Teranyar

    Gonjang-ganjing di Pusaran Persis Solo (Jilid 3)

    30 March 2021 17:25
    Saat belum pernah di kancah sepakbola profesional, Persis Solo tak pernah menikmati gelar juara. Persis Solo, hanya pernah menikmati gelar juara, di jaman PSSI Perserikatan. Itu pun, hanya ditahun-tahun sejak berdirinya PSSI, juara PSSI Perserikatan 1935, 1936, 1939, 1940, 1942, 1943 dan 1948. Sejak itu, jejak Persis Solo, hanya sebagai pelengkap dalam kancah sepakbola nasional. Ini faktanya.

    Artikel sebelumnya: GONJANG-GANJING DI PUSARAN PERSIS SOLO (JILID 1) GONJANG-GANJING DI PUSARAN PERSIS SOLO (JILID 2) 

    SUPORTER PASOEPATI-SOERAKARTANS WAJIB BERSIKAP
    Ar

    mBah Coco, terkesan jadi orang blo’on, kalau tidak dikatain dungu. Ketika mendengar pemilik saham terbesar PT Persis Solo Saesto, Kaesang Pangarep, 20 Maret 2021 lalu, berucap, bahwa “Liga 1 Harga Mati”, dan menyusul buat status, Siap menjual Saham Persis Solo ke bursa saham.

    Menurut mBah Coco, untuk sebuah klub sepakbola masuk bursa saham, dan dijual dalam bentuk Initial Public Offering (IPO). Salah satu syaratnya, adalah pernah menikmati juara. Persis Solo, memang salah satu punggawa berdirinya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), 19 April 1930. Namun, dalam 20 tahun terakhir, posisi Persis Solo, tak pernah menikmati gelar juara, bahkan belum pernah nikmati sebagai klub di kasta tertinggi Liga 1 Indonesia.

    Saat belum pernah di kancah sepakbola profesional, Persis Solo tak pernah menikmati gelar juara. Persis Solo, hanya pernah menikmati gelar juara, di jaman PSSI Perserikatan. Itu pun, hanya ditahun-tahun sejak berdirinya PSSI, juara PSSI Perserikatan 1935, 1936, 1939, 1940, 1942, 1943 dan 1948. Sejak itu, jejak Persis Solo, hanya sebagai pelengkap dalam kancah sepakbola nasional. Ini faktanya.

    Sejak didirikan 8 November 1923, atau tujuh tahun sebelum PSSI lahir, dengan nama  Vorstenlandsche Voetbal Bond, nasib Persis Solo. Hanya sekali diuntungkan masuk kasta tertinggi, Divisi Utama Liga Indonesia.

    Ketika sepakbola Indonesia, seolah-olah profesional, dengan menggelar Liga Indonesia 1994-95, Persis Solo masih berkutat di Divisi II, sebagai juara. Dan, kemudian tahun 2006-2007, masuk kasta tertinggi sebagai runner up Divisi II, dan menikmati kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007-2008.

    Sayangnya, saat berada di kasta tertinggi Liga Indonesia 2007-2008, Persis Solo hanya diurutan ke-11, dari wilayah timur. Ada aturan baru, dari 18 klub Wilayah Timur, hanya sembilan (9), yang bisa lolos ke Liga Super Indonesia. Otomatis, Persis Solo, menikmati kasta tertinggi, hanya satu musim. Dan, sampai hari ini, berkutat di kasta kedua sepakbola nasional.

    Namun, Maret 2021 ini, nama Persis Solo lumayan viral. Dengan masuknya Kaesang Pangarep, Kevin Nugroho dan Erick Thohir, sebagai pemilik saham yang baru. Bahkan, Kaesang dengan gagah berani membuat janji, bahwa “Liga 1 Harga Mati”, dan kemudian, siap masuk ke bursa saham, menjual saham Persis Solo.

    mBah Coco, sangat ragu, khususnya saat Kaesang bertamu ke markas Bali United, 27 Februari 2021, untuk memperlajari sistem membangun klub, berbasis IPO – menjual saham. Hanya dalam sehari dua hari. Bahkan, Kaesang terkesan dikarbit, oleh Pieter Tanuri, agar bisa meniru tata cara Bali United, masuk bursa saham.

