Teranyar

    Inikah 'Kuncian' PSSI Untuk Menjegal Persib Bertahta Lebih Lama?

    2 October 2018 18:15
    Jonathan Bauman, Bojan Malisic, dan Ezechiel 'Ndouassel mendapat sanksi usai pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta. Ke tiga pemain yang menjebol gawang Persija pada pertandingan panas penuh drama di Stadion GBLA, Ahad 23/9/2018 lalu, disanksi larangan bermain masing-masing 2x, 4x, 5x.

    Selain itu juga, Fernando Soler yang menjadi komunikator antara pelatih Mario Gomez dengan anak asuhnya di lapangan turut terkena sanksi. Interpreter itu disanksi tidak boleh masuk stadion untuk mendampingi Gomez hingga Liga 1 2018 berakhir.

    Ieu Rame Lur:

    Komdis PSSI Persilahkan Persib Mengajukeun Banding!

    Tak Masalah Dihukum, Ardi Hanya Kecewa Sanksi untuk Bojan, Joni & Eze !

    Pada sanksi yang dikeluarkan Komdis sebelumnya, 22/9/2018, Komdis juga sudah menghukum Patrich Wanggai sebanyak 3x pertandingan. Otomatis kekuatan Persib Bandung di lini depan 'habis' hanya menyisakan pemain pelapis: Muchis Hadining, Airlangga, dan Wildan.

    Lini belakang Persib yang tangguh pun digerogoti dengan sanksi untuk Bojan Malisic. Di mana sejak kedatangan pemain belakang ini, lini pertahanan Persib menjadi sangat tangguh.


    Ieu Rame Lur:

    Umuh: Persekongkolan Seperti Ini Yang Harus Kita Sikat!

    Petinggi Persib : Putusan Komdis Tidak Mencerminkan Rasa Keadilan !

    Dengan 'mengunci' pemain-pemain kunci Persib Bandung dalam lembaran yang bernama sanksi Komdis PSSI tentu menjadi pertanyaan besar. Apakah PSSI sedang berupaya menegakan sanksi dan disiplin, atau sedang menjegal calon juara liga?

    Hingga pekan ke-23 Liga 1 2018, Persib yang sempat terseok di awal musim, mantap memimpin dengan 44 angka. Berselisih 6 angka dengan PSM Makassar di peringkat ke-2.

    Ezechiel 'Ndoussel sempat menjadi top scorer Liga 1, dan kini menajdi top scorer klub dengan 14 gol. Sementara Jonathan Bauman, perannnya sebagai raja assist tidak diragukan. Ia juga sudah menorehkan 9 gol ke gawang lawan.

    Patrich Wanggai yang baru bergabung di putaran ke-2 juga menjadi sosok menakutkan di garis depan. Debutnya bersama Persib Bandung bahkan menyumbang dua gol.

    Lini depan yang ditumpulkan, lini belakang yang dilumpuhkan, serta komunikasi pelatih dengan pemain yang diputuskan menjadi kata-kata kunci yang menyumbang berbagai macam opini dan asumsi. Bukan tanpa alasan, karena statistik para pemain yang 'dilumpuhkan' adalah pemain yang berkontribusi banyak hingga 23 pertandingan.

    Belum lagi hukuman tanpa penonton, pertandingan usiran ke luar pulau, serta hukuman tambahan setenngah musim Liga 2019 tanpa penonton di laga kandang menjadi cukup mengherankan bila dikaitkan dengan kematian Hraingga Sirla dan panasnya tensi pertandingan Persib vs Persija.

    Sebagai contoh, melubernya penonton Arema FC vs Persija Jakarta (5/8/2018) yang luput dari sanksi. Padahal jelas diatur dalam banyak pasal di Kode Disiplin yang dibuat PSSI. Begitu juga tawuran antar suporter Persija Jakarta vs PSSI yang terjadi di dalam stadion usai pertandingan, hanya disanksi berupa denda.

    Bila para pemain asing Persib disanksi karena paspornya, mengapa Arthur Cunha yang jelas menanduk Bojan Malisic pada pertandingan Arema FC vs Persib Bandung (15/4/2018) tidak disanksi? Pertandingan yang berakhir dengan skor 2-2 itu pun diakhiri dengan kerusuhan supoter Arema FC, Aremania, yang bahkan membuat pelatih Persib Bandung Mario Gomez terluka di pelipisnya.

    Quo Vadis Komdis PSSI? Apakah harus selalu menunggu banding untuk menegakkan keadilan? Atau opini publik yang mempengaruhi keputusan persidangan, bukan investigasi mendalam? Lalu masih mau bicara keadilan dan perdamaian?

    Pertandingan Pekan ke-24 ditunda, Persib Bandung kini fokus menghadapi Persipura Jayapura di Jayapura di pertandingan Pekan ke-25 Liga 1. Dengan kekuatan yang digerogoti akibat sanksi dan akumulasi, Persib Bandung seperti Leonidas, Raja Sparta, yang berangkat perang melawan Persia hanya dengan 300 orang pasukan di film 300.

    Bahkan Persib Bandung bisa  dianalogikan dengan kisah perang Badar di tahun 624M/2 Hijriah. Di mana 313 pasukan muslimin dengan senjata dan perlengkapan perang seadanya yang melawan 1000 orang pasukan Kafir Quraisy. 

    Bisakah Persib Bandung bertahan, setidaknya hingga 5 pertandingan ke depan? Apalagi banding terhadap sanksi  juga tidak menjadi jaminan akan datangnya keadilan?

    Namun seperti kata Opah Gomez, juara itu ditentukan di lapangan bukan di ruangan. Kami tetap bersamamu, Sib! tetap berjuang, sampai titik darah penghabisan!

    (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Ricky N. Sastramihardja, Redaktur Pelaksana Bobotoh.ID

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Ayo Dibeli