Teranyar

    Jual-beli Jabatan Manajer TimNas: Dodi Reza dan Ahmad Haris Korban Konspirasi PSSI

    28 December 2020 12:04
    Dodi Reza Alex Noerdin saat berkunjung ke markas mBah Coco di “Kandang Ayam”
    Jual-beli jabatan Manajer Tim Indonesia U-20, sejak awal menurut mBah Coco, sekali lagi, bukan keinginan Achmad Haris, sebagai wakil Dodi Alex Noerdin.







    Gonjang-ganjing Jual-beli Jabatan Manajer TimNas

    DODI REZA Dan ACHMAD HARIS KORBAN KONSPIRASI PSSI


    Polemik dana persahabatan, yang diberikan Achmad Haris, kaki-tangannya Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin, kepada Joko Purwoko, kaki-tangannya Iwan Bule, sebesar 100 dolar Singapura, untuk jabatan Manajer Tim Indonesia U-20, belum akan selesai. Karena, menyangkut urusan pemerintah, dalam hal ini Menpora Zainuddin Amali.

    Oleh sebab itu, mBah Coco sangat menunggu reaksi Menpora, untuk mengundang semua yang pernah disebutkan mBah Coco, dalam artikel di akun facebook Cocomeo Reborn, 17 Desember 2020, sebagai skandal sepak bola akhir tahun, yang sangat memalukan dan menjijikan.

    Walaupun FIFA U-20 World Cup yang seharusnya digelar 20 Mei – 12 Juni 2021, ditunda dan diputuskan akan digelar kembali tahun 2023 di Indonesia. Menurut, mBah Coco kasus jual-beli tak bisa seenaknya dipetieskan.

    Kebetulan, 23 Desember 2020, Achmad Haris bertandang ke markas mBah Coco di “Kandang Ayam”, yang katanya untuk silahturahmi. Atau, entah, mau ketemu dan dipanggil PSSI. Tapi, intinya utusan Dodi Alex Noerdin, niatnya hanya ingin ketemu mBah Coco.


    Dodi Reza Alex Noerdin saat berkunjung ke markas mBah Coco di “Kandang Ayam”

    Jual-beli jabatan Manajer Tim Indonesia U-20, sejak awal menurut mBah Coco, sekali lagi, bukan keinginan Achmad Haris, sebagai wakil Dodi Alex Noerdin. Semuanya, inisiatif dan gagasan Joko Purwoko, kaki-tangannya Ketua Umum PSSI, Iwan Bule yang, bersekongkol dengan Direktur Bisnis PSSI, Rudy Kangdra.

    Cerita jual – beli jabatan ini, berawal dari kaki-tangan Iwan Bule, si Joko Purwoko yang ditugaskan untuk mencari manajer tim Indonesia U-20. Karena, semenjak Iwan Bule deklarasi sebagai manajer tim Indonesia U-20 dicibir, diviralkan, sebagai berita yang lucu, sekaligus naif. Mosok, ketum PSSI merangkap sebagai manajer?

    Oleh sebab itu, Joko Purwoko mencari “mangsa”-nya, yang memang secara nalar masuk akal, jika bisa menyodorkan sosok yang pantas sebagai Manajer Tim Nasional U-20. Maka, dalam waktu singkat, Joko Purwoko, memilih “mangsa”-nya, Dodi Alex Noerdin.

    Secara kasat mata, sosok Dodi Alex Noerdin, sangat mentereng. Pernah, lebih dari 10 tahun, ikut membidani Sriwijaya FC Palembang, sejak bapaknya, Alex Noerdin, sibuk menjadi gubernur. Dan, kebetulan kota Palembang berturut-turut ditunjuk menjadi tuan rumah SEA Games 2011 dan kemudian Asian Games 2018. Maka, posisi pengelola Srwijaya FC diberikan kepada Dodi Alex Noerdin.

    Kini, Dodi Alex Noerdin sebagai Bupati Musi Banyuasin, juga sangat getol memindahkan klub Babel United masuk ke kota Banyuasin, berjubah Muba United, di Liga 2 Indonesia, yang dilatih Bambang Nurdiansyah.