    Kaesang, Kevin dan Erick Thohir kudu paham. Bahwa, status Persis Solo itu kontras sekali dengan Bali United. Tidak bisa disamakan, seolah-olah mudah. Persis Solo, dilahirkan dari bond perserikatan, yang sejarahnya dimiliki oleh perkumpulan sepakbola (PS) anggota PSSI Kota Solo (Askot). Kaesang, Kevin dan Erick wajib sadar, dan perlu diingatkan, bahwa yang dibeli itu hanya “saham” PT pengelola Persis Solo, yaitu PT Persis Solo Saestu.

    Menurut mBah Coco, ibarat Kaesang, Kevin dan Erick itu, punya mobil. Maka, nama Persis Solo, hanya punya STNK, dan Askot Kota Solo beserta anggotanya, yang berjumlah 34 klub amatir tersebut, pemilik tunggal BPKB-nya.

    Makanya, mBah Coco bilang, bahwa Pieter Tanuri, entah menjebak atau membodohi Kaesang, atau memang sengaja ingin menipu Kaesang, dengan membandingkan kepemilikan Bali United. Sejak lahir, Bali United, sejatinya bodong, karena membeli klub dari Kalimantan, Putra Samarinda, kemudian dipindah ke Bali (melanggaran etika dalam jual beli badan hukum). Di Pulau Dewata, murni sebagai klub “swasta”. Beda dengan Persis Solo, aslinya milik “plat merah”.

    Sekali lagi, mBah Coco hanya bisa mengingatkan, bahwa sebuah klub jika mau masuk ke ladang bursa saham, salah satu syaratnya, sudah menikmati gelar juara di kancah sepakbola profesional, dalam 20 tahun terakhir. Sampai, hari ini, Persis Solo berkutat di kast kedua. Njuk piye jal?

    Pertanyaannya, bagaimana bisa juara Liga 2, jika materi pemainnya kosong-blong, jejak skuad Persis Solo semuanya dibuang. Dan, yang memilih materi pelatih dan pemainnya, bukannya pemilik saham, antara Kaesang, Kevin atau Erick. Melainkan, yang mengkontrak pelatih dan pemain, adalah Pieter Tanuri.

    mBah Coco, semakin binggung dengan “matematika” Pieter Tanuri, sebagai gembong kartel, yang semakin rakus, ingin menguasai semua bisnis klub-klub di Indonesia.

    Awalnya, sebelum launching Persis Solo, permindahan pengelolannya dari Vijaya Fitriyasa-Sigit Haryo Wibisono. Dari CCVT mBah Coco, bahwa Pieter Tanuri, sudah bergereliya mencari pelatih Persis Solo, untuk menggantikan Salahuddin, pelatih jaman Vijaya Vitriyasa. Pieter Tanuri, bertemu Angel Alfredo Vera, pelatih asal Argentina, yang masih menjadi arsitek Persiba Balikpapan.

    Alfredo, membuka harga Rp 850 juta, untuk menjadi arsitek Persis Solo, musim Liga 2 Indonesia 2021 nanti. Namun, Pieter Tanuri menawar harganya, bisa diturunkan menjadi Rp 600 juta. Karena, Alfredo kekeh dengan harga Rp 860 juta. Akhirnya, Pieter Tanuri, memilih Eko Purjianto, pelatih asal Semarang, yang selama ini, sering menjadi asistennya Indra Sjafri, baik di Bali United dan mau pun asisten tim nasional Indonesia.

    Masih dari sepak terjang, gembong kartel sepakbola nasional. Materi pemain yang disiapkan untuk dijadikan skuad Persis Solo, menuju Liga 2 Indonesia nanti, adalah semua pemain yang tidak dipakai oleh Bali United. Plus, para pemain jebolan Garuda Select, yang dikelola MolaTV, milik PT Djarum.

