haryo Wibisono, sebesar 90% saham PT Persis Solo Saestu (PSS), untuk tidak menjual ke Vijaya Fitriyasa, melainkan ke dirinya, karena permintaan Jokowi.

    Sayang sekali, FX Rudyatmo, tidak mengikuti perkembangan status PT PSS yang mengelola Persis Solo. Namun, hari itu, Erick Thohir, tetap melakukan pemantauan perkembanagan Stadion Manahan, bareng Her Parbu, orangnya FX Rudyanto, dan anak muda, Kevin Nugroho, anaknya lembaga Sun Motor.

    mBah Coco hanya ingin menjelaskan, update selama dua minggu terakhir, sebelum Erick ke Solo. Tepatnya, 14 September 2019, pemilik saham mayoritas Persis Solo, sudah berganti jubah. Yaitu, dari milik Sigit Haryo Wibisono, menjadi milik Vijaya Fitriyasa. Nilai sahamnya, 70%  yang awalnya milik Sigit sudah beralih ke Vijaya Fitriyasa. Sedangkan, Sigit hanya punya 20%, sisanya 10% tetap milik 34 klub amatir Persis Solo, yang dikelola dibawah naungan Asosiasi PSSI Kota Solo. Yang mBah Coco dapat kabar, nilai jual 70% milik Sigit, dihargai Rp 9.5 miliar.

    Hampir setahun berlalu, hingga sampai hari ini, ujug-ujug ada kabar, jika Persis Solo, sudah berganti jubah dengan nama-nama pemiliknya, Kaesang Pangarep (40%), Kevin Nugroho (30%), dan Erick Thohir (20%). Sedangkan 10%-nya masih milik 34 klub amatir Askot PSSI Kota Solo.

    Hanya saja, ternyata dalam pembelian Persis Solo, dari tangan Vijay Vitriyasa (70%) dan Sigit Haryo Wibisono (20%), bukan langsung dari Kaesang, Kevin dan Erick Thohir. Dari pantauan CCTV mBah Coco, ada nama Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian, ikut terlibat, yang digunakan sebagai “kaki-tangan”-nya trio Kaesang, Kevin dan Erick.

    Prediksi mBah Coco, khususnya Erick yang ngebet sejak 2019 mau memiliki Persis Solo, atas keinginan dan permintaan Jokowi, belum mau menyerah. Masih ada skenario besar yang disimpan Erick Thohir. Mengapa, ngotot bener ingin punya Persis Solo, setelah jadi Menteri BUMN?

    Tahun 2019 wajah Erick Thohir dipermalukan Vijaya Fitriyasa. Mosok, sekaliber Erick Thohir kalah pamor dengan Vijay? Maka, dilakukan gereliya-gereliya, untuk membeli Persis Solo.

    Jika, Erick Thohir, kembali ingin menghadapi Vijay dan juga Sigit yang masih menyisakan 20% sahamnya, dipastikan akan “nabrak tembok”. Maka, menggunakan taktik-strateginya lewat Agus Gumiwang, ternyata sangat makyusss. Vijay dan Sigit kepincut. Karena, Agus Gumiwang dianggap sejak kecil gila bola, dan sampai hari ini, punya akademi sepakbola, bernama PT Asiana. Artinya, Vijay-Sigit rela Persis Solo dibeli Agus Gumiwang

    Dari CCTV mBah Coco, wakil yang diutus Agus Gumiwang, awalnya atas nama adiknya, yaitu Galih Dimuntu Kartasasmita. Namun, selama pertemuan dengan Vijay dan Sigit, ada adik iparnya Agus Gumiwang, yang kebetulan sebagai pengacara. Namanya, Nadia Nasution.

