Teranyar

    Gonjang-ganjing di Pusaran Persis Solo (Jilid 2)

    29 March 2021 11:28
    Saat ini, Pieter Tanuri, sudah menguasai 6 klub anggota Liga 1 Indonesia, yaitu Bali United, Persib Bandung, Arema FC, PSS Sleman, PSIS Semarang dan Persija Jakarta, masuk dalam lingkaran kartel sepakbola nasional. Mereka dijerat untuk bisa masuk dalam kancah IPO – ke lantai bursa saham. Mereka, tidak boleh degradasi selama belum dan sesudah masuk bursa saham.
    Artikel sebelumnya: GONJANG-GANJING DI PUSARAN PERSIS SOLO (JILID 1)

    ERICK THOHIR-PIETER TANURI MENIPU KAESANG PANGAREP


    Dalam kancah pembinaan sepakbola, Erick Thohir dan Pieter Tanuri, tidak punya prestasi apa-apa. Tidak punya membangun sepakbola dengan serius. Menurut mBah Coco, kedua nama yang disebutkan tadi, adalah petualang, yang mencoba mencari peruntungan, sekaligus bisa mencari peluang, jual-beli klub, dan kemudian dijual ke Initial Public Offering (IPO) – penawaran ke bursa saham.

    Sepak-terjang Pieter Tanuri, yang lebih dulu menjual saham Bali United miliknya, menjadi pemicu. Namun, versi mBah Coco, karena rata-rata pemilik dan pengelola klub, anggota liga 1 dan 2 Indonesia itu blo’on-blo’on, maka peluang ini dijadikan, ‘makanan empuk” Pieter Tanuri, masuk ke kantong-kantong pemilik klub, untuk membujuk agar klubnya dijual.

    Saat ini, Pieter Tanuri, sudah menguasai 6 klub anggota Liga 1 Indonesia, yaitu Bali United, Persib Bandung, Arema FC, PSS Sleman, PSIS Semarang dan Persija Jakarta, masuk dalam lingkaran kartel sepakbola nasional. Mereka dijerat untuk bisa masuk dalam kancah IPO – ke lantai bursa saham. Mereka, tidak boleh degradasi selama belum dan sesudah masuk bursa saham.

    Pieter Tanuri, yang dijuluki mBah Coco sebagai gembong kartel bola Indonesia, masih belum puas. Dan, terkesan semakin rakus mengobrak-abrik tatanan organisasi PSSI. Jika 2019 lalu, Pieter Tanuri, sudah punya PSIM Jogjakarta, Sulut United. Kini awal 2021 ini, lewat Kevin Nugroho, ponakannya Yabes Tanuri (adik kandung Pieter Tanuri), membeli Martapura FC, menjadi Dewa United. Dan, saat ini, masih bermasalah dengan pemilik aslinya.

    Erick Thohir, boleh pernah mengelola Inter Milan Milan, sebagai Presiden Internazionale Milano, sejak tahun 2013 – 2016. Namun, penggemar I Nerazzurri merasa ditipu Erick Thohir. Karena, selama 3 musim, manajemen Erick, tidak membeli pemain serta tidak melakukan perubahan manajemen skuad, dan prestasinya jeblog. Nggak pernah menembus kasta Eropa, Champions League.

    Karena motivasinya, hanya satu. Saham 70% yang pernah dibeli dengan harga US$460 juta, dari Massimo Moratti, oleh konsorsium yang dibangun atas nama Internotional Sport Capital (ISC), atas nama Glenn Sugita, ada Rosan Roeslani (kini Ketua Kadin), dan Handy Soetejo. Diberi target naik nilai sahamnya.

    Namun, Erick Thohir yang dijadikan “boneka” Glenn, Roslan dan Handy, selama di Italia, ternyata gagal total. Bahkan, jika tidak buru-buru dijual ke Shuneng Group, Erick Thohir dikejar terus oleh lembaga Otoritas Jasa Keuangan, atau OJK-nya Italia. Beruntung, 6 Juni 2016, Erick bisa melepas semua sahamnya. Mungkin, kalau saat itu, belum ada yang beli, Erick jadi tersangka.

    Kini, keduanya, yang sama-sama pemilik saham Persib Bandung, sukses merayu Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden RI, Ir. Joko Widodo. Entah skenario apa yang sedang dibangun, Erick dan Pieter, hingga sukses “mencaplok” Kaesang, yang “piyek” di “hutan belantara” sepakbola nasional.

    Berawal, 27 Februari 2021, ujug-ujug skenarionya Kaesang ke markas Bali United. Gosip yang berkembang, Kaesang mau beli saham Bali United. Kaesang mau beli klub Bali United. Tapi, versi mBah Coco, Kaesang memang sengaja datang ke Bali United, untuk di doktrin, bagaimana caranya bisnis sepakbola, lewat jalur IPO – yaitu melantai ke bursa saham.