    Logikanya, menurut mBah Coco. Bagaimana, caranya, materi pemain buangan alias “sampah”-nya Bali United, untuk dikawinkan dengan para pemain Garuda Select yang gagal dijual ke klub-klub di Eropa, disulap menggunakan akrobatik asal-asalan. Trussss,  ngotot Persis Solo, bisa menjadi juara Liga 2 Indonesia 2021, yang dibentuk dalam tiga bulan ke depan? Sehebat apa Eko Purjianto, yang belum punya prestasi apa-apa dalam meracik klub di Liga Indonesia?

    Dari situ, mBah Coco semakin pesimis melihat Persis Solo, bisa meraih mimpinya, masuk ke kasta tertinggi. Padahal, dengan materi pemain yang di atas rata-rata, saat diarsiteki Widyantoro dan Salahuddin, dalam delapan musim terakhir. Nasib, Persis Solo memble terus menerus. Hanya selalu nyaris lolos delapan (8) besar. Sedangkan, kini materinya benar-benar baru. Ditambah, tidak ada satu pun, putra daerah asal Solo Raya.

    Jika Persis Solo, tidak menyertakan putra daerah. Menurut mBah Coco, sama dengan Bhayangkara Solo FC, yang sudah ngendon di Manahan, di Liga Indonesia 2021 mendatang. Yaitu, tanpa menyertakan pemain-pemain berbakat dari Solo. Cukup, hanya mengontrak stadion Manahan, sebagai homabase.

    Pertanyaannya mBah Coco. Kira-kira PASOEPATI – pasukan Soeporter Solo Paling Sejati, dan juga suporter militan SOERAKARTANS, apa nggak frustasi, nonton Persis Solo, dengan materi pemain ‘sampah” dari Bali United, dan Garuda Select. Plus, pelatih Eko Purjianto, asal Semarang, yang jejak prestasi. Padahal, kalau mau sabar dikit, bisa membeli pelatih berkualitas, kelahiran Solo Raya, seperti Kashartadi, misalkan.

    Apakah Kaesang Pangarep sampai cerita di atas paham dan nyaman?

    Kalau ucapan Kaesang, setelah launching pengelolaannya Persis Solo, 20 Maret 2021 lalu, bahwa “Liga 1 Harga Mati.” Menurut mBah Coco, sejatinya jika fair play, sulit terjadi. Pasalnya, ujug-ujug dengan materi pemain “sampah” dari Bali United dan sempalan Garuda Select yang biasa-biasa ilmnya. Berkomentar, menjadi salah satu dari tiga (3) klub Liga 2 yang promosi ke Liga 1.

    Namun, jika menengok sejarah dalam lima musim terakhir. Semua klub yang mau promosi ke Liga 1 Indonesia, nyaris 100% semuanya pesen ke gembong atur pengatur pertandingan dan skor, sekaligus pengatur promosi dan degradasi. Namanya Vigit Valuyo. Saat ini, sudah kembali menghirup kebebasan dari hotel prodeo di Sidoarjo.

    Contohnya, walaupun Martapura FC itu sudah dibeli Vigit Waluyo. Namun, di kompetisi Liga 1 Indonesia 2018. Vigit berani menerima order tiga (3) klub dari semifinalis Liga 2 Indonesia 2018. Yaitu diorder Martapura FC, Kalteng Putra, PSS Sleman. Sedangkan, semifinalis satunya, Semen Padang, hanya samar-samar. Apakah order kepada Vigit atau tidak?

    Di tikungan semifinal, Vigit Waluyo berani mengorbankan Martapura FC untuk tetap bercokol tetap di Liga 2 Indonesia. Sedangkan, PSS Sleman, Kalteng Putra dan Semen Padang, melenggang promosi ke Liga 1 Indonesia 2019, menggantikan Mitra Kukar Tenggarong, Sriwijaya FC Palembang, dan PSMS Medan.

