Teranyar

    Jauhi Toxic Parenting, Ortu Kudu Menyokot Peran Ekstra. Tampa Tuntutan Dan Paksaan !

    9 October 2020 16:37
    setiap ortu mampu menjadi pihak yang mampu meningkatkan kepercayaan sang anak. Sikap ini dibarengi dengan empati tinggi dan berkesinambungan.
    Sering mengdangu istilah toxic parenting, lur ? Eta pola asuh yang bisa berpengaruh buruk keur psikologis anak. Dan, bisa saja akan banyak luka pada psikologis anak. Dampaknya pun bisa bertahan sangat lama sampey anak dewasa. Toxic parenting dikategorikan sebagey ortu nu keliru dalam mengasuh anak. Ortu abusif - prilaku kasar, teu dewasa, sampéy mengalami gangguan mental. 

    Sejatinya, memang masing-masing ortu membogaan pola asuh sendiri. Dengan harapan pola asuh nya bisa menyieun anak tumbuh dengan baik. Tapi tampa sadar, beberapa pola asuhnya bisa mengjurus ka pola asuh toxic parenting. Dan, kudu dihindari karena bisa berefek buruk pada anak. 

    Dan, Rabu siang, 7 Oktober 2020, BKKBN Jabar menyieun webinar tentang matsalah ini. Agar rumaja dan ortu yang membogaan anak lebih memahami gimana pola asuh yang tepat, jeung komunikasi efektif. Dengan narasumber Bunda Genre Jabar, Atalia Praratya, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga, BKKBN Muhammad Yani, TV One News Anchor Chacha Anisa, dan dosen Fakultas Psikologi Unisba, Ihsana Borualogo.

    Ceuk Atalia Praratya, banyak ortu tidak sadar telah mempraktikkan toxic parenting dalam mendidik anaknya. Praktik ini kontraproduktif dengan tujuan awal melakukan pendidikan atau pengasuhan anak. Atalia mengidentifikasi setidaknya terdapat delapan jenis toxic parenting yang kerap dilakukan ortu.

    - Kahiji, sok egois jeung kurang empati ka anak. Selalu ngutamakeun kabutuhan sorangan, teu mempertimbangkan kabutuhan atow perasaan anak. Teu berpikir kumaha dampakna keur anak.
    - Kadua, reaktif secara emosional. Bereaksi berlebihan atow sok mendramatisasi situasi.
    - Katilu, mengontrol secara berlebihan. Melakukan kontrol nu super ketat, anak kudu melakukan kahendak ortu tampa menyieun kompromi.
    - Kaopat, pola asuh permisif. Memere kabebasan anak keur melakukan setiap yang dikehendakinya.
    - Kalima, kurang ngahargaan. Apapun usaha dan hasil yang dilakukan anak, selalu dirasakan kurang. Dan, sangat jarang memere apresiasi pada anak.
    - Kagenep, menyalahkan jeung kritik berlebihan pada anak. Serba tak ada sisi baiknya pada anak. Dan, akan meneang “orang lain” keur kegagalan atow kesalahan dalam dinamika keluarga.
    - Katujuh, mengnuntut berlebihan. Sering teu perduli pada kesanggupan jeung kemampuan anak keur mengerjakan suatu hal. Akibatnya, anak akan merasa tertekan dan kehilangan rasa percaya diri.
    - Kadelapan, sok ngungkit nu geus dilakukan keur anak.

    Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar terhindar dari perilaku toxic? Kabalikan dari dalapan toxic tadi, istri Gupernur Jabar berpesan agar setiap ortu mampu menjadi pihak yang mampu meningkatkan kepercayaan sang anak. Sikap ini dibarengi dengan empati tinggi dan berkesinambungan.

    “Kita ortu harus ingat bahwa tidak ada anak yang menguasai semuanya. Sebagian anak menyukai dan pintar matematika tapi lemah untuk seni. Ada juga yang pintar dalam bahasa tapi rendah dalam olah raga. Apapun potensi anak, kita harus memberikan apresiasi. Tidak harus dipaksakan untuk menguasai semuanya,” ujar Atalia.

    Atalia juga ngingatkeun agar para ortu meluangkan waktosnya keur anak. Tentunya waktos yang berkualitas. Mengobrol dari hati ke hati. Baginya, percuma saja ortu berlama-lama dengan anaknya jika masing-masing sibuk mencet kibot gajet masing-masing. Biar sedikit, tapi berkuwalitas. Tunjukan bahwa cinta itu tampa syarat. Tidak semua perlu dibuat semacam reward and punishment.

    Pesan senada diutarakan Dokter Yani, yang menegaskan bahwa persoalan paling penting dalam keluarga adalah komunikasi. Penting bagi ortu untuk belajar kembali tentang komunikasi gaya baru yang lebih sesuai dengan perkembangan kekinian.

    "BKKBN terus mengembangkan cara-cara berkomunikasi efektif dalam keluarga. Salah satunya berupa modul 1001 Cara Berdialog dengan Anak. Modul ini diajarkan kepada para orang tua melalui kelompok kegiatan bina keluarga remaja (BKR), " jelas Dokter Yani.

    Nu penting kudu aya komunikasi dua arah, antara ibu dengan anak maupun ayah dengan anak. Tidak hanya ortu saja. Ayah kudu mampu membangun komunikasi dengan anak, kudu dipikul bersama. Memang ada sosok ayah yang tidak tergantikan. Ayah yang mengjadi panutan di tengah keluarga.

    Menurutnya, ketahanan akan didapat jika keluarga Indonesia menjalankan delapan fungsi keluarga. Jika, hanya salah satu atau beberapa fungsi tidak berjalan, maka ketahanan tidak utuh. Jadi, setiap anggota keluarga perlu bekerjasama keur melakukan pembangunan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Ortu pun perlu menyokot peran ekstra keur membantos anak. Keur mengbentuk karakter kuat, tampa memere tuntutan atow paksaan nu berujung pada perilaku toxic parenting. (Bobotoh.id/HR - FT : ghiokr)

    Ayo Dibeli