    Saat melakukan pertemuan untuk membuat draft surat, Nadia Nasution, masih menggunakan kop surat PT Asiana, yang ditandatangani pengacara Arie Armand. Namun, saat penandatangan jual-beli PT Persis Solo Saestu. Kop surat PT Asiana sudah tidak ada, melainkan atas nama pribadi - Nadia Nasution. Namun, mereka tetap menandatangani, dengan nilai jual, Rp 9.5 miliar untuk 70% saham milik Vijaya Fitriyasa, serta Rp 2.4 miliar untuk kepemilikan saham Sigit Haryo, sebesar 20%.

    Sementara itu, di kota Solo, sedang viral dan menjadi makanan empuk para penggemar Persis Solo, untuk ngrumpi dan gosip. Siapa gerangan pembeli Persis Solo, yang sebenarnya? Ada yang bilang Gibran Rakabuming, Walikota Solo yang baru, ada yang bilang Kaesang Pangarep, ada juga yang menebak Agus Gumiwang.

    Namun, Sabtu, 20 Maret 2021, di Solo, ada pengumuman resmi sekaligus deklarasi. Bahwa, pembeli Persis Solo, adalah Kaesang Pangarep, dengan saham 40%, Kevin Nugroho 30%, Erick Thohir 20%, serta 34 klub anggota Askot PSSI Kota Solo, tetap memiliki 10%.

    Dari situ, mBah Coco, mencoba menebak-nebak, konspirasi apa yang dilakukan Erick Thohir, agar Persis Solo wajib ke pangkuannya. Maka, jawaban yang nongol. Erick menggunakan Agus Gumiwang untuk melobi Vijay dan Sigit. Sedangkan, saat sudah terbeli, Erick Thohir memasang Kaesang Pangarep.

    Keinginan Erick Thohir, tahun 2019 saat ngotot membeli saham Vijay dan Sigit, akhirnya terwujud pada 20 Maret 2021 lalu.Yang katanya, untuk keluarga besar Jokowi, salah satunya Kaesang Pangarep.

    Buat mBah Coco, sepak terjang Erick Thohir adalah culas. Dan, itu sudah dimulai sejak, masuk dunia olahraga di Indonesia. Ketika, membohongi Sutiyoso, yang saat itu sebagai Gubernur Jakarta, sekaligus sebagai Ketua Umum Perbasi – Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia, 2002 – 2006.

    Entah bujuk-rayu seperti apa, sehingga Sutiyoso dipindah menjadi Ketua Uumum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia – PBSI, dan posisi ketum Perbasi berpindah ke Erick Thohir. Sehingga, saat itu Sutiyoso, merasa dikibulin Erick Thohir. Karena, janjinya Erick, akan membesarkan Perbasi, dengan mencari sponsorship. Nyatanya, sponsorship tidak masuk ke Perbasi, masuk ke kantong lembaganya Mahaka Group.

    Tahun 2013, Erick Thohir diutus oleh pengusaha kakap, Seperti Glenn Sugita, salah satu pemilik Persib Bandung, untuk membeli saham 70% Inter Milan milik keluarga Massimo Moratti. Konsorsium bernama International Sport Capital (ISC) pembeli Inter Milan, selain Glenn, ada Rosan Roeslani (kini Ketua Kadin), dan Handy Soetejo. Nilai transaksinya berkisar sampai US$460 juta.

    Mungkin, karena ketidakpahaman Erick Thohir dalam dunia kompetisi Seri A Italia. Hasilnya, Inter Milan, hanya diurutan ke-5, hasil akhir musim 2013-14. Dan, hanya bisa ikut play off Europe League. Di musim 2014-15, nasib Inter Milan di Europe 2014, hanya sampai babak 16 Besar.

    Saat Juli 2013, Erick Thohir deal membeli 70% saham Massimo Moratti, posisi Inter Milan musim 2012-13, berada di urutan ke-9. Sehingga, “The Black and Blues” ini, tak bisa tampil di kancah Champions League dan Europe League.

    Pada musim 2014-15, lagi-lagi Inter Milan tak punya jatah di dua event bergengsi di Daratan Eropa. Karena, hanya berada di posisi kedelapan. Dan, pada musim 2015-16, lagi-lagi, Inter Milan jeblog, dan bener-bener sebagai klub “kacangan” selama tiga musim dikelola Erick Thohir.