    Menjelang Liga 2 Indonesia 2021, yang katanya akan digulirkan Juli nanti. Ada skenario yang sudah dirancang Pieter Tanuri, sejak musim Liga 2 Indonesia 2019. Di mana, Pieter Tanuri, sudah siapkan PSIM Jogjakarta dan Sulut United, yang masuk dalam kompetisi Liga 2 Indonesia, Wilayah Timur, sebagai bagian dari kartelnya.

    Awal Maret 2021, Pieter Tanuri menambah amunisi, dua klub lagi, yang dipasang untuk berjaga-jaga, mencari peluang menyodok masuk kasta tertinggi Liga 1. Yaitu Martapura FC disulap menjadi Dewa United, yang dikelola Kevin Nugroho, pemilik 30% saham Persis Solo. Dan, juga Persis Solo. Intinya, Pieter Tanuri, saat ini sudah punya empat (4) jagoan di Liga 2, dari manajemen gerbong kartel.

    Persaingan Liga 2 Indonesia 2021 nanti, menurut mBah Coco, dari Wilayab Barat, ada PSMS Medan, Semen Padang, PSPS Riau, Sriwijaya FC dan Badak Lampung (jelmaan Perserui Serui, yang degradasi musim 2019). Dewa United, dan Cilegon United, yang baru saja dibeli selebritis kondang, Raffi Ahmad.

    Dari hitungan mBah Coco, jika PT Liga Indonesia Baru (LIB), masih menggunakan salah satu dari dua klub, Persis Solo atau PSIM Jogjakarta, dicemplungi ke Wilayah Barat. Maka, prediksi mBah Coco, klub yang dikelola Pieter Tanuri akan tersungkur. Apalagi, jika tidak bekerjasama dengan Vigit Waluyo, sebagai gembong atur mengatur pertandingan, skor dan atur promosi dan degradasi.

    Namun, kalau Pieter intervensi ke LIB, bahwa Persis Solo dan PSIM Jogjakarta dijadikan satu kembali, seperti Liga 2 Indonesia 2019, di Wilayah Timur. Maka, Pieter Tanuri bisa mengelola dan mengatur. Siapa yang dianggap pantas lolos ke Liga 1 Indonesia di musim 2022?

    Karena, masih menyimpan satu klub lagi, saitu Sulut United. Tinggal pilih saja satu diantara tiga klub yang dikelolanya. Dan, ucapan Kaesang Pangarep, bisa akan terlaksana, jika Persis Solo dicemplungi ke Wilayah Timur, untuk promosi ke Liga 1 Indonesia 2022. Taktik strateginya, PSIM Jogjakarta dan Sulut United mengawal Persis Solo, dari partai-partai di Wilayah Timur, untuk meloloskan Persis Solo ke klub elit Indonesia.

    Yang semakin terkuak lebar-lebar, ucapan Kaesang Pangarep veri mBah Coco, akan terjadi sukses. Walaupun, skuad timnya adalah pemain-pemain “sampah”. Karena, di belakang Persis Solo, selain ada Pieter Tanuri, sudah di back-up Vigit Waluyo dan Iwan Budianto (wakil ketua umum PSSI).

    Sekali lagi, pertanyan mBah Coco, kira-kira suporter militan PASOEPATI dan SOERAKARTANS, seneng-seneng wae, bersikap, opo brontak yo? (istirahat dulu, siapa tau nanti bersambung)

     

    CATATAN:          

    - Ketika Sigit Haryo Wibisono membeli saham Persis Solo 90%, tahun 2016, tujuannya agar Sigit Harya, merasa bisa dekat dengan Jokowi.

    - Ketika Vijaya Vitriyasa membeli saham Persis Solo 70%, Juni 2019, tujuannya hanya coba-coba nyemplung masuk bisnis sepakbola.

    - Ketika Pieter Tanuri-Erick Thohir membeli saham Persis Solo 90%, Maret 2021, tujuannya njorokin Erick Thohuir jadi calon Presiden 2024.

    --------
    Penulis: mBah Coco