    Artinya, bicara track record, Dodi sudah tidak perlu diragukan lagi reputasinya. Terakhir, saat Kongres PSSI, 18 April 2015 di Surabaya, Dodi Reza meraih suara terbanyak 102 dari 105 suara, sebagai Exco PSSI-nya La Nyalla Mattalitti, yang akhirnya tidak diakui pemerintah, lewat Menpora Imam Nahrawi.

    Namun, saat dirayu-rayu Joko Purwoko, untuk pegang Manajer Tim Indonesia U-20, sejatinya Dodi Alex Noerdin, hanya butuh bertemu dengan ketum PSSI, Iwan Bule. Agar, ada kepastian, bahwa Tim Indonesia U-20 memang butuh manajer atau, hanya rekayasa dan akal-akalan Joko Purwoko.

    Isyarat yang disampaikan Dodi Alex Noerdin kepada Joko Purwoko, dalam dua kali pertemuan di Hotel Fairmont, Senayan, menurut mBah Coco, adalah masalah legitimasi Iwan Bule dipertaruhkan. Jangan-jangan Joko Purwoko hanya membual, menjual nama Ibul, dan hanya ingin menipu, sekaligus memeras Dodi Alex Noerdin.

    Nyatanya, Joko Purwoko mampu membuat jadwal pertemuan, antara Iwan Bule dan Dodi Alex Noerdin, Senin 6 Juli 2020, acaranya silahturahmi, makan siang di Restorant Hurricane’ Grill, serta memastikan apakah Dodi ditunjuk atau tidak sebagai Manajer Tim Indonesia U-20?

    Ada kata-kata Iwan Bule kepada Dodi Alex Noerdin, menjelang selesai makan siang. Intinya, Iwan Bule atas nama ketum PSSI, siap menurunkan surat penunjukan kepada Dodi Alex Noerdin, sebagai Manajer Tim Indonesia U-20. ‘Habis ini, ketemuan saja lagi dengan Rudy Kangdra dan Joko Purwoko,” demikian kata Iwan Bule, kepada Dodi.

    Artinya apa?

    mBah Coco, boleh dong, mengespresikan gerakan dan kata-kata Iwan Bule, bahwa Dodi harus setor uang pelicin sebagai dana persahabatan. Karena, dua pertemuan di Hotel Fairmont, 26 Juni 2020, dan dua minggu kemudian, di tempat yang sama, kamar 1509, kamarnya Rudy Kangdra yang kepalanya pitak itu, selama pelatnas Tim Indonesia U-20.

    Dalam pertemuan kedua, ada isyarat Rudy Kangdra dan Joko Purwoko, sudah membicarakan meteran, alias uang sogok kepada oknum-oknum PSSI, dengan membuka harga kisarnya Rp 30 miliar, jika berkenan dan tertarik jadi manajer Tim Indonesia U-20.

    Apa jawaban Dodi Alex Noerdin di kamar 1509 tersebut?

    Kalau menggunakan dana sogokan, dirinya nggak sanggup. Tapi, kalau untuk urusan kebutuhan pemain dan ofisial Tim Indonesia U-20, demi Merah Putih dan NKRI, saya siapkan unlimited - nggak terhingga. Tapi, nggak usah pakai uang sogokan atau suap-menyuap. “Saya tak tertarik,” demikian kata Dodi Alex Noerdin. “Saya akan bicara seperti ini, kepada pak Iwan Bule,” tambah Dodi Alex, kepada Rudy Kangdra dan Joko Purwoko.

    Namun, setelah Dodi ketemu dengan Iwan Bule, 6 Juli 2020 di Hurricane, nadanya agak mengendur. Okelah, kita akan memberi dana kepada siapa pun yang menerimanya, sejumlah Rp 2 miliar, sebagai dana persahabatan. Demikianlah, kata Dodi Alex Noerdin, kepada Rudy Kangdra dan Joko Purwoko, yang ditirukan Achmad Haris.