    Walaupun, berada di posisi keempat, setelah Juventus, Napoli dan AS Roma. Inter Milan, hanya sebatas lolos ke Europe League. Namun, saat undian masuk Grup K, malahan jadi juru kunci, dibawah Sparta Praha (Rep. Ceko), Hapoel Sheva (Israel), dan Soauthampton (Inggris). Artinya, Inter Milan, tiga musim, nggak punya taring, sebagai satu klub elit dunia.

    Setelah diriset mBah Coco, selama tiga musim Inter Milan dipegang Erick Thohir, sebagai Presiden “I Nerazzurri”. Konsorsium ISC, Glenn Sugita, Rosan Roeslani dan Handy Soetejo sangat kaget. Bahwa, setelah membeli saham 70% milik Moratti, sekitar US$460 juta, sekitar Rp 3 triliyun. Ternyata, setiap bulannya, bosnya Erick Thohir, harus mengeluarkan gocek lagi, sekitar Rp 500 miliar setiap bulannya.

    Bayangin aje, setiap minggu, semua skuad Inter, pemain, pelatih adan ofisial harus dapat gaji, yang rata-rata Rp 3 miliar. Atinya, setiap minggu, manajemen Eruick Thohir harus bayar mereka, sekitar Rp 125 miliar per minggu. Busyet daghhhh...

    Makanya, sepanjang tiga musim, Erick Thohir, tak mampu membeli pemain kelas satu. Jika ada, seperti Nemanja Vidic, justru sepanjang musim cedera. Pantas, kalau mantan pemimpin perusahaan - CEO Inter Milan, Ernesto Paolillo, menghujat Erick bahwa Presiden Inter Milan itu, gagal total membawa Inter ke kasta elit Serie A, sejak 2013 sampai 2016, saat Inter dijual Suning Group, Cina, 6 Juni 2016. Dan, posisinya Erick Thohir diganti Steven Zhang, sebagai Presiden Inter yang baru.

    Dari pencarian mBah Coco, tentang sepak terjang Erick Thohir selama tiga musim mengelola “Internazionale Minalo”, menurut The Gazzetta Dello Sport, edisi 20 Januari 2018, Erick Thohir diperiksa oleh Otoritas Jasa Keuanagan Italia, tentang asal-usul uang 79 juta Euro, oleh taipan Indonesia tersebut.

    Otoritas Jasa keuangan Italia, mengacu kepada Undang-undang 231, tahun 2007, tentang uang keaslian yang digunakan Erick Thohir, telah dilanggar. Namun, pihak penyidik, belum memastikan ilegal atau legal. Karena, penyelidikannya masih berlangsung, sampai saat ini. Walaupun, Erick Thohir sudah melepas atributnya di Inter Milan, selesai 6 Juni 2016.

    Mbah Coco ingin kembali ke Tanah Air. Sampai saat ini, Erick Thohir, menjadi salah pemegang saham PT Persib Bandung Bermatabat - Persib Bandung. Sejak menjadi Menteri BUMN, Erick Thohir juga mengambil alih manajemen Semen Padang, anggota Liga 2 Indonesia. Dan, Sabtu, 20 Maret 2021 lalu, Erick Thohir punya saham 20% dari PT Persis Solo Saestu.

    Bagi mBah Coco, sepak terjang Erick Thohir, benar-benar telah melanggar etika bisnis, dalam sepakbola. Ada dua contoh, yang ingin dijabarkan mBah Coco, kepada pembaca akun Cocomeo News. Mengapa, sekaliber Erick, doyan melanggar etika bisnis sepakbola.