    Kaesang, yang terkenal sebagai youtuber dan pengusaha makanan, sepertinya kepincut bujuk rayu “gombal mukiyo”-nya Pieter Tanuri. Atau, mungkin Kaesang merasa sudah bosan atau sudah merasa gagal sebagai pengusaha makanan, akhirnya memberanikan diri, masuk ke ‘hutan belantara” sepakbola nasional, yang sudah dikuasai gembong kartel Pieter tanuri.

    Tidak sampai sebulan, sejak 27 Februari 2021. Ujug-ujug, Sabtu 20 Maret 2021, Kaesang, Erick Thohir dan Kevin Nugroho, deklarasi sebagai pemilik PT Persis Solo Saestu (PSS) 100%, dari tangan Vijaya Vitriyasa (70%) dan Sigit Haryo Wibisono (20%).

    Akhirnya, mBah Coco, berkesimpulan yang awalnya menebak-nebak, akhirnya sudah terkuak. Bahwa, Kaesang Pangarep, sedang dijorokin Erick Thohir dan Pieter Tanuri, sebagai “boneka”-nya mereka berdua, untuk petualannya sebagai calon presiden 2024.

    Mengapa?
    Jika Kaesang Pangarep, menguasai saham yang tidak mayoritas, hanya (40%), sedangkan Kevin Nugroho (30%) dan Erick Thohir (20%). Maka, jika terjadi kekisruhan dalam tubuh Persis Solo, atas kelakuan Kaesang Pangarep, yang buta situasi sepakbola nasional.

    Versi mBah Coco, Kevin Nugroho dan Erick Thohir sangat mudah bersatu (50%), dan memveto Kaesang. Maka, habislah anak bungsu Jokowi ini. Pesan ini, menjadi “bom waktu” bagi Kaesang. Apalagi, kalau kejadiannya, setelah Jokowi sudah selesai sebagai presiden, dan Erick Thohir yang rakus itu, juga gagal jadi presiden. Bijimane?

    Saran mBah Coco kepada Kaesang Pangarep.

    Youtuber dan pengusaha makanan ini, harus mencontoh bapaknya. Dulu, tahun 2004 – 2011, saat Jokowi sebagai Walikota Solo. Yang mikirin dan ngurus Persis Solo dan sepakbola Solo Raya, adalah wakilnya FX Hadi Rudyatmo.

    Tahun 2012 – 2014, saat Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta, yang ngurus dan mikirin Persija Jakarta, adalah wakilnya, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Bahkan, saat Persija Jakarta kehilangan induknya, akibat Ferry Paulus gagal mengelola skuad metropolis itu, nyaris dibeli Pemda Jakarta.

    Sejak 2014 – sampai hari ini, sebagai Presiden Republik Indonesia, tidak perlu cawe-cawe sepakbola Indonesia. Jokowi, cukup mengeluarkan Inpres No 3, yang ditandatangani 25 Januari 2019, Tentang Persepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional.

    Jangan sampai belum sampai sebulan, sejak 27 Februari 2021 ketemu pemilik Bali United, yang gembong kartel, dan kemudian launching Persis Solo, 20 Maret, bersama Erick Thohir yang tidak punya prestasi apa-apa di sepakbola.

    Ujug-ujug, Kaesang Panagarep, membuat statment bagaimana bom di siang hari, yaitu "Liga 1 harga mati," ucap Kaesang saat memberikan kata-kata sambutan dalam perkenalan manajemen baru PT PSS di Stadion Manahan Solo, 21 Maret 2021 lalu..

    Yang semakin aneh, Kaesang Pangarep, terkesan menjadi seorang genius, dan menyatakan bahwa Persis Solo, segera melantai ke bursa saham di BEJ, seperti rayuan gombal Pieter Tanuri, yang klubnya Bali United, yang menjual sahamnya ke bursa saham.

    Pertanyaannya mBah Coco kepada Kaesang. Tahu nggak sih, syarat-syarat masuk ke bursa saham?

    Analisis akhir dari mBah Coco, Kaesang sedang dijebak dan ditipu Pieter Tanuri dan Erick Thohir. Karena, menurut mBah Coco, komentar Kaesang, tentang “Liga 1 Harga Mati”, dan menjual saham Persis Solo ke bursa saham. Sangat sulit, dan tidak akan terjadi. Atau, jangan-jangan Kaesang, nyaman saat dijebak?

    Mengapa? (bersambung)
    -----------
    Penulis : mBah Coco