Teranyar

    Ketika PSSI Kacau-balau, Basuki PUPR Saatnya Gantikan Iwan Bule

    8 December 2020 16:43
    Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. (Foto: PSSI)
    Versi mBah Coco, sudah terlalu banyak “dosa-dosa” Iwan Bule dan kawan-kawan.





    Daripada semua anggota klub Liga 1, 2 dan 3 diombang-ambing tak menentu nasib dan bisnisnya. Ketimbang, Iwan Bule dan kawan-kawan semakin “blo’on” mengelola organisasi olahraga tertua di Indonesia ini. Dan, nahkoda PSSI semakin amburadul dan kacau-balau yang siap karam dan tenggelam.

    Saatnya, Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR menggantikan gerbongnya Iwan Bule, yang sejak dipilih dalam Kongres PSSI, 2 November 2019, tak punya program, tak becus sebagai leadership, dan tak mampu menganyomi organisasinya. Makanya, para voters tak perlu berlama-lama, untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI.

    Versi mBah Coco, sudah terlalu banyak “dosa-dosa” Iwan Bule dan kawan-kawan. Bahkan, sudah sulit dihitung dengan jari, sejak melanggar Statuta PSSI, hingga gagal menggelar dua kali kompetisi Liga 1 dan 2 Indonesia, yang dijanjikan. Dari tanggal 1 Oktober, dan kemudian jonja-janji yang hanya manis di mulut, berani ngomong 1 November 2020.  Nyatanya, “tong kosong berbunyi nyaring”, kompetisi tak bisa digulirkan.

    Kini, masalah yang paling genting, adalah persiapan tim nasional Indonesia, yang disiapkan ke AFF Cup U-19 Championship yang akan berlangsung, di Uzbekistan 3 – 20 Maret 2021. Membuat para pemain diombang-ombang, kapan pelatnas bersama pelatihnya, Shin Tae-yong yang tidak menentu kedatangannya.

    Apakah pelatnas di Spanyol atau di Korea Selatan?

    Bisa dibayangkan, jika hanya gara-gara pengurus PSSI dibawah “kursi panas” Iwan Bule, yang kosong pengalamannya sebagai event organizer, tumpul nyalinya, dalam mengeksekusi kepastian pelatnas. Dampaknya, sangat berpengaruh kesiapan fisik dan mental pasukan ‘Garuda Muda” Indonesia.

    Jangan-jangan saat berlaga di Uzbek, Indonesia U-19 jadi bulan-bulalan lawan-lawannya? Dampaknya, juga sangat berpengaruh di depan publiknya sendiri, saat menggelar FIFA U-20 World Cup 2021 nanti.

    Sejak awal, Iwan Bule dan kawan-kawan, menurut mBah Coco sudah parah banget, ketika untuk mempersiapkan tim Indonesia U-19 (3 – 20 Maret) dan U-20 (20 Mei – 12 Juni 2021), tak malu meminta bantuan kepada pemerintah, untuk dapat anggaran. Padahal, seharusnya minta bantuan untuk persiapan event dibawah naungan FIFA itu, adalah tabu dan memalukan. Namun, justru terkesan merasa bangga, saat dapat bantuan.

    Karena, FIFA U-20 World Cup 2021 nanti, Indonesia sebagai tuan rumah, maka pemerintah Indonesia, lewat Menpora Zainuddin Amali, akhirnya dikucurkan dana Rp 55 miliar, untuk pelatnas, ujicoba dan persiapan semua pemain dan ofisial Indonesia U-20, hingga Juni 2021 nanti.

    Ini banuan terbesar sepanjang sejarah Menpora membantu cabang olahraga, sejak ada lembaga Menpora.

    Setelah anggaran didapat, Iwan Bule dengan gagahnya, menggusur Cucu Somantri, dari penanggungjawab tim Indonesia U-20. Dan, Iwan Bule menunjuk dirinya sendiri, sebagai manajer tim Indonesia U-20. Busyet dagh.....

    Pengalaman mBah Coco 35 tahun di sepak bola nasional. Jika ada yang ingin menjadi manajer tim nasional, selalu membawa “pelor”. Minimal, semua kebutuhan pemain dan ofisial, selama pelatnas dan ujicoba di mana saja, mampu mengeluarkan dana dari kantongnya, atau dari usahanya mencari dana.

