Teranyar

    Inspirasi Bagi Pelatih Lokal: Louis van Gaal, Godfathers Football

    6 December 2020 16:14
    Louis van Gaal. (Foto: ANP)
    Wartawan kawakan BBC, Geoff Shreeves menurut mBah Coco, sangat tajam ketika membedah apa saja yang dijadikan impian sosok Louis van Gaal.

    Nonton cerita-cerita tentang para pelatih kelas dunia, yang masuk dalam kategori Godfathers Football, di program History milik BBC, selalu ingin ditonton terus menerus. mBah Coco, sudah nonton tiga kali, tapi tetap saja sangat inspiratif, dan selalu ingin diulang. Salah satunya, adalah cerota tentang sepak terjang Louis van Gaal.

    Salah satu yang paling menonjol, dalam cita-cita Louis van Gaal. Bahwa, dirinya, ingin meniru jejak idolanya, yaitu Rinus Michels, yang pernah menelorkan Johan Cruyff dan marco van Basten di Ajax Amsterdam dan tim nasional Belanda.

    Wartawan kawakan BBC, Geoff Shreeves menurut mBah Coco, sangat tajam ketika membedah apa saja yang dijadikan impian sosok Louis van Gaal.  Ada tiga tim yang disulap Louis van Gaal, yang merasa punya passion sebagai guru olahraga, ketimbang sebagai pemain bola profesional ini.

    Ketika menjadi arsitek Ajax Amsterdam, Louis van Gaal, sudah punya insting, untuk mencetak pemain berbakat “young guns”, untuk dijadikan icon, di kemudian hari, etah sebagai pemain inti di klub, atau pun sebagai pemain nasional.

    Disaat sangat genting, Ajax Amsterdam saat menghadapi raksasa AC Milan, di final UEFA Champions League 1994 – 95, pada menit 70, Louis van Gaal berani menggantikan striker utamanya Jari Litmanen, yang jadi topskor musim itu, dengan cemplungi Patrick Kluivert, yang baru berusia 18 tahun.

    AC Milan saat itu, bisa disebut “miniatur” tim nasional Azurri Italia. Sebastian Rossi, Christian Panucci, Paolo Maldini, Franco Baresi, Demetrio Albertini, Allesandro Costacurta, Roberto Donadoni, Daniele Massaro dan Marco Simone. Hanya menyisakan dua pemain asing, Marcel Desailly dan Zvonimir Boban, dengan pelatih legendarisnya Fabio Capello. Sekaligus, sebagai juara bertahan.

    Sementara, Ajax Amsterdam, hanya pasukan gabungan anak-anak muda, dan para veteran. Misalkan, Frank Rijkaard sudah pensiun dari AC Milan setelah menikmati juara UEFA Champions League 1988 – 89, dan 1989 – 90. Selebihnya, pemain yang baru menikmati sebagai pemain nasional Belanda, saat diterjunkan ke World Cup 1994, seperti Marc Overmars, Michael Reiziger, si kembar Ronald dan Frank de Boer, Danny Blind, Clarence Seedorf dan Edgar David.

    “Saya punya insting untuk mencetak pemain muda, yang nantinya bisa jadi pahlawan tim,” kata van Gaal. “Tidak mudah, mengganti Jari Litmanen dengan Kluivert, dalam kondisi genting,” tambahnya. Saat itu, kedudukan masih 0 – 0, saat Patrick Kluiver masuk menit ke-70.

    Ieu Rame Bob: GEGARA COVID, PEMAIN MUDA BALI UNITED BUKA WARUNG

    Nyatanya, saat menit 85, sontekan Kluivert mengubah perjalanan anak muda Ajax, yang akhirnya menjadi langganan 10 tahun bersama “tim Oranye” Belanda. Dan, enam musim bersama Barcelona. Louis van Gaal, sebagai pelatih, sudah merasakan denyut gelar juara, seperti mentornya Johan Cruyff, dan Rinus Michels. 

    Mimpinya, mengikuti jejak Cruyff dan Rinus Michels pun, dijalankan, saat menjadi pelatih Barcelona dua kali, musim 1997 – 2000, dan 2002 – 02. Louis van gaal kembali berceloteh, bahwa saat Andres Iniesta, masih di Barcelona B, dalam usia 18 tahun, dimasukan dalam skuad inti, sebagai starter.

    “Saya memberi mental bertanding yang bersejarah, buat empat pemain muda dari Barcelona B, ke tim inti, kata van Gaal. Mereka adalah Victor Valdes, Thiago Motta, Xavi Hernandez, Andres Iniesta. Dan, semuanya jadi maestro, khususnya Xavi dan iniesta, yang mampu membawa tim “Matador” juara Piala Eropa 2008 dan 2012, serta Piala Dunia 2010.

    Menurut van Gaal, Iniesta, sudah memiliki bakat yang luar biasa sejak usia 17 tahun. Kalau di Indonesia, bisa disamakan dengan Bagus Kahfi. Saat usia 17 tahun, Iniesta, sudah meraih gelar juara U-17 EUFA Cup antara negara Eropa di Inggris, tahun 2001, bersama tim Spanyol.

    Louis van Gaal, tidak pernah merasa bosan, ketika membekab klub elit dunia, Manchesyer United 2014 – 16, lagi-lagi memberi kesempatan emas kepada para “young guns” didikan Man-U. Salah satu yang fenomenal, ketika Marcus Rashford, dalam usia 18 tahun, sudah melakukan debut perdananya bersama “Setan Merah”, dengan dua gol, saat diterjunkan di UEFA Europe League, menghadapi Midtjylland, klub Denmark.

    Cerita di atas, hanya memberi pesan kepada para pelatih lokal Indonesia. Mampukah, para pelatih lokal, mencetak “young guns”? Karena, selama 35 tahun mBah Coco, berkecipung di sepak bola nasional, tidak ada pelatih sehebat EA Mangindaan (tim nasional 1970 – 71). Yang mampu, membidik Risdianto, saat dalam usia 16 tahun, sudah digaet klub profesional pertama di Indonesia, Perdedetex, Medan.

    Dan, saat diberi kesempatan masuk skuad tim nasional senior, dalam usia 18 tahun, ujug-ujug bingung saat mencetak gol perdananya. Dan, kemudian, Risdianto tak melakukan selebrasi, tak ada rasa bangga. Karena, saat mencetak gol, kondisi dan suasana bathin Risdianto sangat “norak’, melihat megahnya Stadion Bung Karno saat itu.

    Cerita yang tersirat dari mBah Coco. Bahwa anak-anak muda di republik “mbelgedes” ini, yang sedang bermimpi menjadi pemain nasional. Bahwa, para pemain muda Indonesia, yang dilahirkan, bukan dalam kompetisi murni, jangan merasa bangga dan pongah. Karena, kalian-kalian “young guns” belum masuk dalam skuad tim nasional senior Indonesia.

    Baru, dalam masa proses dicetak sebagai pemain nasional. Siapa yang bilang, nantinya Egy Maulana Vikry atau Bagus Kahfi, mampu melakoni proses dan jenjang, sebagai pemain berbakat, dan kemudian selalu menjadi starter tim nasional Indonesia, di event-event internasional?

    Geoff Shreeves, sebagai wartawan BBC yang sudah katham, mampu memberi cuplikan-cuplikan jejak Louis van Gaal. Sehingga, sangat inspiratif bagi para pelatih pemula, atau pun pelatih yang sulit membentuk sebuah tim, hingga juara, sekaligus menelorkan pemain “young guns” yang melegenda.

    ---

    Penulis: mBah Coco