Teranyar

    Ketika PSSI Memelihara Kebodohan Secara Permanen: Mau Pelatnas atau Piknik?

    7 December 2020 18:30
    Timnas U-19 Indonesia. (Foto: PSSI)
    Menurut mBah Coco, pelatnas di Spanyol, terkesan mau piknik.





    Sepakbola Indonesia, yang dipimpin Iwan Bule dan kawan-kawan, lagi-lagi membangun prespektif sepak bola nasional, masih nabrak-nabrak. Bahkan, versi mBah Coco terkesan tidak cerdas, kalau tidak mau dikatakan bodoh. Mengapa?

    Bisa dibayangkan, saat para pemain “young guns” yang diterjunkan ke FF U-19 Championship, di Uzbekistan, 3 – 20 Maret 2021, terkesan masih sesuai keinginan PSSI, bukan keinginan pelatihnya, Shin Tae-yong.

    Sampai artikel ini diturunkan, plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi masih ngoceh, bahwa pelatnas Desember 2020 sampai menjelang berangkat ke putaran final Piala Asia U-19, akan dilaksanakan di Spanyol.

    Menurut mBah Coco, pelatnas di Spanyol, terkesan mau piknik. Dan, tidak menjalankan pelatnas secara serius. Pemerintah Jokowi, yang mengucurkan dananya, perlu mempertanyakan progres pelatnas Indonesia U-19 di Spanyol. Karena, sejak pembentukan tim Indonesia U-19, semua anggaran dari pemerintah, cq Menpora Zainuddin Amali.

    Apakah PSSI paham? Bahwa tiga minggu ke depan, sepak bola Spanyol, khususnya La Liga 2020 – 21 nanti, banyak jadwal yang super padat. Baik kompetisi La Liga, atau pun La Liga U-19. Hampir mirip, dengan Premier League yang punya “Boxing Day”, di mana, sehari setelah Natalan, selalu ada partai-partai bergengsi. Bahkan, tanggal 31 Desember 2020, dan 2 Januari 2021, sudah ada jadwal.

    Bukan hanya masalah jadwal La Liga Spanyol dan U-19. Menurut mBah Coco, cuaca di Eropa, pada bulan Desember 2020 hingga Januari 2021 nanti, selalu dipenuhi salju. Dan, tidak elok jika melakukan pelatnas di cuaca yang selalu penuh salju. Artinya, PSSI seharusnya mengikuti keinginan Shin Tae-yong. Karena, Shin Tae-yong, yang paham dan punya program, bagaimana caranya pasukan Garuda Muda, mampu mencapai “peak perfomance”-nya di Uzbekistan. Bukan, malahan maunya pengurus PSSI.

    Apakah PSSI mengetahui, sistem dan konsep permainan yang diinginkan Shin Tae-yong? Apakah PSSI mengatur Shin Tae-yong, atau hanya mengikuti keinganan Shin Tae-yong? Apakah PSSI punya informasi, bahwa selama di Spanyol, ada turnamen U-19? Apakah PSSI hanya sekadar ingin cari uang dari pemerintah, tapi tak peduli Indonesia U-19 sukses atau gagal? Apakah efektif pelatnas di Spanyol di musim dingin banget?

    Ieu Rame Bob: KABAR TERBARU DIOGO FERREIRA: PELATIH KLUB TERSUKSES DIVISI 2 AUSTRALIA!

    Masih ingat, saat bulan September – Oktober 2020 lalu. Shin Tae-yong, selalu meminta PSSI untuk bisa melakukan pelatnas di Korea Selatan. Pasalnya, kondisi dan pergaulan Shin Tae-yong di lingkungan sepak bola Korea, sudah sangat katham. Sehingga, untuk mencari lawan-lawan ujicoba, tak sulit. Nyatanya, PSSI paksakan pelatnas di Kroasia.

    Namun, PSSI ngotot, agar Indonesia U-19 tetap diajak ke Kroasia. Di mana, semua turnamen-turnamen bukan seharusnya diikuti oleh pasukan Garuda Muda. Namun, terkesan dipaksakan. Buntutnya, pemerintah Indonesia harus turun tangan, khususnya masalah tiket kepulangan pasukan Shin Tae-yong, digugat oleh pemerintah Kroasia. Jangan-jangan, PSSI punya “calo” untuk ngurus Indonesia U-19, setiap ada pelatnas?

    Manajemen yang super amburadul PSSI, terlihat saat Indonesia U-19 berangkat ke Kroasia, tak punya tiket pulang ke Indonesia. Sehingga, pihak Menteri Luar Negeri Indonesia dan Kroasia harus kordinasi. Imigrasi Kroasi dan Indonesia, harus berkomunikasi, bahwa pemerintah Indonesia menjamin, kepulangan Indonesia U-19 pada saatnya nanti, walaupun tidak punya tiket pulang ke Indonesia. Kasihan pemain dibawa ke luar negeri, terkesan mirin imigran gelap.

    Ini benar-benar sontoloyo, ceroboh dan tidak siap dan profesional. Bayangkan, mosok PSSI tak punya tim khusus, yang ngurus masalah transportasi dan akomodasi sebuah tim, yang mewakili atas nama Indonesia. Sekali lagi, atas nama Indonesia. Bukan atas nama para “calo-calo” yang berkeliaran di kantor PSSI.

    Tapi, mBah Coco memaklumi. Karena, plt Sekjen Yunus Nusi tak bisa bahasa Inggris, sedangkan wakil sekjen, Maaike Ira Puspita, yang kebetulan keponakan Iwan Bule, juga sangat pas-pasan dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Dampaknya, kepentingan dan komunikasi, dengan induk organisasi yang menaungi sepak bola dunia – FIFA, akhirnya kacau-balau.

    Kesimpulan mBah Coco, para pengambil keputusan di PSSI, seperti Iwan Bule, Indra Sjafri dan jajaran pengurusnya, terkesan hanya ingin piknik ke Spanyol, di musim dingin. Bukan, menomorsatukan kepentingan dan pilihan pelatih Indonesia U-19, Shin Tae-yong. 

    Saran mBah Coco, Menpora Zainuddin Amali, harus mengundang Iwan Bule, Indra Sjafri dan Shin Tae-yong. Menpora juga wajib mengundang semua jajarannya, agar mengetahui dengan pasti.

    Apa faedahnya setiap memilih negara, untuk melakukan pelatnas? Menpora, sebagai wakil pemerintah Jokowi, dan memberi anggaran pelatnas Rp 55 miliar sampai Mei – Juni 2021 nanti, harus mengutamakan dan menomorsatukan keinginan Shin Tae-yong, ketimbang keinginan Iwan Bule dan kawan-kawan, yang terkesan hanya ingin piknik.

    Bijimane?

    ---
    Penulis: mBah Coco