    Lha ini, Iwan Bule nggak punya duwit, nggak mua keluarkan duwit, dan nggak bisa cari duwit, tapi berambisidan ngotot jadi manajer tim.

    Menurut mBah Coco, budaya jelek banget ini, tidak bisa dibiarkan berlama-lama dalam organisasi PSSI dibawah komando Iwan Bule. Oleh sebab itu, mBah Coco menawarkan dan memilih Basuki Hadimuljono, untuk segera dipilih oleh para pemilik suara (voters) yang berjumlah sekitar 80-an.

    Pemilik suara (voters) yang terdiri dari 34 Asprov, 18 klub Liga 1, 24 klub Liga 2 dan asosiasi pelatih, pemain, wasit, futsal dan wanita, saatnya bersikap untuk segera menggelar KLB PSSI.

    Agar, organisasi PSSI yang baru nanti, benar-benar solid dan punya wibawa. Bukan sebagai “pengemis” seperti saat ini.

    Basuki Hadimulyono, menurut mBah Coco, adalah sosok yang gila bola dan gila musik, namun tak punya ambisi jadi orang terkenal. Menteri PUPR asal Semarang ini, juga dinilai oleh para pengusaha nasional, adalah pekerja keras, jujur dan selalu berkomitmen. Sulit diajak kong-ka-li-kong, serta terbiasa membangun infrastruktur dengan elegan.

    Basuki akan sangat tertarik dengan usulan mBah Coco, disaat ranking Indonesia di mata FIFA masih pancet di angka 173 dari 212 anggota FIFA. Maka, alangkah baiknya, PSSI tak perlu mengutamakan prestasi tim nasional dalam sepuluh tahun ke depan. Atau ngotot persiapkan timnas, punya target ke event-event internasional.

    Tapi, menomorsatukan membangun insfrastuktur dan membangun sistem pembinaan sepak bola moderen.

    Basuki, juga sangat realistis, bahwa sepak bola itu butuh proses yang sangat panjang tak berujung. Oleh sebab itu, mumpung Indonesia tidak digubris di dalam pergaulan dunia, karena peringkatnya hanya 173. Saatnya, berbenah dan berjalan dari awal “TITIK NOL”, alias mulai dari awal. Seolah-olah PSSI baru lahir.

    Basuki Hadimuljono, menurut mBah Coco, punya cara-cara menterjemahkan Inpres No 3, yang ditandatangani Jokowi, 25 Januari 2019, dalam menterjemahkan Percepatan Membangun Infrastuktur Persepakbolaan Nasional, ketimbang Iwan Bule dan kawan-kawan, yang hanya petentang-petenteng doang. 

    Inpres No 3, menurut mBah Coco adalah solusi membangun infrastuktur dan membangun prestasi puncak tim nasional Indonesia, yang digagas Jokowi. Sayangnya, nggak dianggap oleh Iwan Bule dan kawan-kawan. Buat mBah Coco, organisasi PSSI sangat ceroboh, ketika sudah dikasih “hadiha” dari negara, tapi tak dijalankan.

    Oleh sebab itu, artikel mBah Coco ini, ingin menggugah para pemilik suara, jangan “tidur” terlalu lama, jangan mau diombang-ambing, jangan pernah percaya jonja-janji Iwan Bule dan kawan-kawan, yang sejak 2 November 2019, yang tak berbuat apa-apa. Melainkan justru merugikan, pemilik suara, pemilik klub, suporter dan pencinta bola nasional.

    Saatnya, berkumpul, berdiskusi dan membuat taktik dan strategi, agar permintaan KLB PSSI, memenuhi quorum, yaitu 2/3 dari 82 pemilik suara, segera dideklarasi. Dan, jangan lagi mengulang kongres-kongres sebelumnya, para pemilik suara hanya cari THR dan uang recehan.

    Calon pemimpin PSSI yang dianalisis mBah Coco, sudah punya kredebilitas, punya legitimasi, dan mampu membangun infrastruktur dan mampu menggalang dana. Tujuannya hanya satu, memanjakan semua kepentingan organisasi dan pemilik klub. Sedangkan, Iwan Bule saat ini, hanya merugikan, kemudian merugikan lagi, dan lama-lama melecehkan para voters.

    Bijimane?

    Catatan :

    Mudah-mudahan, artikel ini, tidak dilaporkan Polda Metro Jaya, karena mencemarkan nama baik.


    ---

    Penulis: mBah Coco