    Bahkan, setelah melakukan deal harga dana persahabatan, Dodi Alex yang memberikan mandat kepada Achmad Haris, satu komitmen. Nggak bisa dikasih semuanya Rp 2 miliar. Tapi, kasih separuh dulu, yaitu Rp 1 miliar. Sambil nunggu surat penunjukan dikeluarkan Iwan Bule, sebagai ketua Umum PSSI, dan Penanggungjawab Tim Indonesia U-20, yang diterjunkan ke FIFA U-20 World Cup 2021 nanti.

    Dari situ, mBah Coco berkesimpulan, bahwa Joko Purwoko dan Rudy Kandra, melakukan konspirasi; Yang pertama, minta uang sogokan alias minta disuap. Yang kedua, penipuan. Dan, Dodi Alex Noerdin, dan sekretaris pribadinya Achamd Haris, murni benar-benar sangat dirugikan.

    Kaki-tangan Iwan Bule, yaitu Joko Purwoko, Rudy Kandra dan Yunus Nusi, yang sudah membagi-bagikan dana persahabatan, sebesar 100 ribu dolar Singapura. Mencoba, semakin menjebloskan nama baik Dodi Alex Noerdin, yang kebetulan menjadi Bupati Musi Banyuasin.

    Padahal, dana 100 ribu dolar Singapura, dibagi 50 ribu dolar untuk Yunus Nusi, untuk keperluan gajian karyawan PSSI, sedangkan sisa 50 ribu dolar yang dikantongi Rudy Kangdra dan JokoPurwoko, untuk keperluan pembayaran sewa mobil pelatih korsel, Shin Tae-yong, dan juga untuk entertaint Iwan Bule.

    Yang menjadi pertanyaannya. Mengapa, surat penunjukan Dodi Reza Alex Noerdin, belum ada tanda-tanda dikeluarkan oleh Iwan Bule, lewat Yunus Nusi dan Joko Purwoko? Hasil investigasi terakhir mBah Coco. Ternyata, Rudy Kandra dan Joko Purwoko, minta dana persahabatan, sebesar Rp 4 miliar. Kalau hanya Rp 2 miliar, nggak keluar surat penunjukan. Sungguh miris, bukan?

    Di dalam Statuta PSSI yang mengacu Statuta FIFA, posisi Dodi Alex Noerdin dan Achmad Haris, dalam posisi yang dilindungi oleh FIFA. Karena, menurut FIFA, terkait dalam Code of Etics, padal 20 dan 27. Yang pasl 20, Ketua Umum PSSI, Iwan Bule dan jajarannya, yang tersangkut kasus suap menyuap, wajib di-non-aktifkan. Sedangkan, pasal 27, Iwan Bule dkk, dikenakan hukuman lima (5) tahun, tidak diperbolehkan beraktifitas di lingkungan sepak bola.

    Jadi, jika ada berita sliweran di medsos, bahwa Dodi Alex dan Achmad Haris, akan dihukum dan akan dikenakan sanksi, seperti yang diucapkan Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi, benar-benar ingin membuang alibi. Bahwa, Yunus Nusi tidak terlibat. Padahal, sesuai kata Joko Purwoko, hasil 100 ribu dolar, sebagai dana persahabatan, yang diberikan Achmad Haris, dibagi dua dengan Yunus Nusi, sama-sama mendapatkan 50 ribu dolar Singapura.

    mBah Coco, jadi teringat, kasus di Cilegon United, yang dilakukan Walikota Cilegon, yang terkena OTT KPK tahun 2018. Di mana, ada uang transfer Rp 75 juta kepada rekening Yunus Nusi. Karena, tertangkap basah, Yunus Nusi mengembalikan uangnya ke KPK. Kalau sekarang, yang 50 ribu dolar Singapura, mana bisa dikembalikan?

    Maklum, PSSI lagi bokek habis-habisan, bro...!!!!

    ---
    Penulis: mBah Coco