Teranyar

    Karena Para Lansia Perlu Didengar !

    9 July 2021 23:28
    Ingat, lansia itu memiliki tipikal berbeda satu sama lain. Ada yang mengenangkan dan selalu berpikir konstruktif. Ada yang memiliki ketergantungan. Ada yang sulit menerima masukan atau selalu defensif.
    Menjadi lansia adalah sebuah anugerah karena tidak semua dari kita akan mengalami masa itu. Tua itu pasti, menua adalah kondisi normal. Yang tidak normal itu menua dengan tubuh sakit-sakitan.

    Tadinya bisa berjalan jauh dan cepat, sekarang menjadi terengah-engah dan sangat lambat....Bahkan, mungkin kita sering bersuara sedikit kencang karena lambatnya mereka berjalan.

    Padahal, semakin menua berarti setiap orang mengalami penurunan fungsi-fungsi tubuh. Dengan begitu, risiko sakit bagi kaum lansia menjadi tinggi. Butuh dukungan banyak pihak untuk menjadikan lansia tetap sehat, terutama keluarga.

    Dan, anggota keluarga kudu bisa menerima anggota keluarga yang sudah sepuh dan bagaimana juga bisa terus memahami kondisinya, kemudian menyemangati. Karena kebahagiaan itu kudu muncul bagi lansia dan keluarganya.

    “Pasien lansia membutuhkan pelayanan yang terpadu, karena mengalami multipenyakit. Gangguan terjadi akibat penurunan fungsi," kata Dokter Lazuardhi.

    Menjadi narsum webinar di peringatan Hari Keluarga Nasional yang diinisiasi Perwakilan BKKBN Jawa Barat pada Kamis, 8 Juli 2021, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kesehatan Geriatri Fakultas Kedokteran Unpad ini meminta keluarga lansia, kudu mengajak berkomunikasi, sabar, dan bijaksana.

    Juga meminta nasihat pada lansia agar mereka merasa diakui keberadaannya. Kemudian, ajak serta lansia dalam acara keluarga. Dorong mereka untuk hidup bersih. Bantulah dalam aktivitas sehari-hari.

    "Ini penting karena dilihat dari ilmu geriatrik, sehat bukan semata-mata sehat secara fisik, melainkan juga mandiri, tetap aktif, dan produktif," jelasnya.

    Lazuradhi juga mengingatkan bahwa lansia sangat berisiko terpapar Covid-19. Ini terjadi karena pada umumnya lansia sudah terhinggapi penyakit bawaan atau komorbid. Data menunjukkan, tingkat kematian berdasarkan Covid-19 banyak dialami seseorang dengan penyakit komorbid.

    Di bagian lain, Profesor Jatie Kusmiati Kusna Pudjibudojo, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Surabaya juga mengungkapkan hal yang sama, khususnya peran-peran keluarga dalam pengasuhan lansia.

    Peran pengasuh keluarga, penting bukan saja terkait kesehatan. Lebih dari itu, pengasuh berhubungan dengan pemenuhan aspek biopsikososial. Family caregiver diperlukan guna mengurangi kemunduran perilaku, mengelola perilaku adaptif lansia, dan membantunya untuk mandiri.

    “Alasan menjadi family caregiver adalah karena kasih sayang, alasan finansial, dan kondisi sosial-budaya. Ada rasa tidak puas apabila melihat orang tua dirawat oleh orang lain. Di sinilah pentingnya peran keluarga,” ungkap Jatie.

    Ceuk profesor Jatie, perawatan lansia mencakup upaya preventif, kuratif, dan rehabilitasi. Seorang pendamping atau pengasuh lansia perlu memiliki kepekaan dan merawat dengan hati. Memiliki kemampuan empati tanpa larut bersama.

    “Ingat, lansia itu memiliki tipikal berbeda satu sama lain. Ada yang mengenangkan dan selalu berpikir konstruktif. Ada yang memiliki ketergantungan. Ada yang sulit menerima masukan atau selalu defensif.

    Malahan ada tipe permusuhan, selalu mengeluh dan menganggap negatif hal di luar dirinya. Bahkan, ada yang membenci dirinya sendiri. Kalau sudah begitu, hendaknya dibuat program disesuaikan dengan tipe lansia yang dihadapi.

    Jelasnya, lansia kudu mampu menerima dirinya, kudu mampu menjalin relasi positif, dan kudu mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Juga menguasai lingkungan, memiliki tujuan hidup, dan mengembangkan pribadi untuk menjadi sejahtera.

    “Sumber kebahagiaan letaknya bukan di luar, melainkan di dalam. Syukur dan pengampunan adalah kunci untuk merasakan bahagia. Begitu juga bagi lansia" tambah Jatie.

    "Bangunlah emosi positif sehingga merasakan kepuasan hidup. Di situlah letaknya kelegaan, kebanggaan, dan kedamaian,” papar Jatie.

    Sejalan dengan itu, nakoda Perwakilan BKKBN Jawa Barat Wahidin mengaku pihaknya memberikan perhatian besar pada lansia. Apalagi, hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan dari 48,27 juta jiwa penduduk Jawa Barat, ada 9 persen lansia. Artinya, nyaris satu dari 10 penduduk Jawa Barat adalah lansia.

    “Angka tersebut di satu sisi menunjukkan hal positif dalam hal angka harapan hidup. Namun di sisi lain, perlu juga dipersiapkan program-program untuk lansia. Sebab, hal yang diperhatikan bukan hanya kesehatan," ujar Wahidin.

    Dan, BKKBN mengembangkan program lansia tangguh yang di dalamnya meliputi dimensi spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, profesional vokasional, dan lingkungan. Program tersebut bergulir dalam sebuah wadah Bina Keluarga Lansia (BKL),” terang Wahidin.

    Karena para lansia ini perlu di dengar dan diperhatikan, juga merasa dibutuhkan. Maka bersyukurlah dengan memahami mereka, karena bakti kita ada di mereka dan kelak kita akan menerima buah manis atas perlakukan baik kita kepada mereka. (Bobotoh.id/HR -NJP)