    PERTAMA

    Sejarah kompetisi Liga Sepakbola Utama – GALATAMA, sejak digulirkan jaman Ali Sadikin sebagai ketum PSSI, tahun 1979, tercatat banyak sekali klub elit liga semi-profesional ini, gulung-tikar, alias bubar. Contohnya, Pardedetex, Jayakarta, Indonesia Muda, Tunas Inti, UMS 80, Mercu Buana, Jaka Utama, Sari Bumi Raya, membubarkan diri. Alasannya, banyak sekali atur mengatur skor, dan mengatur kalah menang dalam kancah kompetisi. Sehingga pemiliknya nggak tahan.

    Galatama 1988-89, Pelita Jaya yang didirikan Nirwan Bakrie, sepertinya sudah sulit ditaklukan. Pokoknya, Pelita Jaya saat itu, ampuh, dan selalu menangan. Maklum, saat itu Nirwan Bakrie, adalah kongklomerat baru di era 80-an. Dan, materi pemainnya, nyaris semua pemain nasional Indonesia.

    Di lain pihak, klub pendatang baru, banyak yang asal-asalan mendirikan klub. Sehingga, di tengah jalan megap-megap kehabisan bensin. Ada tiga klub, yang akhirnya dibantu Nirwan Bakrie, yaitu Medan Jaya, Lampung Putra dan Makassar Utama. Agar mereka tetap bisa melanjutkan berpartisipasi ikut kompetisi.

    Namun, dampaknya. Setiap Pelita Jaya melakukan partai away ke Medan Jaya, Lampung Putra dan Makassar Utama. Maka, dengan mudah meraih tiga point alias menang. Makanya, Pelita Jaya musim 1988-89, selain juara. Juga meraih 18 poin saat berlaga home anad away melawan Medan Jaya, Lampung Putra dan Makassar Utama. Dan, musim Galatama 1990, Pelita Jaya juara.

     

    KEDUA

    Juli 2003, Roman Abramovic membeli klub Chelsea FC sebesar 140 juta poundsterling dari Ken Bates. Namun, tahun 2004, pengusaha minyak Rusia ini, juga kepincut CSKA Moscow, sebagai sponsor, sebesar 58 juta dolar Amerika. Tahun itu juga, majalah Pro Sport edisi Juni 2004 menulis tentang keberadaan Roman Abramovic di CSKA Moscow. Bahwa, posisinya sesuai aturan UEFA – federasi sepakbola Eropa, melanggar poin “Conflic of Interest”. Tahun 2005, CSKA Moscow  adalah klub pertama Rusia, yang mampu juara UEFA Cup.

    Bayangan UEFA, mengapa Roman Abramovic akan melanggar conflic of interest?  Jawabnya. jika CSKA Moskow lolos ke final, baik di UEFA, Winners Cup dan Champions Cup saat itu, harus menghadapi Chelsea. Maka, pertandingan tidak akan menarik. Karena, keduanya milik Roman Abramovic dan juga disponsori Roman.

    Kedua contoh kasus di atas inilah, yang membuat mBah Coco, memberi judul tulisan ini, seperti di atas. Bahwa, Erick Thohir, sudah melanggar etika bisnis di dalam sepakbola. Karena, sudah memiliki niat untuk menguasasi Persib Bandung, Semen Padang dan Persis Solo. Istilah peranakan Cina di kawasan Pacinan, “bo ceng li”.

    Alias tidak fairplay, dan tidak respect, sesuai motto FIFA – organisasi sepakbola dunia.

    mBah Coco, jadi ingat pesan Sarman El Hakim, pendiri wadah Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), saat menilai sepak-terjang Erick Thohir.

    Erick itu gede di Amerika, tapi berkuasa di Indonesia. Membangun stadion di Amerika, tapi di Indonesia, numpang Pemda. Dan, seenaknya menggunakan fasilitas negara. Serta banyak melanggar hukum tata negara, saat jadi Menteri BUMN.

    Kalau mBah Coco, tetap nyaman menulis, bahwa Erick Thohir sejak di olahraga, pernah ngibulin Sutiyoso, gagal total membangun Inter Milan, doyan melanggar etika binis, dan rakus dalam membeli klub. Diam-diam, punya skenario, untuk 2024. (bersambung)

    --------
    Penulis : mBah Coco